<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539</id><updated>2012-01-29T21:07:18.532-08:00</updated><category term='Jansen Sinamo satu dari 100 Indonesia&apos;s Best Educators of the Year versi majalah  Campus Asia'/><category term='Ngopi Bareng Jansen Sinamo (2)'/><category term='Guru Etos Bicara tentang Mahagurunya'/><category term='Ngopi Bareng Jansen Sinamo (1)'/><category term='Nongkrong di Kafe Etos'/><category term='Tongkat Inspirasi'/><category term='Farewell Party untuk Om Pendeta'/><category term='Anak Sukarame Masuk TV'/><category term='Membangun Indonesia dengan Etos Kerja Profesional'/><category term='Cerita Biasa di Lepau Oh La La'/><category term='Sesama Bangsa Berdosa Dilarang Saling Mengutuk'/><category term='Andai Guru Etos jadi Bupati Dairi'/><category term='Ngopi Bareng Jansen Sinamo (3)'/><category term='Air Mata Etos'/><category term='God Loves Stories'/><title type='text'>Candid  Talks with</title><subtitle type='html'>Jansen Sinamo</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-2456163026966359292</id><published>2010-03-02T21:12:00.000-08:00</published><updated>2010-03-02T21:17:28.500-08:00</updated><title type='text'>Candid Talks With Jansen Sinamo kini pindah ke www.8etos.com</title><content type='html'>Pembaca, blog Candid Talks with Jansen Sinamo ini tidak akan diupdate lagi dan kini Anda dapat mengikuti info tentang Jansen Sinamo, Guru Etos Indonesia di &lt;a href="http://8etos.com"&gt;www.8etos.com.&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-2456163026966359292?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/2456163026966359292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=2456163026966359292' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/2456163026966359292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/2456163026966359292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2010/03/candid-talks-with-jansen-sinamo-kini.html' title='Candid Talks With Jansen Sinamo kini pindah ke www.8etos.com'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-952254895296484892</id><published>2010-01-28T18:51:00.000-08:00</published><updated>2010-01-29T00:19:32.091-08:00</updated><title type='text'>Laporan dari Seminar Akbar 'Etos Pro Gaji'</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S2JQkormN7I/AAAAAAAAA9k/W80AdsdMUTM/s1600-h/seminar+etos+pro.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S2JQkormN7I/AAAAAAAAA9k/W80AdsdMUTM/s320/seminar+etos+pro.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431992690888030130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Faith will move mountains&lt;/span&gt;, kata pepatah Inggris. Dan keyakinan semacam itu terpancar  dari wajah 150 orang lebih hadirin di Ball Room hotel Twin Plaza, Jakarta, pada 27 Januari lalu, ketika menyambut  Mr. ‘Etos’ Jansen Sinamo membuka Seminar Akbar bertajuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ETOS PRO GAJI: Bagaimana Meningkatkan Etos Kerja, Produktivitas, dan Keadilannya dengan Penggajia&lt;/span&gt;n. Seminar itu menampilkan tiga pembicara yang sudah dikenal luas di bidang pengembangan sumber daya manusia dan ketenaga kerjaan.  Selain Mr. Ethos Jansen Sinamo yang oleh majalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Campus Asia&lt;/span&gt; dijuluki sebagai satu dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Indonesia’s 100 Best Educator&lt;/span&gt;,  berbicara pula Prof. Dr. Payaman Simanjuntak, salah seorang pakar ketenagakerjaan yang berpengalaman puluhan tahun di birokrasi dan pengambilan kebijakan. Selain itu tampil pula Ir. Sanggam  Sanggam Purba MM,  praktisi dan pakar kebijakan ketenagakerjaan.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S2JQD-PTrtI/AAAAAAAAA9c/ZfVNyI8ZGpo/s1600-h/seminar+etos+pro2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S2JQD-PTrtI/AAAAAAAAA9c/ZfVNyI8ZGpo/s320/seminar+etos+pro2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431992129739271890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan seminar tersebut, oleh Jansen Sinamo juga dijadikan peresmian dan perkenalan Institut Pengembangan Etos Kerja dan Produktivitas Indonesia (IPEKPRINDO). Institut ini merupakan kolaborasi tiga tokoh tersebut: Payaman Simanjuntak, Sanggam Purba dan Jansen Sinamo dalam mematangkan sinergi antara ETOS dan PRODUKTIVITAS dalam berbagai level. Antara lain dalam bentuk piranti lunak yang disebut ETOS PRO GAJI, yakni alat ukur yang memadukan parameter produktivitas dan ETOS ke dalam sistem penggajian dalam organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Budaya Produktif seporos dan setangkup dengan Etos Kerja,” kata Jansen dalam makalahnya. (Klik di &lt;a href="http://jansen-sinamo-pieces-of-thought.blogspot.com/2010/01/budaya-produktif-etos-kerja-dan-daya.html"&gt;sini&lt;/a&gt; untuk membaca makalah selengkapnya). Menurut dia, sebagaimana telah ditemukan oleh berbagai studi yang kredibel di berbagai belahan dunia, Etos Kerja adalah sumber utama bagi produktivitas. Ia mencontohkan, Etos Bisnis akan menghasilkan Produktivitas Ekonomi, Etos Keguruan menghasilkan Produktivitas Pendidikan, Etos Akademik menghasilkan Produktivitas Ilmiah, Etos Kedokteran menghasilkan Produktivitas Kesehatan dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jansen menambahkan, produktivitas  berada pada tiga level yakni level personal, organisasional, dan nasional. Dan  pada level mana pun hal itu diwacanakan, kata dia, peningkatatan produktivitas demi memperkuat daya saing harus melibatkan setidaknya enam langkah. Diantaranya adalah manajemen Etos Kerja dan Produktivitas yang diintegrasikan ke dalam sistem manajemen korporat semestawi. Jansen Sinamo juga tak bosan-bosannya memperkenalkan dan menyegarkan pemahaman hadirin tentang apa yang dia maksud dengan  Etos Kerja. Yaknii spirit, ruh, semangat, dan mentalitas yang mewujud menjadi seperangkat perilaku kerja yang positif seperti: rajin, hemat, bersemangat, teliti, tekun, ulet, sabar, akuntabel, responsibel, berintegritas, menghargai waktu, menghargai pengetahuan, kreatif, inovatif, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sesi pertama, Prof. Dr. Payaman Simanjuntak mengelaborasi makalahnya yang bertajuk  Sistem Pengupahan berdasarkan Produktivitas. Menurut Payaman, Dalam kondisi perekonomian  yang terus berfluktuasi, perlu disusun sistem pengupahan yang bersifat fleksibel. Pada saat perusahaan memperoleh keuntungan besar, keuntungan itu dibagi dan dinikmati secara adil oleh pengusaha dan pekerja.  Sebaliknya bila perusahaan mengalami kerugian,  kerugian itupun haruslah ditanggung bersama oleh pengusaha dan seluruh pekerja dengan kesediaan menerima upah yang lebih kecil.  Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.  “ Inilah salah satu esensi dari prinsip kebersamaan dan kekeluargaan dalam Hubungan Industrial Pancasila,“ kata Payaman. Klik di &lt;a href="http://jansen-sinamo-pieces-of-thought.blogspot.com/2010/01/sistem-pengupahan-berdasarkan.html"&gt;sini&lt;/a&gt; untuk membaca makalah Payaman selengkapnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Payaman, agar sistem pengupahan yang fleksibel dimaksud efektif, harus dikaitkan dengan produktivitas. Itu lah yang dia sebut sebagai sistem pengupahan berdasarkan produktivitas, yakni sistem pemberian upah kepada pekerja sesuai dengan produktivitas masing-masing pekerja atau kelompok pekerja dan kondisi perusahaan.  Kondisi dan produktivitas perusahaan dipengaruhi oleh produktivitas masing-masing pekerja. Sehingga bila produktivitas masing-masing pekerja secara keseluruhan meningkat,  produktivitas perusahaan akan meningkat pula. Bila produktivitas perusahaan  meningkat, maka perusahaan patut meningkatkan upah. Dengan kata lain, pada saat kondisi perusahaan cerah, karyawan patut menerima upah tinggi.  Sebaliknya pada saat perusahaan lesu karena produktivitas pekerja pada umumnya menurun, maka upah wajar diturunkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ir. Sanggam Purba MM pada giliran selanjutnya memaparkan kajiannya yang berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Produktivitas Dikaitkan dengan Penggajian.&lt;/span&gt; (Untuk membaca selengkapnya makalah Sanggam,&lt;a href="http://jansen-sinamo-pieces-of-thought.blogspot.com/2010/01/produktivitas-dikaitkan-dengan.html"&gt; klik&lt;/a&gt; di sini). Sanggam menguraikan landasan teoritis serta langkah-langkah teknis pengaitan produktivitas dengan penggajian. Lebih lanjut, pengaitan produktivitas dan penggajian yang tampak sedikit rumit, pada akhirnya dapat menjadi sederhana dengan adanya piranti lunak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Etos Pro Gaji&lt;/span&gt; yang diperkenalkan sekaligus ddemonstrasikan pada seminar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengaitkan produktivitas dan gaji, hal mendasar pada piranti lunak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Etos Pro Gaji&lt;/span&gt; ini adalah diintegrasikannya parameter-parameter Etos ke dalam penggajian, bersama-sama dengan parameter produktivitas. Dengan demikian melalui piranti lunak ini sistem penggajian didekati secara holistik, mencakup unsur-unsur soft skill dan hard skill pekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Jansen Sinamo sendiri, sinergi tiga serangkai ini merupakan salah satu batu penjuru bagi pengembangan Etos di masa depan. Menurut Jansen, melalui pendirian IPEKPRINDO, dirinya merasa makin memiliki motivasi yang besar untuk melebarkan sayap Etos sebagai fundasi bagi pengembangan karier para individu insan-insan Indonesia, mau pun sebagai landasan pengembangan karakter dan produktivitas bangsa. Selain melalui IPEKPRINDO, Jansen sudah terlebih dulu dikenal sebagai trainer dan Guru Etos melalui Institut Darma Mahardika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pengembangan etos kerja harus dilaksanakan dalam konteks pendidikan dan pelatihan manajemen dalam arti seluas-luasnya untuk memperoleh keterampilan organisasional bermutu tinggi bagi seluruh warga organisasi,” kata Jansen. Ini, kata dia, harus dilakukan mulai dari tingkat negara, birokrasi, dunia bisnis, dunia pendidikan, bahkan semua jenis organisasi dalam masyarakat. Dengan demikian semua organisasi, besar-kecil, swasta-pemerintah, prolaba-nirlaba, berkembang ke arah profesionalisme yang semakin tinggi dengan basis pengetahuan dan pembelajaran yang berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(selesai)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Makalah lengkap yang ditampilkan pada link mungkin tidak sempurna sehubungan dengan keterbatasan menampilkan grafik dan model matematis. Jika Anda mempunyai pertanyaan mengenai hal tersebut, kontak Institut Pengembangan Etos dan Produktivitas Indonesia (IPEKPRINDO) atau Institut Darma Mahardika di 021-480 1514; Faks: 021-480 0429&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-952254895296484892?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/952254895296484892/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=952254895296484892' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/952254895296484892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/952254895296484892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2010/01/laporan-dari-seminar-akbar-etos-pro.html' title='Laporan dari Seminar Akbar &apos;Etos Pro Gaji&apos;'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/S2JQkormN7I/AAAAAAAAA9k/W80AdsdMUTM/s72-c/seminar+etos+pro.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-7933714758221305440</id><published>2009-12-11T05:33:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T05:39:23.906-08:00</updated><title type='text'>Seminar Akbar Mengawali 2010</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SyJLdnZj36I/AAAAAAAAA6E/H0pdX0BfZzE/s1600-h/uang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 157px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SyJLdnZj36I/AAAAAAAAA6E/H0pdX0BfZzE/s200/uang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413972674217238434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tunda Kenaikan Gaji Sebelum Mengikuti yang Satu ini&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEMINAR ETOS PRO GAJI&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Meningkatkan Etos Kerja, Produktivitas, dan Keadilannya dengan Penggajian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balai Agung Betawi, Hotel Santika Jakarta; Rabu, 27 Januari 2010; Jam 08.00 – 17.00 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pasal 88 dan 92 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, penggajian di Republik ini harus dikaitkan dengan produktivitas perusahaan dan karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu produktivitas harus bisa diukur: produktivitas perusahaan, produktivitas kelompok, dan produktivitas individual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bila gaji dan kesejahteraan karyawan hendak ditingkatkan secara berkeadilan, maka produktivitas organisasi harus dinaikkan lebih dahulu, yang harus diawali dengan perbaikan etos kerja, serta implementasi sistem dan proses manajemen yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminar ini membahas strategi peningkatan etos kerja profesional di tingkat organisasi, bagaimana meningkatkan dan mengukur produktivitas perusahaan dan karyawan, serta teknik menghitung dampaknya terhadap besaran gaji secara berkeadilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian maka kebijakan kenaikan gaji menjadi jelas setelah mengikuti seminar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  PEMBICARA&lt;br /&gt;  1.        Prof. DR. Payaman Simanjuntak – Begawan Ketenagakerjaan Indonesia&lt;br /&gt;  2.        Mr. Ethos Jansen H. Sinamo – Guru Etos Indonesia, Penulis 8 Etos Kerja Profesional &lt;br /&gt;3. Ir. Sanggam Purba, MM – Pakar Produktivitas, Depnakertrans RI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-7933714758221305440?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/7933714758221305440/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=7933714758221305440' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/7933714758221305440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/7933714758221305440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2009/12/seminar-akbar-mengawali-2010.html' title='Seminar Akbar Mengawali 2010'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SyJLdnZj36I/AAAAAAAAA6E/H0pdX0BfZzE/s72-c/uang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-8475238759376923368</id><published>2009-12-01T01:23:00.000-08:00</published><updated>2009-12-01T01:38:25.171-08:00</updated><title type='text'>Seminar Akbar 'ETOS' Mengawali 2010</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SxTjMqjmWkI/AAAAAAAAA50/ng9S7bb6HFo/s1600/employees.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SxTjMqjmWkI/AAAAAAAAA50/ng9S7bb6HFo/s200/employees.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410198859100346946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Tunda Kenaikan Gaji Sebelum Mengikuti Seminar Ini&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;ETOS PRO GAJI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bagaimana Meningkatkan Etos Kerja, Produktivitas, dan Keadilannya dengan Penggajian&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Balai Agung Betawi, Hotel Santika Jakarta; Rabu, 27 Januari 2010; Jam 08.00 – 19.00 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Tujuan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pasal 88 dan 92 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, penggajian di republik ini harus dikaitkan dengan produktivitas perusahaan dan karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu produktivitas harus bisa diukur: produktivitas perusahaan, produktivitas kelompok, dan produktivitas individual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bila gaji dan kesejahteraan karyawan hendak ditingkatkan secara berkeadilan, maka produktivitas organisasi harus dinaikkan lebih dahulu, yang diawali dengan perbaikan etos kerja, dan implementasi sistem manajemen yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminar ini membahas strategi peningkatan etos kerja profesional di tingkat organisasi, bagaimana meningkatkan dan mengukur produktivitas perusahaan dan karyawan, serta teknik menghitung dampaknya terhadap besaran gaji secara berkeadilan. Dengan demikian maka kebijakan kenaikan gaji menjadi jelas setelah mengikuti seminar ini.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Peserta &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pejabat pada Lembaga-lembaga Pemerintah&lt;br /&gt;Pengusaha dan Direksi Perusahaan&lt;br /&gt;Manajer SDM/Personalia/Produksi/Pemasaran/Keuangan&lt;br /&gt;Staf Ahli pada Bagian SDM/Personalia/ Produksi/Pemasaran/Keuangan&lt;br /&gt;Pimpinan Serikat Pekerja&lt;br /&gt;Pemerhati Ketenagakerjaan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Topik Bahasan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1.Overview: Etos Kerja dan Sistem Manajemen di Jepang dan Amerika&lt;br /&gt;2.Etos Kerja Indonesia: 8 Etos Kerja Profesional&lt;br /&gt;3.Strategi Meningkatkan Etos Kerja Profesional dalam Perusahaan&lt;br /&gt;4.Etos dan Peningkatkan Produktivitas Karyawan&lt;br /&gt;5.Teknik dan Perkakas Pengukuran Produktivitas&lt;br /&gt;6.Prinsip dan Teknik Menghitung Dampak Produktivitas terhadap Gaji&lt;br /&gt;7.Demo: Software Etos-Produktivitas-Gaji&lt;br /&gt;8.Contoh-contoh Kasus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembicara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1.Prof. DR. Payaman Simanjuntak – Begawan Ketenagakerjaan Indonesia&lt;br /&gt;2.Mr. Ethos Jansen H. Sinamo – Guru Etos Indonesia, Penulis 8 Etos Kerja Profesional &lt;br /&gt;3.Ir. Sanggam Purba, MM – Pakar Produktivitas, Depnakertrans RI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya&lt;br /&gt;Rp. 1.250.000,-/per orang (5 orang atau lebih dari satu perusahaan)  &lt;br /&gt;Rp. 1.450.000,-/per orang (2-4 orang dari satu perusahaan)  &lt;br /&gt;Rp. 1.750.000,-/per orang (1 orang dari satu perusahaan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi dan Pendaftaran: 021-4801514 dan 0811-940-709. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembayaran ditransfer ke BCA Cabang Kelapa Gading a/c 065 301 7542 a/n PT Spirit Mahardika. Bukti transfer difax ke 021 4800 429. Mendaftar sebelum 10 Januari 2010 dapat diskon 10% untuk semua kategori.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-8475238759376923368?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/8475238759376923368/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=8475238759376923368' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/8475238759376923368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/8475238759376923368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2009/12/seminar-akbar-etos-mengawali-2010.html' title='Seminar Akbar &apos;ETOS&apos; Mengawali 2010'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SxTjMqjmWkI/AAAAAAAAA50/ng9S7bb6HFo/s72-c/employees.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-9030265961757522289</id><published>2009-11-11T22:37:00.000-08:00</published><updated>2009-11-11T22:42:25.818-08:00</updated><title type='text'>Membangun Budaya Produktif dan Etos Kerja untuk Memperkuat Kemandirian dan Ketahanan Ekonomi Bangsa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SvuuPWh0QcI/AAAAAAAAA3k/sb6WRRDzp8s/s1600-h/productivity-button.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 142px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SvuuPWh0QcI/AAAAAAAAA3k/sb6WRRDzp8s/s200/productivity-button.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403103756729729474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;OLEH  JANSEN H SINAMO&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Disampaikan pada Konferensi Gerakan Produktivitas Nasional&lt;br /&gt;10 November 2009, Hotel Bidakara, Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya Produktif saya rumuskan sebagai totalitas kesadaran, pikiran, perasaan, sikap, dan keyakinan yang mendasari, menggerakkan, mengarahkan, dan memberi arti pada perilaku dan proses produktif dalam suatu sistem produksi baik yang bersifat ekono-bisnis, tekno-industrial, dan sosio-politik dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Budaya Produktif berlangsung dalam konteks kerja, artinya pada setiap peristiwa kerja di dalam ruang kerja (entah itu kerja yang bersifat ekono-bisnis, tekno-industrial, atau sosio-politik) dengan melibatkan seluruh etos kerja para pekerja itu bersama perkakas, sistem, dan manajemen kerja mereka. &lt;br /&gt;Etos Kerja saya rumuskan sebagai spirit, semangat, dan mentalitas yang mewujud menjadi seperangkat perilaku kerja yang positif seperti: rajin, bersemangat, teliti, tekun, ulet, sabar, akuntabel, responsibel, berintegritas, hemat, menghargai waktu, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Budaya Produktif seporos dan setangkup dengan Etos Kerja seperti ditunjukkan oleh studi manajemen dan sosiologi, yaitu bahwa Etos Kerja adalah faktor utama bagi Produktivitas. Menggunakan simbol matematis, hubungan keduanya adalah: P = f(EK), artinya produktivitas adalah fungsi etos kerja, sehingga kita bisa mengatakan:&lt;br /&gt; Etos Politik bertanggung jawab terhadap Produktivitas Politik&lt;br /&gt; Etos Bisnis bertanggung jawab terhadap Produktivitas Ekonomi&lt;br /&gt; Etos Akademik bertanggung jawab terhadap Produktivitas Ilmiah&lt;br /&gt; Etos Keguruan bertanggung jawab terhadap Produktivitas Pendidikan&lt;br /&gt; Etos Kehakiman bertanggung jawab terhadap Produktivitas Keadilan&lt;br /&gt; Etos Birokrasi bertanggung jawab terhadap Produktivitas Pelayanan Publik&lt;br /&gt; Etos Kedokteran bertanggung jawab terhadap Produktivitas Kesehatan&lt;br /&gt;Dan secara ultimat:&lt;br /&gt; Etos Indonesia bertanggung jawab terhadap Produktivitas Nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang produktivitas bisa kita bicarakan di tiga level: personal, organisasional, dan nasional, tetapi pada level manapun ia dikaji, peningkatatan produktivitas demi kemandirian, ketahanan, dan daya saing sistem produktif itu haruslah melibatkan hal-hal berikut ini:&lt;br /&gt;1. Adanya program penyadaran, sosialisasi, dan kampanye nasional: secara berkala dan terus menerus.&lt;br /&gt;2. Hadirnya dukungan dan keteladanan dari lapisan pimpinan puncak, pada setiap strata dan eselon, dari yang tertinggi hingga terendah.&lt;br /&gt;3. Budaya produktif ini harus diterjemahkan menjadi berbagai entitas produktivitas yang lebih membumi seperti UU dan PP tentang produktivitas, sistem manajemen produktif, teknik-teknik produktivitas, software pengukuran produktivitas, sistem pengupahan berbasis produktivitas, dan sebagainya.&lt;br /&gt;4. Ada pengukuran; dilakukan penghitungan atas kemajuan dan peningkatan yang terjadi. Untuk itu diperlukan semacam ‘etosmeter’ sebagai perkakas pengukur ketinggian etos kerja seseorang atau satu organisasi; yang bisa dibayangkan sama pentingnya dengan ‘termometer’ atau ‘tensimeter’ dalam manajemen suhu tubuh dan tekanan darah manusia.&lt;br /&gt;5. Diberi “reward and punishment” yang adil, jelas, dan tegas.&lt;br /&gt;6. Manajemen etos kerja dan produktivitas di atas diintegrasikan ke dalam sistem manajemen korporat (rekrutmen, seleksi, operasi, evaluasi kinerja, remunerasi, promosi, dsb.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;Membangun Indonesia dengan Etos Kerja Profesional&lt;br /&gt;(Diolah dari buku Delapan Etos Kerja Profesional hal. 297-310 oleh Jansen H. Sinamo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda seorang manajer, eksekutif, atau pemimpin sebuah oeganisasi, maukah anda memiliki SDM yang dicirikan oleh perilaku kerja berikut ini: (1) Mampu bekerja tulus penuh rasa syukur dan keikhlasan. (2) Sanggup bekerja tuntas penuh integritas dan kejujuran. (3) Mau bekerja benar penuh tanggung jawab dan akuntabilitas. (4) Bisa bekerja keras penuh semangat dan antusiasme. (5) Dapat bekerja serius penuh kecintaan dan pengabdian.  (6) Senang bekerja kreatif penuh sukacita dan inovasi. (7) Selalu bekerja unggul penuh ketekunan dan kualitas.  (8) Senatiasa bekerja paripurna penuh kesungguhan dan kerendahan hati. &lt;br /&gt;Apa jawaban anda? &lt;br /&gt;Sebelum menjawabnya, izinkanlah saya menebak. Anda kira-kira berkata begini, saya duga, “Bung Jansen Sinamo ini gila juga, ideal banget, mana mungkin di dunia nyata, apalagi di Indonesia.” &lt;br /&gt;Jika tebakan saya benar, saya tidak menyalahkan anda. Malahan, itu bukti bahwa anda sangat normal. Maksud saya, realita dunia kerja sebagaimana adanya anda pahami dengan baik. Perilaku kerja di atas memang ideal, bahkan terkesan utopis.&lt;br /&gt;Tetapi, tunggu dulu. Bila dipikirkan lebih jauh, saya kira anda pun setuju bahwa semua perilaku kerja di atas sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh setiap organisasi—swasta maupun negara, prolaba maupun nirlaba—agar bisa eksis, sintas berkiprah, dan berjaya di dunia yang terglobalisasikan sekarang ini, zaman yang kita sebut juga sebagai era digital global. &lt;br /&gt;Memang, boleh saja SDM kita membokongi semua kualitas di atas, tetapi organisasi dengan SDM bermutu rendah akan tergilas habis oleh kompetisi, lalu  terpinggirkan, kemudian tergusur dari gelanggang permainan. Itu pertama. &lt;br /&gt;Kedua, semua guru sukses pada intinya mengajarkan bahwa keberhasilan adalah buah perilaku kerja yang positif. Di sini, saya tampilkan pendapat tiga guru saja. &lt;br /&gt;Pertama, Napoleon Hill, dalam buku legendaris Think and Grow Rich (1960), menyimpulkan bahwa jika seseorang ingin meraih kekayaan material maka ia harus memiliki kualitas berikut (1) Keinginan besar untuk berhasil. (2) Yakin bahwa sukses adalah haknya (3) Yakin pada kekuatan doa (4) Daya imajinasi yang kuat (5) Daya pikir yang tajam (6) Intuisi yang tajam (7) Sikap mental positif yang ditopang oleh otosugesti yang efektif (8) Pengetahuan khusus yang mendalam (9) Perencanaan yang matang dan teliti (10) Kemampuan membuat keputusan yang jitu (11) Ketabahan menghadapi berbagai kegagalan (12) Kemampuan mengerahkan emosi positif (13) Kemampuan mengubah energi seksual menjadi energi kerja (14) Kemampuan mengelola enam ketakutan: takut miskin, takut sakit, takut dibenci, takut dikritik, takut tua, dan takut mati. &lt;br /&gt;Kedua, Stephen R Covey dalam buku tenar The Seven Habits of Highly Effective People (1989) menemukan adanya tujuh kebiasaan manusia efektif, yaitu: (1) Senantiasa proaktif (2) Memulai sesuatu dari akhirnya (3) Mengutamakan hal-hal yang utama (4) Berpikir win-win (5) Berusaha memahami dahulu agar dipahami (6) Bekerja dengan sinergi (7). Senantiasa memperbarui dan mempertajam diri.&lt;br /&gt;Ketiga, John Wareham dalam buku hebat The Anatomy of Great Executives (1991) mengatakan bahwa seorang eksekutif akan sukses jika memiliki: (1) Kemampuan menampilkan persona diri yang tepat (2) Kemampuan mengelola energi diri yang baik (3) Sistem nilai pribadi dan kontak-kontak batiniah yang jelas (4) Sasaran hidup yang tersurat maupun tersirat secara jelas (5) Kecerdasan (6) Kebiasaaan kerja yang baik (7) Keterampilan antarmanusia yang baik (8) Kemampuan adaptasi dan kedewasaan emosional (9) Pola kepribadian yang tepat dengan tuntutan pekerjaan (10) Kesesuaian antara tahap dan arah kehidupan dengan harapan gaya hidup. &lt;br /&gt;Kesimpulannya jelas: untuk meraih sukses harus ada sikap mental unggul , a superior state of mind, yang mewujud menjadi perilaku kerja yang ideal. &lt;br /&gt;Ini di tingkat personal. Di tingkat organisasional, agar berhasil, diperlukan seperangkat perilaku organisasi yang ideal pula. Saya tampilkan kesimpulan tiga guru lainnya. &lt;br /&gt;Pertama, Tom Peters dalam bukunya Thriving On Chaos (1987) mengemukakan, agar bisa sukses, sebuah organisasi harus mampu: (1) Responsif terhadap kebutuhan pelanggan (2) Berinovasi dengan cepat (3) Memberdayakan seluruh jajaran SDM (4) Menampilkan kepemimpinan pada setiap eselon organisasi (5) Membangun sistem yang lebih otonom dan terdesentralisasikan. &lt;br /&gt;Kedua, Collins &amp; Porras dalam buku best-seller Built to Last (1997) mengatakan bahwa sebuah organisasi akan mampu mencapai sukses signifikan jika ia memiliki: (1) Arsitektur organisasi yang dinamis (2) Mampu mengelola kenyataan yang paradoks (3) Ideologi bisnis yang kuat (4) Sasaran-sasaran dan target-target yang agung (5) Keteguhan sekaligus fleksibilitas (6) Budaya kerja yang dihayati secara fanatik (7) Daya inovasi yang kreatif (8) Sistem pembangunan SDM dari dalam (9) Orientasi mutu pada kesempurnaan (10) Kemampuan untuk terus belajar dan berubah secara damai. &lt;br /&gt;Ketiga, Jeremy &amp; Tony Hope dalam bukunya Competing in the Third Wave (1997) mengemukakan, agar organisasi mempunyai daya saing tinggi sehingga bisa tampil sebagai pemenang, ia harus sanggup menjalankan sepuluh hal berikut ini: (1) Membangun dan menjalankan strategi bisnis yang jitu (2) Menampilkan sajian nilai pelanggan yang bermutu tinggi (3) Berkompetisi dengan basis informasi dan pengetahuan (4) Sistem manajemen yang berbasis pada jaringan dan proses (5) Menemukan fokus pasar yang paling menguntungkan (6) Mengelola organisasi dan bukan mengelola angka-angka (7) Menyeimbangkan kontrol dan pemberdayaan (8) Mengelola asset intelektual (9) Meningkatkan produktivitas berdasarkan nilai tambah (10) Menjalankan proses adaptasi dan transformasi. &lt;br /&gt;Mempelajari konsep guru-guru sukses di atas—yang mereka peroleh melalui studi dan riset mendalam—bisa disimpulkan bahwa perilaku kerja yang ideal, bagaimanapun komposisinya, merupakan sebuah keniscayaan bagi orang atau organisasi yang ingin sintas, sukses, dan berjaya.&lt;br /&gt;Kembali ke pertanyaan saya di awal: bila anda seorang manajer, eksekutif, atau pemimpin, apakah anda ingin mempunyai SDM yang dicirikan oleh delapan set perilaku kerja positif tadi? Saya kira, jawaban anda sudah lebih positif sekarang.&lt;br /&gt;Persoalannya tentu, bagaimana caranya agar bisa memiliki SDM dengan perilaku kerja seindah itu? Saya jawab dengan pendek: bangunlah etos kerja profesional pada semua eselon organisasi anda, tanpa kecuali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukses Personal, Organisasional, dan Sosial&lt;br /&gt;Studi bertahun-tahun tentang kunci sukses akhirnya membawa saya pada kesimpulan tegas: etos kerja adalah akar semua keberhasilan, baik di tingkat personal, organisasional, maupun sosial. &lt;br /&gt;Untuk memahaminya, saya mengajak anda meninjau konsep keberhasilan pada tiga tingkatan itu. Di atas, secara ringkas, saya sudah perkenalkan dua kelompok tokoh penggagas kunci sukses. Kelompok pertama, Napoleon Hill, Stephen R Covey, dan John Wareham. Kelompok kedua, Tom Peters, Collins &amp; Porras, serta Jeremy &amp; Tony Hope. Sebenarnya, ribuan orang sudah menulis puluhan ribu buku tentang kiat, prinsip, hukum, kaidah, asas, atau kunci keberhasilan. Saya memilih enam orang saja untuk mewakili dua kelompok tersebut.&lt;br /&gt;Apa beda keduanya? &lt;br /&gt;Bedanya, kelompok pertama memfokuskan studi mereka pada ranah personal, artinya kunci-kunci sukses yang mereka gagas ditujukan untuk membangun sukses individual. Sedangkan kelompok kedua memfokuskan studi mereka pada ranah organisasional, artinya kunci-kunci sukses yang mereka gagas ditujukan untuk membangun sukses organo-manajerial, terutama perusahaan. &lt;br /&gt;Tetapi, di tingkat yang lebih luas, kita juga membutuhkan kunci-kunci sukses pada ranah sosial, yaitu gagasan konseptual untuk memajukan suatu masyarakat, suku bangsa, dan bahkan negara. Ketiganya penting difahami secara tuntas serta kemudian diintegrasikan dan disinergikan, karena sebenarnya manusia hidup pada ketiga tingkat itu secara serentak dan sekaligus: personal, organisasional, dan sosial.&lt;br /&gt;Etos kerja—akan saya tunjukkan segera—merupakan kunci sukses yang sangat unik, karena ia sekaligus sanggup menjadi fundamen keberhasilan pada ketiga ranah itu. &lt;br /&gt;Tetapi meskipun sangat unik, dan karena itu istimewa, perlu segera saya tegaskan bahwa etos kerja bukan satu-satunya kunci sukses. Yang benar, etos kerja adalah pondasinya. Etos kerja adalah pondasi keberhasilan. Etos kerja adalah akar kesuksesan. Dengan kata lain, etos kerja merupakan sebuah syarat perlu (necessary condition) tetapi belum merupakan syarat cukup (sufficient condition).&lt;br /&gt;Etos kerja sebagai kunci sukses, sejauh ini merupakan kajian sosiologi, dan karenanya terkesan hanya relevan untuk keberhasilan sosial saja. Tetapi saya berpendapat, hal ini tidak benar. Salah satu tujuan saya menulis buku Delapan Etos ialah untuk membawa konsep etos kerja turun dari wilayah sosial menukik ke ruang organo-manajerial serta ke ranah individual. Dengan demikian, etos kerja akan bisa tampil secara lebih luas, tidak saja di ruang-ruang kuliah sosiologi, tetapi juga di ruang-ruang rapat eksekutif dan ruang-ruang perenungan pribadi orang-orang yang ingin naik ke orbit sukses yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Schumacher Tentang Sukses Negara&lt;br /&gt;Seorang tokoh sukses di tingkat negara adalah E. F. Schumacher (1911-1977) yang terkenal, antara lain, karena judul bukunya yang puitis: Small Is Beautiful (1973). Lebih spesifik, Schumacher dikenal sebagai penganjur strategi pembangunan ekonomi secara gradual, dari kecil menuju besar, perlahan seiring dengan kemajuan pengetahuan dan disiplin masyarakat, termasuk institusi ekonomi pendukungnya. Intisari pikiran Schumacher dapat kita simak dari kutipan berikut ini:&lt;br /&gt;Saya yakin bahwa dari berbagai sebab kemiskinan, faktor-faktor material—seperti kekurangan sumber daya alam, modal, dan prasarana—hanya merupakan sebab sekunder saja. Sebab primernya adalah kekurangan di bidang pendidikan, organisasi dan disiplin.&lt;br /&gt;Pembangunan tidak dimulai dengan barang, tetapi dimulai dengan manusia: pendidikannya, organisasinya, dan disiplinnya. Tanpa ketiga komponen ini, semua sumberdaya tetap terpendam, tak dapat dimanfaatkan, dan tetap merupakan potensi belaka.&lt;br /&gt;Adanya negara-negara yang makmur walaupun kekayaan alamnya sangat sedikit, membuktikan betapa pentingnya ketiga komponen yang tidak kelihatan tersebut. Hal ini lebih nyata kelihatan sesudah Perang Dunia II. Betapapun hebatnya kehancuran yang dialami akibat perang tersebut, namun negara-negara dengan tingkat pendidikan, organisasi, dan disiplin yang tinggi kemudian mampu menciptakan keajaiban ekonomi.&lt;br /&gt;Tetapi sebenarnya hal ini hanya ajaib bagi orang yang hanya melihat puncak gunung esnya saja. Puncaknya barangkali hancur, tetapi badan gunung itu—pendidikan, organisasi, dan disiplinnya—tetap masih utuh. &lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schumacher menolak strategi pembangunan lompat katak. Menurutnya, modal utama pembangunan adalah SDM, bukan sumber daya material atau finansial. Dua yang terakhir ini bersifat sekunder. Tetapi SDM itu primer. Dan membangun SDM tidak mungkin secara lompat katak. Hanya bisa gradual dan kontinual saja.&lt;br /&gt;Tetapi pemikiran Schumacher ini diabaikan orang di negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Pada zaman Orde Baru, Indonesia lebih suka menggunakan teori lepas landas dengan mengadakan lompatan-lompatan pembangunan secara spektakuler. Tetapi terbukti kemudian, tanpa dukungan etos kerja SDM bermutu tinggi serta kualitas profesionalisme organisasi di segala lini, Indonesia akhirnya terjungkal ke ngarai utang raksasa disertai berbagai krisis dan tragedi.&lt;br /&gt;Sekali lagi, SDM adalah kunci utama. Satu inti kualitas SDM yang disebut Schumacher ialah disiplin. Dan, jika disiplin dalam badan gunung es Schumacher saya rampatkan menjadi etos kerja, maka tiga komponen sukses yang tidak kelihatan itu akan tampak seperti gunung es yang 90% tubuhnya tersembunyi di dalam samudera.&lt;br /&gt;1. Pendidikan: Dalam komponen ini termasuk segala jenis pengetahuan, ilmu, teori, prinsip, kaidah, pedoman, konsep, ide, gagasan, paradigma, beserta kiat-kiat teknisnya; baik yang diperoleh lewat pembelajaran formal, nonformal, maupun informal.&lt;br /&gt;2. Keterampilan Organisasional: Dalam komponen ini termasuk semua bentuk kemampuan mengelola organisasi seperti keterampilan perencanaan, eksekusi, pengendalian, pengoordinasian, pemecahan masalah, dan evaluasi untuk perbaikan. Juga, termasuk seluruh talenta kepemimpinan seperti visi, teknik pemberdayaan, komunikasi, inspirasi, dan motivasi. Pokoknya semua keterampilan organisasional yang umumnya berbasis pada kelompok ilmu manajemen dan ilmu organisasi.&lt;br /&gt;3. Etos Kerja: Dalam komponen ini termasuk semua jenis perilaku kerja seperti disiplin, efisiensi diri, komitmen, keuletan, hemat, giat, tabah, ramah, kreatif, positif, inovatif, imajinatif, efektif, proaktif, kerja keras, antusias, integritas, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Ketiga komponen utama di atas memang tidak kelihatan. Semuanya berada dalam diri manusia yang tersimpan dalam berbagai bentuk kompetensi, keahlian, dan kemampuan insani operasional. Dan apabila ketiganya digunakan di dalam dan melalui kerja, ia akan keluar dalam bentuk kinerja, prestasi, dan produksi.&lt;br /&gt;Inilah sesungguhnya yang disebut SDM, tepatnya sumber daya yang tersimpan dalam diri manusia, yang dapat digunakan menghasilkan apa saja yang dihendaki manusia.&lt;br /&gt;Hasil khusus dari pemanfaatan ketiga jenis sumber daya manusia di atas adalah barang-barang material dalam berbagai bentuk dan fungsi, seperti kursi, meja, gedung, pabrik, irigasi, jalan raya, lapangan terbang, mesin-mesin, alat-alat transportasi, sistem telekomunikasi, jejaring komputer, dan lain-lain. &lt;br /&gt;Pada tingkat selanjutnya, dengan menggunakan SDM ini, kita akan mampu mengolah benda-benda material yang telah ada—dalam bentuk kekayaan alam asli maupun hasil-hasil olahan kerja tingkat pertama—menjadi barang-barang material lain yang memiliki nilai tambah lebih tinggi melalui serangkaian proses aksi dan produksi. Oleh karenanya, sekali lagi, barang-barang material memang berfungsi sebagai komponen sukses sekunder. &lt;br /&gt;Semua barang material ini bersifat kasat mata, riil, terukur, serta bisa dipindah-pindahkan, dipertukarkan, atau diperjualbelikan dengan perantaraan alat tukar yang kita sebut uang. Di sini, selain berfungsi sebagai modal sekunder, uang juga kemudian berfungsi sebagai bentuk transformasi dan akumulasi dari barang-barang material itu, sekaligus menjadi ukuran kinerja atas kemampuan memanfaatkan SDM bersama sumber-sumber daya lainnya. &lt;br /&gt;Dengan demikian, teori Schumacher di atas sekarang dapat saya modifikasi sebagai berikut. &lt;br /&gt;Pertama, istilah disiplin saya rampatkan menjadi etos kerja seperti telah dijelaskan sebelumnya. Perampatan ini dapat diterima karena disiplin hanyalah salah satu dari sejumlah perilaku positif yang menunjang sukses seperti hemat, tekun, efisien, rajin dan sebagainya. Kelompok perilaku ini memang lazim disebut etos kerja.&lt;br /&gt;Kedua, saya telah mempertajam istilah organisasi menjadi keterampilan organisasional. Penajaman ini pun dapat diterima karena memang itulah yang tersirat dalam kalimat Schumacher, “Pembangunan tidak dimulai dengan barang, tetapi dimulai dengan manusia: pendidikannya, organisasinya, dan disiplinnya.” Jelas, organisasi tidak mungkin berada dalam diri manusia, tetapi sebaliknyalah. Sudah pasti, yang dimaksudnya dengan organisasi adalah keterampilan organisasional.&lt;br /&gt;Ketiga, saya telah mengubah urutan komponen sukses Schumacher menjadi: disiplin, pengetahuan, dan organisasi; atau dalam rumusan baru saya menjadi: etos kerja, pengetahuan, dan keterampilan organisasional. Urutan ini penting karena menjelaskan elemen mana yang lebih fundamental dibandingkan dengan elemen lainnya.&lt;br /&gt;Menurut saya, etos kerja adalah elemen paling primer. Menggunakan ilustrasi baru, ibarat sebatang pohon, maka etos kerja adalah akarnya, pengetahuan adalah batangnya, berbagai keterampilan organisasional adalah cabang dan rantingnya, sedangkan uang dan berbagai barang material adalah buah-buahnya. &lt;br /&gt;Jadi, dengan etos kerja yang kuat (akar yang baik) orang bisa membangun dan meningkatkan pengetahuannya (batang). Berbasis pada pengetahuan, ditopang oleh etos kerja yang baik, keterampilan organisasional pun bisa dibangun (cabang dan ranting). Dan dari ketiga komponen inilah kemudian dihasilkan kinerja yang membuahkan berbagai jenis barang material maupun jasa komersial.&lt;br /&gt;Saya tegaskan bahwa urutan ini tidak bisa dibalik. Artinya tanpa ketiga komponen primer itu, kinerja dan buah-buah materialnya tidak akan muncul. Tanpa etos kerja dan pengetahuan, keterampilan tidak bisa dibangun. Dan tanpa etos kerja yang kuat, pengetahuan pun tidak mungkin diperoleh. Jadi benarlah bahwa etos kerja memang merupakan komponen sukses primer, yaitu yang paling fundamental.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Seperti dijelaskan di depan, etos kerja--meskipun merupakan elemen primer--ternyata tidak bisa membawa sukses signifikan apabila pengetahuan dan keterampilan organisasional tidak berkembang secara proporsional. Pendapat ini didukung oleh tesis Mohamad Sobary dalam buku Kesalehan dan Tingkah Laku Ekonomi (1999). Di situ, Sobary mengutip penelitian Clifford Geertz atas kelompok dagang kelas menengah di Mojokuto, Jawa Timur. Dijelaskannya, dengan etos kerja santri yang mereka miliki, kelompok pengusaha Muslim memang berhasil menjadi wong dagang yang cukup berhasil, yaitu menjadi kelas menengah di Mojokuto. Tetapi keberhasilan lebih lanjut ternyata tidak bisa berkembang. Keberhasilan mereka seolah-olah membentur langit-langit seperti dilukiskan oleh Sobary berikut ini:&lt;br /&gt;Namun kemajuan perekonomian Mojokuto tidak berkembang tanpa masalah. Geertz memperlihatkan kelompok pengusaha Muslim tidak kekurangan modal, juga memiliki pangsa pasar yang memadai, juga memiliki semangat yang cukup besar, karena seperti telah kita lihat, kelompok ini memiliki apa yang di Barat disebut sebagai etos Protestan yaitu hemat, rajin, dan bebas.&lt;br /&gt;Yang tidak dimiliki oleh pedagang Muslim Pembaru ini di akhir tahun 1950-an pada dasarnya ada dua hal: kemampuan memobilisasi modal dan kemampuan untuk membentuk lembaga-lembaga ekonomi. Pendeknya, mereka tidak memiliki dukungan organisasional dan struktural. Mereka,— menurut Geertz—adalah pengusaha tanpa perusahaan.&lt;br /&gt;Jadi, etos kerja yang baik tanpa diimbangi pengetahuan yang memadai (misalnya, apa produk yang digemari pasar, apa hambatan memajukan usaha, siapa pesaing-pesaing di pasar, dan sebagainya) dan keterampilan organo-manajerial (misalnya, bagaimana membentuk lembaga-lembaga ekonomi, bagaimana memobilisasi modal, bagaimana menjalankan perusahaan secara efisien, dan sebagainya), maka sukses komersial yang mungkin dicapai akan sangat terbatas.&lt;br /&gt;Sobary mencatat bahwa kasus Mojokuto juga terbukti di tempat lain. Misalnya di Aceh melalui penelitian Siegel dan di Kudus melalui penelitian Castles. Penelitian Sobary sendiri di desa Suralaya atas masyarakat Betawi yang menjadi pokok bahasan bukunya, juga menghasilkan kesimpulan yang sama: mereka tidak memiliki cukup pengetahuan dan keterampilan manajemen, serta gagal mengembangkan organisasi bisnis modern sebagaimana saudara mereka di Barat seperti dikisahkan Max Weber dalam karya monumentalnya The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism (1958). &lt;br /&gt;Apabila etos kerja awal tadi tidak mampu menghasilkan sukses yang lebih tinggi karena dua kekurangan tersebut, dalam konteks persaingan dengan kelompok lain mereka akan kalah bersaing dengan kelompok lainnya, yang pada giliran selanjutnya membawa akibat lebih fatal, yaitu melemahnya etos kerja mereka secara perlahan-lahan. Apa-lagi ditambah dengan faktor-faktor sosial-politik yang tidak menguntungkan—seperti dicatat Sobary—, maka proses pelemahan itu pun berjalan lebih cepat. &lt;br /&gt;Mereka juga gagal dalam persaingan dengan kolompok etnik Cina. Kegagalan mereka ini adalah kegagalan politik dan sosial, bukan ekonomi. Etos kelas menengah yang berada dalam diri pengusaha-pengusaha ini telah menjadi lemah. &lt;br /&gt;Penjelasan ini masuk akal. Jika orang sudah bekerja dengan rajin, jujur dan bersikap hemat, tetapi hasilnya tidak seberapa, bahkan kemudian kalah bersaing dengan tetangganya, secara tidak fair pula, maka semangat kerjanya akan merosot, yang pada gilirannya melemahkan etos kerja yang awalnya lumayan baik. &lt;br /&gt;Dan tampaknya itulah yang terjadi di Mojokuto, Aceh, Kudus, dan Suralaya. Tidak berlebihan menduga bahwa hal ini terjadi secara merata di seluruh Indonesia mengingat di masa Orde Baru struktur perekonomian negeri ini dibangun secara distorsif dengan ketidakadilan sistematik bagi rakyat kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga Strategi Baru Buat Indonesia&lt;br /&gt;Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Saya mengusulkan tiga strategi besar yang harus diambil serentak. &lt;br /&gt;Strategi pertama, kondisi sosial politik sebagai lingkungan makro bagi tumbuh kembangnya organisasi dan lembaga-lembaga ekonomi masyarakat harus ditata secara positif, sehingga bebas dari distorsi yang sarat kolusi dan korupsi. Pada dasarnya inilah yang hendak diusahakan oleh gerakan reformasi di Indonesia dengan memaksa mundur Presiden Suharto, melaksanakan Pemilu jujur adil tahun 1999, dan membentuk pemerintahan baru sesudahnya. Cita-cita reformasi adalah penyelenggaraan pemerintahan yang jujur dan bersih, pengembangan demokrasi, pemberdayaan masyarakat, menegakkan kepastian hukum, menjunjung tinggi hak asasi manusia untuk menciptakan masyarakat madani di alam Indonesia Baru. Saya pribadi meyakini alam reformasilah yang sesuai untuk tujuan menumbuhkembangkan organisasi dan lembaga-lembaga ekonomi nasional yang sanggup bermitra, bahkan bersaing dengan negara-negara lain.&lt;br /&gt;Stategi kedua, etos kerja baru harus disosialisasikan dan dikaitkan secara tegas dengan upaya peningkatan ilmu dan pengetahuan masyarakat di segala bidang. Untuk itu predikat sebagai orang berilmu, berpengetahuan, atau orang pandai harus menjadi bagian integral dari visi sukses itu sendiri. Bersekolah dan belajar harus menjadi aspirasi masyarakat secara merata. Meraih gelar keilmuan setinggi-tingginya harus menjadi cita-cita baru bagi masyarakat. Dengan demikian etos kerja dan etos belajar difungsikan menjadi basis motivasi untuk meraih sukses di segala bidang. Dan dengan ini pula masyarakat akan berkembang menjadi masyarakat yang cerdas dan berpengetahuan. Yang harus dicegah ialah pemberhalaan gelar-gelar keilmuan yang tampak mencolok beberapa tahun belakangan ini, dimana gelar-gelar setingkat master dan doktor diperjualbelikan tanpa malu. Para pembeli gelar mengidap sakit jiwa karena mereka dengan bangganya mengenakan gelar-gelar mentereng tetapi hampa bobot. Di pihak lain, para penjual gelar juga kehabisan akal kreatifnya, sehingga demi uang mereka rela menistakan gelar-gelar yang penuh kehormatan itu. Bukan itu yang kita perlukan. Yang kita cari adalah kebanggaan sehat karena prestasi keilmuan yang sejati sehingga patut menyandang gelar yang berbobot pula.&lt;br /&gt;Strategi ketiga, pengembangan etos kerja harus dilaksanakan dalam konteks pendidikan dan pelatihan manajemen dalam arti seluas-luasnya untuk memperoleh keterampilan organisasional bermutu tinggi bagi seluruh warga organisasi. Ini harus dilakukan mulai dari tingkat negara, birokrasi, dunia bisnis, dunia pendidikan, bahkan semua jenis organisasi dalam masyarakat. Dengan demikian semua organisasi, besar-kecil, swasta-pemerintah, prolaba-nirlaba, berkembang ke arah profesionalisme yang semakin tinggi dengan basis pengetahuan dan pembelajaran yang berkesinambungan. Intinya adalah proses pengembangan mutu SDM dalam organisasi dan masyarakat secara luas. Di sini, pengembangan pribadi, pengembangan organisasi, dan pengembangan sosial berlangsung secara simultan dan saling mendukung sehingga efek sinergi pengembangan masyarakat akan terjadi secara besar-besaran.&lt;br /&gt;BIODATA&lt;br /&gt; Nama Lengkap  : Jansen Hulman Sinamo&lt;br /&gt; Tempat/Tgl. Lahir : Sidikalang, 2 Juli 1958&lt;br /&gt; Status Keluarga  : Menikah dan dikarunia 2 anak&lt;br /&gt; Pendidikan Formal : Sarjana Fisika - ITB Bandung (Lulus 1983)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Kerja&lt;br /&gt; 2000 – 2009: Institut Mahardika, PT Spirit Mahardika (Direktur)&lt;br /&gt; 1997 – 1999: Omni Leadership (Direktur)&lt;br /&gt; 1988 – 1996: Dale Carnegie Training, PT Dasindo Media (Managing Executive)&lt;br /&gt; 1986 – 1987: World Vision International Indonesia (MIS Manager)&lt;br /&gt; 1983 – 1985: PT Matra Delta, PT Horizon Indonesia (Seismic Engineer)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Mengajar&lt;br /&gt; Dosen Etika (1984-1989), ITB Bandung&lt;br /&gt; Dosen Negosiasi Bisnis (1992-1996), MM-IPB Bogor.&lt;br /&gt; Membawakan pelatihan, seminar, da lokakarya bisnis kepada hampir semua jenis industri dan grup usaha di Indonesia, diantaranya: American Express, BASF, BCA, Caltex (Chevron), Astra Group, Kalbe Group, Sinar Mas Group, Lippo Group, Rodamas Group, Konimex Group, Tunas Group, Salim Group, Ometraco Group, Gajah Tunggal Group, XL; termasuk BUMN seperti Telkom,Indosat, Jiwasraya, BNI, BRI, Bank Mandiri, Jamsostek, PTPN, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku&lt;br /&gt; Berselancar di Atas Gelombang Perubahan&lt;br /&gt; Delapan Etos Kerja Profesional&lt;br /&gt; Kafe Etos&lt;br /&gt; Kepemimpinan Visioner Kepemimpinan Kredibel&lt;br /&gt; Mengubah Pasir Menjadi Mutiara&lt;br /&gt; Strategi Adaptif Abad 21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modul Pelatihan&lt;br /&gt; Dynamic Selling Skills, Human Excellence, Human Resources&lt;br /&gt; Leadership Training for Managers, Manager Plus&lt;br /&gt; Professional Work Ethos&lt;br /&gt; Salesmanship Training, Superior Customer Service&lt;br /&gt; Superior Motivation, Supervisor Plus, Systematic Innovation&lt;br /&gt; Teambuilding, Training for Trainers&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak&lt;br /&gt; Kantor: Jln Pulogebang Permai G-11/12 – Jakarta 13950&lt;br /&gt; Email: guruetos@cbn.net.id&lt;br /&gt; Tel 021-4801514; Fax 021-4800429; HP 0811-940-709&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-9030265961757522289?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/9030265961757522289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=9030265961757522289' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/9030265961757522289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/9030265961757522289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2009/11/membangun-budaya-produktif-dan-etos.html' title='Membangun Budaya Produktif dan Etos Kerja untuk Memperkuat Kemandirian dan Ketahanan Ekonomi Bangsa'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SvuuPWh0QcI/AAAAAAAAA3k/sb6WRRDzp8s/s72-c/productivity-button.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-4447985448408405335</id><published>2009-11-04T17:34:00.000-08:00</published><updated>2009-11-04T17:41:41.455-08:00</updated><title type='text'>Manusia, Kota, dan Etos Pembangunan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SvItN5EuqfI/AAAAAAAAA3c/7DVU8N08j4U/s1600-h/new_york_city.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 151px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SvItN5EuqfI/AAAAAAAAA3c/7DVU8N08j4U/s200/new_york_city.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5400428619852851698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh JANSEN H. SINAMO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Disampaikan pada seminar internasional Knowledge City: Spirit, Character, and Manifestation, Danau Toba Convention Hall, Medan, 13-14 November 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;To change life, we must first change space.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;-- Henri Lefebvre, French writer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Homo sapiens sudah jadi spesies unggul sejak 40.000 tahun yang silam tetapi kota sebagai bentuk organisasi sosial baru muncul kurang dari 10.000 tahun yang lalu. Sebelum itu, manusia hidup sebagai kelompok-kelompok nomaden yang terus bergerak sebagai pemburu dan pengumpul hasil-hasil alam untuk makanan mereka. Kelompok-kelompok manusia itu tidak memiliki pemukiman tetap karena mereka belum sanggup melumbungkan surplus makanan secara memadai. Hidup mereka sangat marjinal: bertahan hari lepas hari melulu oleh kemurahan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun selepas era itu, di berbagai wilayah dunia, gejala kota akhirnya muncul juga ketika jumlah anggota kelompok-kelompok nomaden itu semakin bertambah dan mulai bermukim. Hal ini dimungkinkan oleh tiga faktor: ketersediaan pangan di wilayah itu, bertambah baiknya pengorganisasian kerja di dalam kelompok-kelompok tersebut, dan berkembangnya pertukaran komoditas atau perdagangan antarkelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketersediaan pangan di berbagai wilayah yang disebut di atas bisa terjadi karena iklim Bumi semakin hangat. Sesudan zaman es terakhir -– diperkirakan usai sekitar 13.000 tahun silam -– tanah terus menghangat sehingga tumbuhan baru bermunculan, khususnya berbagai jenis tanaman pangan. Inilah awal zaman pertanian. Lumbung-lumbung dibangun untuk menampung surplus pangan. Hewan-hewan liar dijinakkan dan diternakkan, terutama kambing, domba, kuda, kerbau, dan sapi. Teknologi pengolahan tanah pun berkembang dengan memanfaatkan tenaga hewan-hewan tersebut. Semua itu menyumbang terhadap surplus pangan lebih lanjut. Akibatnya, pemukiman semakin berkembang dan semakin terjamin. Jumlah penduduk bertambah karena semakin cukupnya makanan, dan ragam pekerjaan non-petani bertambah pula seperti seniman, ahli bangunan, ahli irigasi, berbagai jenis tukang, pedagang, dan lain-lain. Singkatnya, proto-kota pun lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diversifikasi sosial juga muncul. Lahirlah kelas elit: para penakluk, kaum bangsawan, dan agamawan yang memerintah dan menentukan tata kehidupan bersama dalam kelompok. Mereka menjadi kelas penguasa atas kaum tani, penata irigasi, gembala, pedagang, tukang, dan seniman. Demi keperluan hidup bersama dan kelanggengan kelas penguasa itu dibangun dan diperkenalkanlah bangunan-bangunan publik, tata upacara dan peribadatan, alat tukar, sistem perpajakan, dan metoda akumulasi kekayaan. Pasar pun lahir. Perdagangan pun marak. Kota pun kian berkembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksara juga ditemukan, demikian pula ilmu hitung dan ilmu ukur yang dipakai dalam perdagangan, pembangunan irigasi, pertukangan, dan pembangunan kota. Ilmu-ilmu prediktif juga muncul untuk menentukan musim tanam, musim panen, hari-hari raya, dan saat untuk berperang. Lahir pula ekspresi seni dalam arsitektur kota dan bangunan-bangunan publik. Maka kota pun semakin ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kota Yeriko muncul di wilayah Palestina yang sekarang sekitar tahun 7000 SM yang tumbuh dari desa menjadi kota dengan sekitar 3.000 penduduk. &lt;br /&gt;Antara tahun 4000-3500 SM kota besar pertama dengan populasi sekitar 25.000 muncul di wilayah Mesopotamia, di lembah sungai Tigris dan Eufrat: Babel dan Ninive. Dua kota itu sudah berkubu. Rumah-rumah dibangun dengan batu-bata yang terbuat dari lempung yang dibakar. Meski jalan-jalannya naik-turun-berkelok, sempit, dan tanpa perkerasan yang memadai, alat angkut beroda sudah dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Mesir, di sepanjang lembah sungai Nil, kota sudah ada sejak tahun 3300 SM seperti Tmn-Hor, Tell al-Rub, Pr-Bastet, Hwt-ka-Ptah, To-She, Akhetaten, dan Kemet. Tetapi dunia lebih tahu tentang piramida-piramida Mesir daripada kota-kota kuno di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di India ada dua kota utama, Harappa dan Mohenjo-Daro, yang muncul sekitar tahun 2500 SM. Jalan-jalannya lurus sehingga membentuk blok-blok pemukiman berbentuk segi empat. Sistem pembuangan sampah dan air limbah sudah dikenal. Inilah kota pertama yang menunjukkan tanda-tanda pembangunan berencana. Barat kota menjadi pusat religius, politik, dan pendidikan. Petani tinggal di luar tembok kota di dekat perladangan. Kelompok miskin menempati pinggir kota tetapi masih berada di dalam tembok. Pedagang dan seniman tinggal di dekat pusat kota, sedangkan bangsawan, agamawan, dan punggawa kerajaan menempati wilayah pusat kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Yunani, kota muncul pada sekitar tahun 2000 SM seperti Sparta, Thebes, Argos, Delphi, dan Olympia. Athena jadi kota utama sekitar tahun 800 SM. Struktur kotanya berbentuk lingkaran. Jalan-jalannya berpangkal dari pusat dan memencar keluar secara radial. Bagian-bagian kota juga memencar dari pusat sehingga setiap kelompok penduduk tinggal dengan jarak yang sama dari pusat kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Cina kota muncul antara tahun 2000-1500 SM seperti Chang'an, Fanyang, Jiankang, Lingzhou, Xiangyang, Yinxu, dan Zhaoge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Roma dibangun antara 700-600 SM. Kelak, ketika kekaisaran Romawi semakin berjaya Roma pun menjadi kota internasional pertama di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika Tengah -- Meksiko, Guatemala, Honduras, dan El Salvador -- kota-kota mulai muncul sekitar tahun 200 SM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Eropa kota-kota bermunculan sejak abad ke-4 dan satu per satu menjadi kota industri mulai abad ke-18. Inilah permulaan kota-kota modern yang kita kenal sekarang. Sesudah itu, gejala desa yang mengalami proses kotanisasi merambah dengan cepat ke seluruh dunia. Dan urbanisasi pun menjadi sebuah gejala global. Dewasa ini dunia telah memiliki ratusan kota raksasa: metropolitan dan megapolitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Raja, Kota Tuhan&lt;br /&gt;Tidak banyak kota yang diketahui siapa arsitek pembangunannya? Hal ini wajar sebab fenomena kota sebenarnya lebih masuk akal difahami sebagai fenomena “emergence” dimana pemukiman kecil berubah menjadi desa, berkembang perlahan-lahan, dan akhirnya menjadi kota; dan bukan fenomena arsitektur, dimana seorang arsitek agung merancang, merencanakan, dan membangun sebuah kota dari nol sampai selesai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, ada kekecualian. Tradisi menyebutkan kota Babel dibangun oleh Sargon, seorang raja yang hidup sekitar abad ke-24 SM. Neo Babel dibangun -- mungkin lebih tepat diperluas dan ditata ulang -- oleh raja Nebukadnezar (630-562 SM). Kitab Daniel dalam Perjanjian Lama mencatatnya sebagai berikut: “Semuanya itu terjadi atas raja Nebukadnezar; sebab setelah lewat dua belas bulan, ketika ia sedang berjalan-jalan di atas istana raja di Babel, berkatalah raja: “Bukankah ini Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legenda juga menyebutkan Roma dibangun oleh Romulus dan menjadikannya sebagai ibukota kerajaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan yang lebih dapat dipertanggungjawabkan adalah kota-kota yang dibangun oleh Iskandar Agung (Alexander the Great: 356-323 SM) dalam ekspedisi penaklukannya selama sebelas tahun mulai dari Makedonia sampai ke Mesir melintasi Asia Barat hingga ke India bagian timur. Di setiap wilayah Alexander meletakkan rancangan, memulai pembangunan, atau menata ulang kota yang ditaklukkannya sesuai dengan gaya dan selera seni dan arsitektur Yunani. Kota-kota yang dikaitkan dengan jenderal akbar ini antara lain Alexandria (Mesir), Iskandiriyah (Irak), Alexandria Asiana (Iran), Alexandria Ariana (Afganistan), Kandahar (Afghanistan), Alexandria Bucephalous (Pakistan), Alexandria Eschate (Tajikistan), dan Iskenderun (Turki).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota-kota kuno yang dibangun oleh atau atas perintah seorang raja mempunyai fungsi yang mirip: sebagai lumbung kekayaan, pusat kekuasaan, dan lambang kemuliaan, bahkan sebagai kota Tuhan. Babel atau Babylon misalnya, nama kota itu berasal dari bahasa Akkad, babilu, yang berarti gerbang para dewa. Dalam konsep kuno, raja dianggap sebagai representasi Tuhan, bahkan titisan Tuhan. Maka kota raja juga berarti kota Tuhan. Vatikan, Mekah, dan Yerusalem sampai hari ini tetap disebut kota suci (milik Tuhan) bagi para pemeluk teguh agama-agama samawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, tidak banyak kota-kota kuno itu yang bisa bertahan hingga kini. Tiga kota yang disebut belakangan adalah sedikit yang menjadi kekecualian. Kebanyakan telah runtuh dan terbenam dalam timbunan debu tebal dari abad ke abad sehingga hanya para arkeolog saja yang mampu merekonstruksinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem utama kota-kota kuno hingga akhirnya ditinggalkan penduduknya, lalu kosong, dan menjadi reruntuhan adalah buruknya sanitasi. Tumpukan sampah dan limpasan air limbah jadi sumber berbagai penyakit menular dan menjadi epidemi yang membinasakan warganya. Selain itu, api yang tidak bisa dikontrol kemudian marak menjadi kebakaran besar sehingga menghanguskan seluruh kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi perang merupakan sebab utama kehancuran kota-kota kuno. Yerusalem misalnya, dalam sejarahnya yang panjang sejak abad ke-18 SM sempat tiga kali dihancurkan melalui perang: pada tahun 586 SM oleh raja Babel, Nebukadnezar; pada tahun 70 oleh penguasa militer Romawi di Palestina, Jenderal Titus; dan pada tahun 1480 oleh pasukan Mongol di bawah pimpinan Jenghis Khan yang datang merambah buas dari Asia Tengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Yerusalem terhitung beruntung: ia selalu dibangun kembali. Kota-kota kuno seperti Khartago, Sukhothai, Sriwijaya, Ayutthaya, Mohenjo-Daro, Harappa, Karakorum, Akkad, Ur, Babel, Ninive, Persepolis, Troya, Machu Picchu, atau Pompeii kini  tinggal hanya reruntuhan, bahkan telah hilang terbenam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kota-kota kuno, problem kota-kota modern terutama disebabkan oleh tekanan populasi dan manajemen kota yang buruk. Soal tekanan populasi ini dapat kita apresiasi dari data berikut ini. Jika pada sekitar tahun 8000 SM penduduk dunia hanya 100 juta, pada permulaan abad Masehi masih 300 juta, tetapi sejak abad ke-19 jumlah itu meningkat dengan sangat pesat: tahun 1800 (1 milyar), tahun 1930 (2 milyar), tahun 1962 (3 milyar), tahun 1974 (4 milyar), tahun 1987 (5 milyar), dan tahun 2000 (6 milyar). Ketika urbanisasi berlangsung justru oleh karena daya tarik kota itu sendiri maka pada titik jenuh tertentu tekanan populasi mengakibatkan komplikasi berbagai masalah bagi kota tersebut dan segenap warganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Rakyat, Kota Publik&lt;br /&gt;Era kota raja dan kota Tuhan berakhir sudah. Kini kota-kota di dunia adalah kota rakyat, kota publik, atau kota warga. Artinya, kota adalah urusan publik, urusan segenap warga kota. Dikatakan tegas: setiap kota harus mampu memenuhi aspirasi dan kebutuhan warganya. Dikatakan lain: kota sekarang dinilai tidak lagi berdasarkan selera raja, selera penguasa, tetapi dinilai berdasarkan keterpenuhan aspirasi publik, yakni ruang hidup yang berkualitas bagi segenap warga kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, sejauh menyangkut kualitas hidup warganya, Zurich dan Geneva adalah dua kota terbaik di dunia. Demikian hasil survei Mercer Consulting yang diterbitkan pada bulan April 2007. Vancouver menduduki nomor tiga dan berturut-turut diikuti oleh Vienna, Auckland, Düsseldorf, dan Frankfurt. Penilaian itu didasarkan atas tiga puluh sembilan determinan kualitas hidup manusia yang dikelompokkan dalam sepuluh kategori berikut ini:&lt;br /&gt;1.Political and social environment (political stability, crime, law enforcement, etc.)&lt;br /&gt;2.Economic environment (currency exchange regulations, banking services, etc.)&lt;br /&gt;3. Socio-cultural environment (censorship, limitations on personal freedom, etc.)&lt;br /&gt;4.Health and sanitation (medical supplies and services, infectious diseases, sewage, waste disposal, air pollution, etc.)&lt;br /&gt;5.Schools and education (standard and availability of international schools, etc.)&lt;br /&gt;6.Public services and transportation (electricity, water, public transport, traffic congestion, etc.)&lt;br /&gt;7.Recreation (restaurants, theatres, cinemas, sports and leisure, etc.)&lt;br /&gt;8.Consumer goods (availability of food/daily consumption items, cars, etc.)&lt;br /&gt;9.Housing (housing, household appliances, furniture, maintenance services, etc.)&lt;br /&gt;10.Natural environment (climate, record of natural disasters, etc.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal-hal di atas merupakan faktor penentu bagus tidaknya sebuah kota, maka dikatakan sebaliknya, kota yang buruk adalah kota yang...&lt;br /&gt;1.Fasilitas kesehatannya tidak memadai;&lt;br /&gt;2.Fasilitas pendidikannya tidak memadai;&lt;br /&gt;3.Infrastruktur dan fasilitas angkutan massalnya buruk;&lt;br /&gt;4.Jalan-jalan besarnya tidak memadai;&lt;br /&gt;5.Jalan-jalan kecil buat warga pejalan kaki tidak ada atau dibiarkan tak terawat;&lt;br /&gt;6.Kantong-kantong penduduk miskinnya banyak;&lt;br /&gt;7.Keamanannya rendah atau sudut-sudut kota tertentu keamanannya rendah;&lt;br /&gt;8.Kelompok-kelompok preman yang memeras warga kota banyak;&lt;br /&gt;9.Keterlibatan warganya dalam memelihara fasilitas kota rendah;&lt;br /&gt;10.Ketersediaan air bersih, listrik, dan teleponnya rendah;&lt;br /&gt;11.Korupsi di jawatan-jawatan publik di kotapraja tinggi;&lt;br /&gt;12.Kotanya semrawut, tidak ada zonasi kota yang terencana dan tersistem;&lt;br /&gt;13.Peredaran dan penggunaan narkoba dan minuman keras tidak terkontrol;&lt;br /&gt;14.Permusuhan dan perkelahian antarkelompok warga kota tinggi;&lt;br /&gt;15.Sektor kumuhnya banyak;&lt;br /&gt;16.Tingkat kemacetannya tinggi;&lt;br /&gt;17.Tingkat krimininalitasnya tinggi;&lt;br /&gt;18.Tingkat penganggurannya tinggi;&lt;br /&gt;19.Tingkat polusinya tinggi; dan&lt;br /&gt;20.Wilayah lampu merah dan perjudiannya berkembang tidak terkontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan Kota dan Etos Pembangunan&lt;br /&gt;Meskipun kota-kota modern kini adalah kota publik, urusan publik, dan bukan kota raja apalagi kota Tuhan, tapi secara politik warga kota kemudian menyerahkan tanggungjawab pemerintahan dan manajemen kota mereka kepada seorang walikota melalui proses pemilihan umum. Itu berarti walikota adalah orang yang menjadi wali-pemegang-amanah seluruh warga kota agar kota mereka dikelola sebagai kota yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, proses, program, dan proyek untuk mewujudkan aspirasi seluruh warga kota itu secara teknis diserahkan kepada para kontraktor pembangunan dan pemeliharaan kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi secara profesional perwujudan semua aspirasi warga kota di atas diserahkan kepada para arsitek. Inilah sebuah profesi yang semakin penting peranannya dalam menjawab masalah-masalah perkotaan dan pemukiman di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tri Harso Karyono, guru besar arsitektur Universitas Tarumanagara dan peneliti utama pada Balai Besar Teknologi Energi (B2TE BPPT), Serpong, dalam artikelnya “Pemanasan Bumi dan Dosa Arsitek”, di harian KOMPAS, Selasa, 11 September 2007, mengatakan: Arsitek berperan besar dalam [pemanasan] Bumi. Kekeliruan tangan arsitek akan memanaskan Bumi dan berpotensi lebih besar membasmi manusia dibandingkan dengan kemampuan teroris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedemikan dahsyat peran arsitek modern bagi kehidupan manusia sebagaimana dikatakan Tri Harso Karyono di atas, maka tidak berlebihan jika peran arsitek itu dapat saya ungkapkan bagi kehidupan sebuah kota sebagai berikut: Arsitek berperan besar dalam menentukan hitam putihnya sebuah kota. Kekeliruan tangan arsitek akan menghancurkan sebuah kota dan berpotensi membuat kota itu menjadi kota setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin krusial peranan suatu profesi dalam masyarakat, semakin penting pula profesi itu merumuskan etosnya, menegakkan etos itu, dan menghukum anggota profesi yang melanggarnya. Hanya dengan demikian sebuah profesi punya tempat yang terhormat dalam masyarakat. Sejumlah profesi sudah melakukannya: dokter, wartawan, dan pengacara. Ciri khasnya: mereka punya asosiasi profesi, dan dalam tubuh asosiasi itu terdapat sebuah dewan kehormatan sebagai mahkamah tertinggi dalam penegakan etos profesi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, marilah kita bahas serba sedikit tentang etos ini. Dengan memeriksa kamus-kamus, kita akan menemukan bahwa etos adalah sebuah kata yang memiliki banyak makna, antara lain: (a) esprit d’corps; (b) karakter, keyakinan, dan hakikat moral dari seseorang, sekelompok orang, atau sebuah institusi; (c) kode perilaku suatu perusahaan yang menentukan cara bagaimana mereka memperlakukan karyawannya, pelanggannya, lingkungannya, serta tanggungjawab-tanggungjawab legalnya; (d) spirit khas suatu budaya atau era; dan masih banyak lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi untuk keperluan seminar ini saya memilih mendefinisikan etos sebagai sebuah rumusan yang disepakati bersama tentang apa yang dianggap paling penting oleh sekelompok orang untuk pekerjaan (profesi) yang mereka jalankan, dan perilaku apa yang dituntut untuk mencapai hal paling penting tersebut, termasuk apa-apa yang tidak boleh dilanggar dalam pelaksanaan pekerjaan atau profesi tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah definisi etos profesi yang dapat berlaku umum untuk semua profesi seperti keguruan, kedokteran, kehakiman, kependetaan, kewartawanan, kemiliteran, kepengacaraan, dan kearsitekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari ini kita berbicara tentang etos kearsitekan atau etos arsitek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kota dirumuskan oleh panitia seminar ini -– yang notabene terdiri dari sejumlah arsitek muda yang idealis, kreatif, dan berwawasan luas -– sebagai (1) sebagai sebuah simbolisme kosmik, (2) sebagai manisfestasi spiritualitas manusia, (3) sebagai biosfer hidup yang berkelimpahan, (4) sebagai ekosistem pengembangan manusia, (5) sebagai mandala penciptaan karya-karya yang estetik, (6) sebagai wilayah kerja yang produktif, dan (7) keragaman sosial budaya manusia urban; harus diakui bahwa aspirasi ini adalah sebuah rumusan yang ideal, luhur, dan menyeluruh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengandaikan bahwa konsep kota di atas sekarang diterima dan dianggap sangat penting oleh komunitas arsitek di negeri ini, maka dalam bahasa etos, idealisme tentang kota di atas – di tingkat perilaku kerja – dapat saya rumuskan sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etos 1: Kota adalah simbolisme kosmik; maka arsitek profesional wajib merancang, membangun, dan mengembangkan kota yang mengingatkan warganya bahwa kota sebagai ruang kehidupan adalah bagian dari kosmos ciptaan Tuhan yang mempunyai desain, keteraturan, keluasan, keagungan, dan keindahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etos 2: Kota adalah manisfestasi spiritualitas manusia; maka arsitek profesional wajib merancang, membangun, dan mengembangkan kota yang mampu membuat seluruh warganya merasa terhubungkan satu sama lain, yang merasa menyatu dengan lingkungannya, serta memetik makna, identitas, dan kebanggaan daripadanya sehingga menumbuhkan rasa cinta pada kotanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etos 3: Kota adalah biosfer hidup yang berkelimpahan; maka arsitek profesional wajib merancang, membangun, dan mengembangkan kota yang lapang, longgar, lancar, bersih, hijau, berlimpah dengan air segar dan udara murni, serta bebas dari sampah maupun limbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etos 4: Kota adalah ekosistem bagi pertumbuhan manusia yang sehat; maka  arsitek profesional wajib merancang, membangun, dan mengembangkan kota yang cukup ruang untuk bermukim, bekerja, belajar, bermain, berekreasi, beribadah, berolahraga, berkesenian, dan berkebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etos 5: Kota adalah mandala penciptaan karya-karya yang estetik; maka  arsitek profesional wajib merancang, membangun, dan mengembangkan kota yang secara keseluruhan dinilai sebagai indah, termasuk bagian-bagiannya, unit-unitnya, dan detail-detailnya sehingga mampu memuaskan cita rasa seluruh warga kota secara sensual-indrawi, intelektual-karsawi, dan spiritual-rohani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etos 6: Kota adalah lapangan kerja yang produktif; maka arsitek profesional  wajib merancang, membangun, dan mengembangkan kota yang mampu menyediakan ragam mata pencaharian bagi segenap warganya: dari jenis pekerjaan yang cuma mengandalkan otot, keringat, dan fisik sampai jenis pekerjaan yang mengandalkan imajinasi, kreativitas, dan inovasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etos 7: Kota adalah wahana keragaman sosial-budaya manusia urban; maka  arsitek profesional wajib merancang, membangun, dan mengembangkan kota yang mampu menyediakan ruang untuk ekspresi keragaman sosial-budaya itu, interaksi sinergis dalam pluralisme itu, serta kultur apresiatif dalam kebhinekaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, tim perumus etos profesi haruslah orang dalam profesi itu. Demikian pula etos arsitek haruslah dirumuskan oleh para arsitek sendiri. Orang seperti penulis makalah ini -- meski pun sering dijuluki oleh media sebagai mister etos atau guru etos -- paling banter bisa berperan sebagai konsultan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, izinkanlah saya meninggalkan sebuah saran: panitia seminar ini perlu sesegera mungkin berkoordinasi dengan Ikatan Arsitek Indonesia guna merumuskan sehimpunan etos arsitek yang luhur, menyeluruh, inspirasional, dan motivasional sehingga pada satu waktu nanti kita akan melihat semua kota di republik ini sungguh-sungguh menjadi kota yang “gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya rumuskan di atas adalah suatu percobaan dan harus dianggap sebagai sebuah masukan saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih dan selamat berseminar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-4447985448408405335?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/4447985448408405335/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=4447985448408405335' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/4447985448408405335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/4447985448408405335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2009/11/manusia-kota-dan-etos-pembangunan.html' title='Manusia, Kota, dan Etos Pembangunan'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SvItN5EuqfI/AAAAAAAAA3c/7DVU8N08j4U/s72-c/new_york_city.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-6395448280781158916</id><published>2009-11-01T03:43:00.000-08:00</published><updated>2009-11-01T03:48:19.493-08:00</updated><title type='text'>Bermimpi adalah Hak Segala Bangsa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/Su11ZDUSNmI/AAAAAAAAA3U/g-850OY1jrQ/s1600-h/indonesiandream.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 149px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/Su11ZDUSNmI/AAAAAAAAA3U/g-850OY1jrQ/s200/indonesiandream.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399100601534658146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Jansen H. Sinamo&lt;br /&gt;(Dimuat di Harian Kompas, Minggu 25 Oktober 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya kemerdekaan merupakan hak segala bangsa. Impian pun demikian. Akan tetapi, bukan mimpi sembarang mimpi, bunga tidur yang terlupakan saat fajar menyingsing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impian besar mampu memotivasi segenap warga negara untuk bekerja keras. Mimpi agung yang memandu penduduk dengan nilai-nilai luhur yang membenam sakral di dalam impian itu. Mimpi akbar yang menyatukan mereka dalam satu nasionalisme mulia seraya mentransendensikan semua perbedaan mereka: ras, suku, etnis, agama, kultur, kelas, dan golongan. Mimpi yang kemudian meluluhkan mereka bersama dalam suatu rasa kebangsaan yang kompak dan bergetar-getar di sekujur tubuh bangsa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Indonesia tidak lagi kompak bersatu persis karena mimpi agung itu telah berpendar semakin pudar. Entah kapan mulainya, virus sektarianisme meruyak dalam tubuh bangsa ini. Kita kerap bertikai, bertengkar, dan menghabiskan energi sehingga cita-cita Indonesia merdeka yang adil dan makmur semakin terasa bagai utopia kosong belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangankan dengan Korea, China, dan India yang semakin jauh melaju, bahkan dengan Vietnam dan Malaysia pun kita semakin tertinggal. Tetangga yang disebut terakhir ini pun terasa semakin berani ”lancang dan kurang ajar”.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Reformulasi Pancasila&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi ini bukan mustahil semakin buruk. Contoh Yugoslavia yang telah bubar bisa terjadi di sini jika sesama elemen bangsa semakin tak bisa saling percaya; kecurigaan dan ketakutan berbasis suku-agama-ras-antargolongan (SARA) dibiarkan berkobar memecah belah, pengingkaran hakikat keindonesiaan yang Bhinneka Tunggal Ika berlangsung banal. Apalagi, jika kebiasaan buruk dalam praktik bernegara dipertontonkan terus: korupsi, kolusi, dan kompromi membiarkan diskriminasi, kebodohan, dan kezaliman semakin merajalela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesatuan teritorial yang dimiliki sama sekali tidak memadai sebagai pengikat, seperti dibuktikan bekas Uni Sovyet. Hal ini sekaligus menegaskan, kita memerlukan sesuatu yang lebih fundamental: mimpi besar bersama yang memuat konsepsi, persepsi, perasaan, dan harapan kolektif tentang keindonesiaan kita yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas fundamen inilah kemudian kita harus memperkuat demokrasi, memperbaiki kualitas pendidikan nasional dan mempertinggi pengetahuan masyarakat, serta membiakkan inovasi di segala bidang sehingga Indonesia bergerak pasti ke arah sosok bangsa maju: berketahanan, berkeunggulan, dan berkemenangan. Berkemenangan artinya sukses memerangi kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan diskriminasi sehingga terwujudlah Indonesia yang adil, makmur, berwibawa, dan bermartabat di mata dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah ringkasan isi buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Indonesian Dream: The Pursuit of a Winning Nation.&lt;/span&gt; Penulisnya, Elwin Tobing, seorang profesor ekonomi yang kini mengajar di Azusa Pacific University, California.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercium aroma Pancasila? Tidak salah. ”The Indonesian Dream adalah suatu reformulasi modern Pancasila, lebih catchy dan dinamis, tetapi tetap sederhana,” ujar Tobing pada peluncuran buku ini di Jakarta, 4 September 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor muda yang lahir 16 April 1968 di Tarutung, Sumatera Utara, ini secara personal tentu bisa menghayati Impian Indonesia yang dia gagas. Dengan bermodalkan kerja keras, semangat akbar, dan impian agung—di tengah keserbakekurangan yang khas sebuah keluarga Batak—ia telah membuktikan bisa menembus IPB Bogor melalui jalur PMDK. Bahkan hingga ke Amerika Serikat: Northeastern University, University of Iowa, Harvard Business School, California State University Fullerton, dan Azusa Pacific University.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu terbayang dalam benaknya, dari seluruh pelosok negeri dengan Impian Indonesia ratusan juta generasi muda akan mencetak prestasi masing-masing demi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aktualisasi mimpi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Indonesia memang perlu bermimpi lagi. Tepatnya, impian lama yang harus diaktualisasikan ulang, diperbarui dan diperkaya, dibikin hidup dan berdaya. Kita memerlukan mimpi segar yang sanggup mempersatukan putra-putri Indonesia dengan berkeinginan kuat akan suatu kehidupan nasional yang secara kualitatif berbeda dengan yang sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Ketut di Bali atau Bambang di Jawa, Ucok di Medan atau Pingkan di Manado, Usman di Aceh atau Bram di Papua, sebagai manusia-manusia baru Indonesia yang bernaluri, bernurani, dan bernalar sehat, pasti memiliki cita-cita akan kehidupan lebih baik, menyangkut kehidupan ekonomi, sosial, politik, kebudayaan, dan peradaban bangsa ini dalam konteks dunia terkini. Tobing membayangkan, meski mereka bhinneka secara SARA, tetapi tunggal ika secara impian keindonesiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tobing secara khusus menekankan strategisnya arti impian (dream) sebagai bentuk sublim Pancasila. Suatu ketika Soekarno pernah mereduksi Pancasila menjadi gotong-royong. Tetapi gotong-royong yang sifatnya kolektif itu menomorduakan kontribusi partikular para individu anggotanya. Juga sifatnya lebih statis karena kegotongroyongan mengerjakan sesuatu bisa selesai ketika pekerjaan itu rampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, impian adalah konsep bersifat terus-menerus sehingga lebih dinamis. Karena itu, menurut Tobing, Impian Indonesia yang juga boleh diterjemahkan menjadi Cita-cita Indonesia secara kualitatif akan lebih mampu mempersatukan manusia-manusia modern Indonesia dibandingkan dengan ungkapan lama yang sudah lapuk sehingga kehilangan geregetnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa nilai dasar Indonesian Dream juga turut dijelaskan dalam buku ini, termasuk kejujuran, kerja keras, respek terhadap satu sama lain, tanggung jawab, dan ketangguhan. Pokoknya sehimpunan perilaku unggul yang biasa digolongkan sebagai etos profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memajukan negeri ini di tengah zaman global yang penuh persaingan ketat dengan ilmu pengetahuan sebagai dasar untuk bisa sintas bahkan menang, Indonesia juga butuh paradigma yang menjadi kerangka berpikir, bersikap, merasa, dan bertindak bagi setiap insan Indonesia. Bukankah bangsa yang tangguh dibangun oleh individu-individu warga yang tangguh? Kembali di sini Indonesian Dream tampil esensial ketika difungsikan sebagai paradigma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran buku ini sungguh tepat waktu tatkala kabinet baru segera bertugas dan legislatif di seantero negeri mulai bekerja. Profesor Tobing tampak mempersembahkan bukunya bagi para punggawa republik yang semakin dia cintai justru ketika ia hanya bisa memandangnya dari seberang Pasifik. Ini mirip dengan Bung Hatta dan kawan-kawan dalam Perhimpunan Indonesia ketika menggagas Indonesia Merdeka di Belanda hampir seratus tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu kekurangan buku ini: ia berbahasa Inggris, jadi jelas elitis. ”Tapi jangan khawatir,” kata Tobing, ”Saya akan pulang ke Indonesia untuk meluncurkan edisi bahasa Indonesia pada awal 2010.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jansen H Sinamo Penulis buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Delapan Etos Kerja Profesional&lt;/span&gt;, tinggal di Jakarta)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-6395448280781158916?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/6395448280781158916/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=6395448280781158916' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/6395448280781158916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/6395448280781158916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2009/11/bermimpi-adalah-hak-segala-bangsa.html' title='Bermimpi adalah Hak Segala Bangsa'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/Su11ZDUSNmI/AAAAAAAAA3U/g-850OY1jrQ/s72-c/indonesiandream.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-670260723671717186</id><published>2009-08-07T04:19:00.000-07:00</published><updated>2009-08-07T04:26:37.148-07:00</updated><title type='text'>Selamat Jalan, Mas Willy</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnwPNSOSaWI/AAAAAAAAA0k/UP3ZgoTQll8/s1600-h/rendra.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnwPNSOSaWI/AAAAAAAAA0k/UP3ZgoTQll8/s200/rendra.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367181576823269730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Jansen Sinamo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang ‘kesialan’ justru&lt;br /&gt;membawa keberuntungan&lt;br /&gt;Dan itulah yang&lt;br /&gt;mempertemukan aku dengan Rendra&lt;br /&gt;Si Burung Merak yang&lt;br /&gt;tersohor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu subuh dingin yang&lt;br /&gt;bergermis&lt;br /&gt;Sekitar 10 tahun lalu di&lt;br /&gt;bandara Sukarno-Hatta&lt;br /&gt;Saat itu pesawatku tertunda&lt;br /&gt;hampir 2 jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengurang kesal pergilah aku&lt;br /&gt;ngopi ke salah satu kedai&lt;br /&gt;Ternyata Rendra sudah duluan&lt;br /&gt;disitu&lt;br /&gt;Ngopi dan nongkrong dengan&lt;br /&gt;santainya&lt;br /&gt;Sambil mengisap rokoknya&lt;br /&gt;dengan nikmat&lt;br /&gt;Aku tahu nikmatnya karena&lt;br /&gt;aku juga perokok serius&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rendra ternyata sepesawat&lt;br /&gt;dengan aku&lt;br /&gt;Sambil membawa kopiku&lt;br /&gt;kupilih duduk di sebelahnya&lt;br /&gt;Kuperkenalkan diri sebagai&lt;br /&gt;tukang ceramah&lt;br /&gt;Sambil mengumbar satu dua&lt;br /&gt;basa-basi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceramah apa? tanyanya&lt;br /&gt;berminat&lt;br /&gt;Etos kerja, Mas,&lt;br /&gt;kataku&lt;br /&gt;Lalu aku pun ngecap soal&lt;br /&gt;topik kesukaanku itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penting itu, Mas,&lt;br /&gt;gairah kerja, katanya&lt;br /&gt;Bukan bekerja keras, tapi&lt;br /&gt;bekerja dengan bergairah&lt;br /&gt;Dan Rendra pun ambil giliran&lt;br /&gt;berceramah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbok-mbok di Pasar Klewer,&lt;br /&gt;di Pasar Beringharjo, di pasar mana saja&lt;br /&gt;Bekerja lebih keras dari&lt;br /&gt;semua pejabat di negeri ini&lt;br /&gt;Dari semua pekerja&lt;br /&gt;profesional di kantor-kantor mentereng Jakarta ini&lt;br /&gt;Tapi mereka kalah&lt;br /&gt;penghasilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau mereka bekerja&lt;br /&gt;dengan gairah&lt;br /&gt;Meraka tidak kalah&lt;br /&gt;apa-apa&lt;br /&gt;Sebab jiwa yang&lt;br /&gt;bergelora tak sebanding dengan penghasilan&lt;br /&gt;Kerja bergairah – bukan&lt;br /&gt;terpaksa - itulah hidup yang sepenuhnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tolong titip, Mas,&lt;br /&gt;pesan ini&lt;br /&gt;Orang Indonesia itu&lt;br /&gt;perlu membangun gairah kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu-tahu pagi ini Kompas&lt;br /&gt;memberi warta semerta&lt;br /&gt;Burung Merak itu telah&lt;br /&gt;terbang jauh membubung&lt;br /&gt;Dan puisi yang dikutip&lt;br /&gt;Kompas membuka obituarinya&lt;br /&gt;Adalah puisinya tentang&lt;br /&gt;kerja&lt;br /&gt;Seolah ditujukan buat aku&lt;br /&gt;seorang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup tidaklah&lt;br /&gt;untuk mengeluh dan mengaduh&lt;br /&gt;Hidup adalah&lt;br /&gt;untuk mengolah hidup&lt;br /&gt;Bekerja&lt;br /&gt;membalik &lt;br /&gt;tanah&lt;br /&gt;Memasuki&lt;br /&gt;rahasia langit dan samodra&lt;br /&gt;Serta mencipta&lt;br /&gt;dan mengukir dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita menyandang&lt;br /&gt;tugas&lt;br /&gt;Karena tugas&lt;br /&gt;adalah tugas&lt;br /&gt;Bukannya demi&lt;br /&gt;sorga atau neraka&lt;br /&gt;Tetapi demi&lt;br /&gt;kehormatan seorang manusia&lt;br /&gt;Kerna&lt;br /&gt;sesungguhnyalah kita bukan debu&lt;br /&gt;Meski kita&lt;br /&gt;telah reot, tua renta dan kelabu&lt;br /&gt;Kita adalah&lt;br /&gt;kepribadian&lt;br /&gt;Dan harga kita&lt;br /&gt;adalah kehormatan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolehlah lagi&lt;br /&gt;ke belakang&lt;br /&gt;Ke masa silam&lt;br /&gt;yang tak seorang pun kuasa menghapusnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELAMAT JALAN MAS&lt;br /&gt;WILLY&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-670260723671717186?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/670260723671717186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=670260723671717186' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/670260723671717186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/670260723671717186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2009/08/selamat-jalan-mas-willy.html' title='Selamat Jalan, Mas Willy'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SnwPNSOSaWI/AAAAAAAAA0k/UP3ZgoTQll8/s72-c/rendra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-7724243245112501920</id><published>2009-07-20T19:31:00.000-07:00</published><updated>2009-07-20T19:32:12.410-07:00</updated><title type='text'>Buku yang Dikerjakan dengan Kegembiraan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Judul buku&lt;/span&gt;: 8 Etos Kerja dalam Bisnis&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penulis&lt;/span&gt;: Jansen Sinamo&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Editor&lt;/span&gt;:Agus Santosa. Christina M. Udiani, Eben Ezer Siadari&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tebal&lt;/span&gt;: 318 Halaman&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penerbit&lt;/span&gt;: Institut Darma Mahardika, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tahun&lt;/span&gt;: 2009 (edisi revisi, cetakan kesembilan)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Harga&lt;/span&gt;: Rp60.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SmUjfyOhDaI/AAAAAAAAAzE/fo56BlnMtkE/s1600-h/etos.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SmUjfyOhDaI/AAAAAAAAAzE/fo56BlnMtkE/s200/etos.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5360729960420019618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan atau tidak, tiap penulis selalu punya mimpi. Semacam keinginan atau cita-cita tentang seperti apakah kelak  nasib buku yang ditulisnya. Terkadang, orang mengatakan buku tak ubahnya seperti anak kandung penulisnya. Yang dipelihara dan digadang-gadang suatu saat nanti akan mencapai level tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jansen Sinamo bukan pengecualian. Sejak 10 tahun lalu ia tak kenal lelah  memperkenalkan ETOS lewat training yang dijalankannya mau pun melalui bukunya yang pada edisi revisi paling mutakhir ini mengambil judul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;8 Etos Kerja dalam Bisnis&lt;/span&gt;. Ia  punya mimpi. Dan, mimpinya  tak berubah dari dulu. Ia ingin buku karyanya ini tak sekadar pengisi tren musiman memenuhi permintaan pasar sesaat. Melainkan buku yang  “….hidup bersama  isi yang dikandungnya, memandu dan menginspirasi pembacanya.”  Ia membayangkan buku yang ditulisnya itu akan menjadi semacam ‘kitab suci’ para pekerja dalam menjalani apa pun pekerjaannya. Dan  karena peran yang penting itu, buku itu pun dibayangkannya akan  “….terus hidup hingga melewati abad 21. Bahkan, sintas dari abad ke abad.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak bulan lalu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;8 Etos Kerja dalam Bisnis&lt;/span&gt; sudah beredar di toko-toko buku ternama di seluruh Tanah Air. Buku setebal 318 halaman ini adalah cetakan yang kesembilan. Sejak diterbitkan pertama kali pada 1998, buku ini telah mengalami revisi beberapa kali hingga mencapai bentuknya yang seperti sekarang. Mulai dari berbentuk materi training fotokopian hingga menjadi buku yang elegan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;8 Etos&lt;/span&gt;  seakan tak pernah berhenti dikupas, disiangi, dipupuk dan diperkaya oleh penulisnya. Seiring dengan training Etos yang dikembangkan oleh Jansen Sinamo, permintaan terhadap buku ini terus bertumbuh sementara  stok di pasar sudah menipis. Ini pula alasan lain menerbitkan lagi buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hampir 10 tahun buku ini sudah dicetak hingga 60 ribu eksemplar. Trainingnya telah diikuti puluhan ribu orang di berbagai tingkatan. Dan Jansen Sinamo, selain dijuluki sebagai Mr Ethos, oleh majalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Campus Asia&lt;/span&gt; dinobatkan pula sebagai  satu dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;100 Educators of The Year Indonesia&lt;/span&gt;, dan salah satu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Great Intellectual Impacting Society.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;()()()&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari di akhir tahun lalu, Bang Jansen, demikian saya menyapa penulis buku ini, menelepon  dan mengajak saya berbincang-bincang sambil menikmati sarapan. Pada saat itu ia mengemukakan niatnya untuk menerbitkan edisi revisi buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;8 Etos&lt;/span&gt;. Ia menginginkan saya membantunya sebagai penyunting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ini merupakan kehormatan besar bagi seorang penulis. Tapi pada saat yang sama, saya merasa berat. Kenapa berat? Karena sudah berkali-kali saya membaca  buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;8 Etos &lt;/span&gt;karyanya itu dan buku tersebut dalam hemat saya merupakan karya klasik yang  nyaris sempurna. Hampir tak ada lubang-lubang yang perlu ditutup. Buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;8 Etos&lt;/span&gt;, menurut penglihatan saya, merupakan yang pertama dan terlengkap bila bicara tentang etos di dunia kerja di Tanah Air.Dan karena itu beberapa kali saya mencoba menanyakan kepada Bang Jansen, apakah ia tidak akan merasa menyesal mempekerjakan lagi seorang penyunting bagi buku yang sudah ‘jadi’ itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Jansen ketika itu, memberikan jawaban yang tak pernah saya lupa. Menurut dia, dalam tiap pekerjaan yang kita geluti, tiap insan harus bertanya, “Dengan cara apakah (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;in what way&lt;/span&gt;) saya dapat membuat sesuatu itu lebih baik dan lebih sempurna lagi?” Menurut dia, pasti selalu ada cara untuk memperbaiki dan menyempurnakan segala sesuatu. Termasuk pada buku yang telah beredar dan dibaca orang selama 10 tahun tersebut. Bang Jansen bahkan mendorong saya untuk tidak menyakralkan karyanya ini. Ia menganggap bahwa buku itu dalam segala hal masih bisa  dipergurih bahasanya atau diperkaya isinya. “Aku malah akan marah jika kau mengatakan tak ada yang dapat diperbaiki dalam buku itu,” kata dia suatu kali, dengan gaya persuasinya yang selalu menyentuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari setengah tahun kami bekerja dalam pekerjaan penyuntingan itu. Sebagian pertemuan yang kami lakukan untuk membahasnya, dilangsungkan sambil menikmati cemilan di sebuah kafe di bilangan Imam Bonjol Jakarta sambil menyeruput kopi kesukaan kami. Kadang-kadang kami menghabiskan waktu di ruang kerjanya di rumahnya, yang luas dan tenang. Saya menikmati betul pekerjaan ini, meskipun selalu dibayang-bayangi kekaguman kepada Bang Jansen sekaligus kepada dua editor yang sebelumnya telah pernah menangani buku ini, yakni Agus Santosa dan Christina M. Udiani. Menurut saya, mereka telah bekerja dengan sangat baik dan saya hanya memoles sangat sedikit saja untuk edisi revisi 2009 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada hari tanpa kegembiraan dalam mengerjakan edisi revisi 2009 ini. Bang Jansen yang fisikawan itu bekerja sangat sistematis dan terencana. Agak bertolak belakang dengan gaya wartawan  saya yang kadang-kadang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;moody&lt;/span&gt; dan baru bisa ngebut menjelang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;deadline&lt;/span&gt;. Bang Jansen selalu memberikan semangat. Dan saya pun  dengan senang hati tertular oleh aura optimismenya. Ia punya koleksi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jokes&lt;/span&gt; yang banyak. Yang paling saya senangi adalah lelocon-leluconnya yang berbau filsafat dan tentang keudikan orang Batak. Sambil kami bekerja, mengalir lah  cerita-cerita lucunya itu. Tak hanya ketika kami bertemu ia membagi-bagikan keceriaan. Sering juga lewat email atau SMS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, saya tertawa ketika dalam pengantar buku ini, Bang Jansen berkata bahwa ia berterimakasih kepada saya, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;…yang dengan kegembiraannya yang khas, bersedia menjadi editor luar biasa sehingga pikiran-pikiran saya meluncur dalam bentuk teks yang lebih gurih dan jernih&lt;/span&gt;.” Tidak, Bang Jansen.  Bang Jansen terlalu rendah hati untuk tidak mengatakan bahwa sesungguhnya dari dia lah kegembiraan itu saya peroleh. Bila tiap bertemu dengannya saya juga  penuh canda dan banyolan melontarkan pertanyaan-pertanyaan menantang pikiran-pikiran Bang Jansen, itu merupakan pantulan dari sukacita yang selalu saya dapatkan dari tawa renyahnya.  Juga caranya menyantap makanan dengan lahap, selalu mengagumkan saya. Tak ada makanan yang tak nikmat baginya, yang menyebabkan saya iri. Sebab seringkali enak tidaknya makanan bagi saya dipengaruhi oleh suasana hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan Bang Jansen, saya kerap berlaku bukan  sebagai ‘murid’yang ingin mengeksplorasi kebijaksanaan gurunya. Tapi yang lebih sering sesungguhnya adalah  sebagai ‘adik’ yang kadang-kadang nakal tetapi terpesona  oleh kecerdasan sekaligus kesuksesan abangnya. Bang Jansen mewarisi tradisi yang sedikit banyak saya kenali dan alami. Sebagai anak sulung dalam keluarga Batak, ia memikul tanggung jawab yang  besar dan itu terpantul dalam sikapnya yang selalu menganyomi dan melindungi. Sikap yang saya nikmati betul –bahkan seperti merasa dimanjakan—selama bekerjasama dengan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala kami memulai mengerjakan buku ini, Bang Jansen baru saja pulih dari stroke yang menghampirinya hampir setahun. Ia berjalan dengan bantuan tongkat, menyentuh tuts laptopnya dengan tangan kanan yang masih belum bisa digerakkan dengan sempurna. Dan itu dilaluinya dengan senyum kegembiraan manakala kami sudah asyik dalam pekerjaan kami. Saya tahu, di hati kecilnya Bang Jansen mengalami pergumulan menghadapi kendala yang tak ringan itu. Tetapi yang menyenangkan dari semua itu adalah ia percaya bahwa apa yang selama ini ia ‘khotbahkan’ lewat training etos, adalah --dan harus menjadi-- khotbah yang hidup lewat dirinya. Dan karena itu ia yakin akan bisa melalui ini semua dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tidak berlebihan bila salah satu keistimewaan buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;8 Etos Kerja Bisnis&lt;/span&gt; edisi revisi ini adalah karena buku ini dikerjakan dengan penghayatan yang lebih intens akan isi buku ini sendiri. Dalam sakit yang dideritanya sambil mengerjakan buku ini, Jansen mengakui, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;…etos lebih saya hayati secara internal, makin mendarahdaging, makin menyumsum, makin menulang&lt;/span&gt;.” Ketika jatuh sakit yang membawa dirinya seakan-akan berhadap-hadapan dengan pintu kematian, Jansen menyadari perjuangannya sangat ditentukan oleh semangat dirinya sendiri.&lt;span style="font-style:italic;"&gt; “Sangat penting untuk tetap memiliki dan memelihara semangat untuk hidup, semangat untuk sembuh, dan semangat untuk pulih seperti sediakala. Dokter-dokter yang merawat saya juga berkata demikian……..Sebab ketika sakit dan lemah, seperti pada kebanyakan penderita stroke,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt; sejumlah penyakit lain ikut membonceng. Seperti rasa rendah diri, patah semangat, malu ketemu orang……Dan para pembonceng ini justru lebih berbahaya daripada boncengannya&lt;/span&gt;,” tulis Bang Jansen dalam Prolog buku ini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Boleh dikata Bang Jansen telah memenangi pertarungannya. Buku ini hanya lah satu bukti. Dan karena itu ia berani mendeklarasikan bahwa, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;etos bukan lagi sekadar konsep di otak yang diproduksi oleh kecerdasan…” melainkan “..…ethos trully is my life, my healing, my power&lt;/span&gt;.”  Etos telah menubuh dalam dirinya  sehingga dapat dikatakan Jansen telah menjadi contoh hidup dari etos itu sendiri. &lt;p&gt;Pengalamannya selama sakit disyukurinya sebagai “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;contoh hidup dari apa yang saya ajarkan…&lt;/span&gt;.”  Ketika Siddharta Gautama akhirnya menjadi Buddha, maka Buddhisme dan Sidhata tidak lagi terpisahkan. “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dengan penuh kerendahan hati, saya juga berharap ke arah sana lah saya menulis dan merevisi &lt;/span&gt;buku ini, yakni menjadikan Delapan etos dan Jansn Sinamo tak lagi dapat dipisahkan,” kata dia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;()()()&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;facebook &lt;/span&gt;saya bercerita kepada teman-teman tentang buku ini dan mengatakan Bang Jansen menyebut saya sebagai “&lt;em&gt;editor luar biasa dengan kegembiraannya yang khas&lt;/em&gt;.” Lalu Bakti Tejamulya, seorang rekan penulis yang kini bermukim di negeri Paman Sam meledek dengan berkomentar “…. yang dimaksud dengan kegembiraannya yang khas itu adalah tetap gembira walau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dang adong hepeng&lt;/span&gt; (nggak punya duit)…..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Saya tak bisa menahan tawa sendirian ketika membacanya.  Betapa lucu dan betapa inginnya saya mengaminkan komentarnya itu. Bakti yang mantan wartawan, rekan karib dulu saling ngeyel-ngeyelan tentang tulisan yang baik mau pun jelek, berani berkata begitu mungkin karena ia mengenal saya. Orang udik yang selalu saja kikuk menghadapi kencangnya perubahan zaman. Yang terlalu sering melankolik dan ‘main hati’ (seperti lagunya Andra and The Backbone) untuk hal-hal yang tak penting. Yang selalu kerepotan dan agak gamang membedakan tangan mana yang harus pegang sendok dan mana yang pegang pisau. Tetapi di atas semua itu, mungkin karena Bakti dan saya berbagi kesadaran yang serupa mengenai apa arti menulis dan bekerja dengan ide. Dimana &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hepeng &lt;/span&gt;tak pernah menjadi bagian paling penting sebagai sumber energi. Sebab dalam keasyikan berkarya, energi paling utama justru adalah kegembiraan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan saya percaya, baik lewat buku-bukunya, mau pun lewat training yang diselenggarakannya, Bang Jansen akan terus menebar kegembiraan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;ciputat, 19 juli 2009&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-7724243245112501920?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/7724243245112501920/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=7724243245112501920' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/7724243245112501920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/7724243245112501920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2009/07/buku-yang-dikerjakan-dengan-kegembiraan.html' title='Buku yang Dikerjakan dengan Kegembiraan'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SmUjfyOhDaI/AAAAAAAAAzE/fo56BlnMtkE/s72-c/etos.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-6292028688060714988</id><published>2009-02-08T19:06:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T19:09:19.821-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak Sukarame Masuk TV'/><title type='text'>Anak Sukarame Masuk TV</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SY-isVErVKI/AAAAAAAAAuo/_f9_z53NGGg/s1600-h/jansen-tv2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SY-isVErVKI/AAAAAAAAAuo/_f9_z53NGGg/s320/jansen-tv2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300634168893068450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt; Sabtu, 7 Januari, memuat tulisan Jansen Sinamo di halaman tujuh. Judulnya, &lt;i&gt;Kekerasan Bukan Kegemaran orang Batak&lt;/i&gt;. Versi aslinya, yang sudah dia kirimkan kepada kami beberapa orang temannya sehari sebelum terbit,  sebenarnya berjudul,&lt;i&gt;Batak: Gaya Rambo Hati Rinto&lt;/i&gt;. Tetapi setelah disiangi di sana-sini demi mencapai kepadatan 900 kata, jadi lah seperti yang termuat dengan judul ‘tembak langsung’ itu. Bagi yang belum sempat baca, berikut ini saya tampilkan lagi versi asli tulisan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center; color: rgb(102, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Batak: Gaya Rambo Hati Rinto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; color: rgb(102, 255, 255);"&gt;Oleh JANSEN H. SINAMO&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt;BERITA politik paling heboh pekan ini tentulah unjuk rasa keras yang berlangsung brutal di katedral politik Sumatera Utara yang berujung pada tewasnya Abdul Aziz Angkat, ketua DPRD provinsi yang berpenduduk multietnik itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt;Tak bisa lain, satu kesan sisa yang menonjol adalah: Batak itu memang keras. Di milis Forum Pembaca Kompas - yang beranggota hampir sepuluh ribu itu - seorang warganya menulis begini, “Sebagai orang yang dibesarkan di kota Medan, saya merasa malu. Apalagi kejadian pilu ini terkait dengan pembentukan Provinsi Tapanuli. Saya sangat malu sebagai suku Batak!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt;Orang Batak memang jadi terdakwa dalam insiden ini, apa boleh buat. Namun tidak banyak orang tahu, sang korban sebenarnya adalah juga orang Batak, berasal dari rumpun sub-etnik Pakpak. Marga-marga Pakpak seperti Angkat, Bintang, Gajah, Padang, Sinamo, Tumanggor, dan masih banyak lagi, hampir tidak dikenal sebagai marga-marga Batak seperti yang telah tenar lebih dulu dari rumpun Batak lain seperti Sitorus, Sihombing, Sembiring, Pohan, Panggabean, Panjaitan, Silalahi, Siregar, atau Saragih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt;Perlu segera ditegaskan, kekerasan bukanlah kegemaran khusus orang Batak, dan bukan pula ciri khasnya. Semua kaum, suku, dan bangsa pernah melakukannya: di Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Papua, bahkan di semua penjuru benua dan pelosok dunia, seperti di istana raja-raja Persia, kaisar-kaisar Romawi, prabu-prabu Singosari – ingat misalnya hikayat keris Mpu Gandring  – dan sultan-sultan Mataram kuno. Barangkali cuma di benua Antartika tak ada aksi kekerasan. Dan itu jelas karena manusia apalagi keraton tidak ada di sana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(102, 255, 255);"&gt;Jalan Kekerasan Tetap Digemari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt;KEKERASAN sebagai metode mewujudkan kehendak telah dipraktikkan manusia sejak purbakala dengan sokongan ilmu dan teknologi zamannya. Meski dewasa ini kekerasan dianggap sebagai sangat buruk, dan karena itu harus dijauhi, sebab jika tidak akan dicela dan dihakimi keras oleh masyarakat beradab, tetapi nyatanya kekerasan memang membawa nikmat bagi pelakunya. Juga, jalan kekerasan terlihat sangat praktis, instan dan ekonomis, serta membawa hasil besar secara efektif. Tidak heran Brutus melakukannya terhadap Caesar di Roma, Ken Arok terhadap Tunggul Ametung di Tumapel, dan Suharto di Aceh, Papua, dan Buru. Amerika pun melakukannya di Iran, Irak, dan Afganistan; Israel di Gaza, Tepi Barat, dan Libanon; dan pekan ini pendukung bakal Provinsi Tapanuli di kantor DPRD Sumatera Utara. Bisa diduga, kita masih akan terus menyaksikan aksi-aksi kekerasan di berbagai panggung kehidupan, dari skala kecil sampai kolosal, oleh aktor-aktor individual maupun satuan-satuan resmi nasional.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt;Persaingan adalah mulanya, konflik kepentingan adalah arenanya, dan perwujudan niat menguasai adalah cita-cita ultimatnya. Sudah niscaya selalu ada pihak yang tersisih, kalah, terluka, hilang atau mati. Tetapi korban-korban itu selalu dianggap wajar belaka, memang sudah seharusnya demikian, dan karenanya baiklah diabaikan atau dilupakan begitu saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt;Pada saat yang sama, pihak pelaku kekerasan, apalagi jika hasilnya besar, selain memperoleh kenikmatan intrinsik yang hebat -- perhatikan misalnya ekspresi puas wajah-wajah para pendemo saat berhasil menjebol gerbang, mengobrak-abrik ruang sidang, atau meninju wajah  Aziz Angkat -- oleh kaumnya akan dielu-elukan sebagai pahlawan, diberi legitimasi legal, dihadiahi berbagai privilese, serta dikukuhkan posisinya dalam panteon sosial mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt;Saat di zaman mutakhir ini, meminjam istilah Thomas L. Friedman, dunia sudah semakin datar – ketika peristiwa-peristiwa kekerasan bisa ditonton lalu diskusikan lewat televisi layar datar – maka kita pun meniru dan mempelajari kekerasan itu, tidak saja caranya dan tekniknya, tetapi juga nafsunya dan motivasinya, sekaligus dan serentak. Demikianlah etos kekerasan merambah makin luas dan berakar makin dalam di seluruh dunia. Tinggal menunggu momen ledak yang pas. Disederhanakan, kira-kira begitulah keterangan Rene Girard, sejarawan dan filsuf kondang kelahiran Avignon, Prancis, tentang situasi dan dinamika kekerasan dewasa ini dalam sejarah kontemporer kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(102, 255, 255);"&gt;Pancaroba Demokrasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt;DEMOKRASI sebagai sebagai suatu sistem, prinsip, proses dan prosedur sesungguhnya tidaklah asing bagi orang Batak sejak zaman pra-kolonial. Bahkan di zaman Orde Baru yang sistem politik nasionalnya tidak demokratis, di tingkat adatnya orang Batak tetap saja bergaya demokratis. Tatkala kesempatan membentuk Provinsi Tapanuli terbuka lebar sedekade lalu bersamaan dengan tumbangnya Orde Baru, antusiasme besar segera saja melanda sebagian elit dan warga eks karesidenan Tapanuli zaman Belanda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt;Tetapi warga wilayah itu ternyata sudah banyak berubah: semakin kompleks, semakin sadar kelompok, dan semakin berbeda kepentingan maupun orientasi politiknya. Ditambah dengan belum matangnya demokrasi republik beserta semua perangkat pendukungnya di musim pancaroba era reformasi ini, provinsi yang didamba-dambakan itu tidak juga terbentuk sesudah menghabiskan begitu banyak waktu, tenaga, dan ongkos, akhirnya melahirkan rasa frustrasi yang berujung pada amuk massa. Itulah yang terjadi hari Selasa lalu di Medan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt;Namun ini tetap tak bisa diterima, demokrasi yang diniatkan sebagai sistem untuk lebih mengadabkan perilaku negara dan warganya, hanya bisa terwujud melalui jalan hukum yang tegas. Ya, hukum harus ditegakkan! Siapapun yang melanggar atau mengabaikan hukum Selasa lalu harus diproses secara hukum pula.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(102, 255, 255);"&gt;Hati Rinto Membuka Jalan Damai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt;KETIKA di tahun 80-an film laga seri Rambo mencuat terkenal yang berkoinsidensi dengan populernya lagu-lagu karangan Rinto Harahap, entah dari mana asalnya, muncullah ungkapan kocak, tampang Rambo hati Rinto, untuk menggambarkan dualitas karakter orang Batak. Tampang dan suara orang Batak yang tegas dan keras itu biasa terlihat di terminal bis, metromini, kantor-kantor, termasuk gereja-gereja, tetapi di situ juga mereka tarik suara, memetik gitar, dan melantunkan kor.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt;Tapi dualitas semacam ini pun bukanlah monopoli orang Batak. Semua orang juga begitu: bisa keras bahkan sanggup membunuh secara sadis jika terdesak namun juga memiliki sisi yang lembut, penuh cinta, romantisme, dan puisi. Guru-guru dan ajaran-ajaran kebajikan seperti yang berasal dari Siddharta Gautama, Isa Almasih, Jalaluddin Rumi hingga Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, dan Nelson Mandela yang telah mewarnai berbagai peradaban dan kebudayaan sejak dulu kala, juga mempengaruhi masyarakat Batak. Ini jelas tampak dalam keseniannya, tembang-tembang maupun sastranya, serta relasi-relasi interpersonalnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt;Jika berkonflik, sama seperti kelompok masyarakat lain, orang Batak juga mempunyai strategi budaya, perangkat adat, dan instrumen sosial tersendiri untuk menyelesaikannya. Yang terkenal misalnya sistem Dalihan Natolu dengan panduan sehimpunan kaidah canggih semisal ‘menjaga padi di ladang tanpa bandringan’ atau ‘menggembalakan kerbau di padang tanpa pecut’. Namun keberhasilan strategi dan aplikasi perangkat dan instrumen di atas pada akhirnya sangat tergantung pada kualitas pribadi warganya, efektivitas birokrasi organisasi-organisasinya, serta integritas prosedur dan mekanisme operasionalnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt;Kini, pasca anarki Medan, saat semua perangkat di atas diragukan keandalannya, warga Batak sebaiknya kembali berpaling kepada watak terhalusnya, mengakses kalbu terbaiknya, dan mengizinkan hati cantik itu – hati Rinto – kembali tampil mengalun dengan tembang merdu berjudul Jalan Penuh Damai Menunggumu. Horas bah. Njuah-njuah banta karina.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SY-idUxrRMI/AAAAAAAAAug/G5lyWJZ5S3A/s1600-h/jansen-tv.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SY-idUxrRMI/AAAAAAAAAug/G5lyWJZ5S3A/s320/jansen-tv.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300633911115334850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SY-idUxrRMI/AAAAAAAAAug/G5lyWJZ5S3A/s1600-h/jansen-tv.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Menulis di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt; bukan hal asing lagi bagi JAnsen. Dalam kurun 10 tahun ini,  puluhan  artikel ia tulis untuk harian paling top di Indonesia itu.  Untuk artikel kali ini, Jansen mengaku redaksi &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt; lah  yang memintanya. Dan ternyata dengan baik ia mempergunakan kesempatan itu untuk mendudukkan secara sepantasnya apa yang ia sebut sebagai ‘Berita politik terheboh pekan ini.’  Ia meneropongnya lewat kacamata ‘etos kekerasan.’&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Setelah tulisan itu beredar luas, sejak pagi hingga sore di hari Sabtu yang mendung itu, bertubi-tubi komentar orang berdatangan menghampiri ponsel Jansen mengapresiasi tulisannya.  Saya tahu itu karena sebagian besar SMS  semacam itu dia forward  kepada kami teman-temannya.  Pagi-pagi sekali tatkala usai membaca tulisan itu, saya juga mengirimkan komentar bernada canda kepadanya, begini:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Horas,  njuah-njuah. Mantap juga halaman 7 Kompas hari ini. Kalau aku  redakturnya, akan kupertahankan judul ‘Rambo Berhati Rinto’ itu.  Hahahaha.” Eben&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Pesan ini dibalasnya dengan nada tak kalah kocak:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalau  aku redakturnya, akan kunaikkan honornya. Hahaha.” Jansen Sinamo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Selanjutnya, berbagai pesan pendek seperti tak terbendung lagi. Diantaranya adalah yang berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Pak  Jansen, tks u/ tulisan yg cantik + menyentuh di Kompas pagi ini.  Semoga semua orang Batak membacanya. Kapan Tatap terbit lagi?” Dr.  Jan Aritonang (Rektor Sekolah Tinggi Teologia Jakarta—pen)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Pak  Jansen, sy terharu baca ‘Kekerasan bukan Kegemaran orang Batak.’  Kiranya semakin produktif menulis sebagai pemerhati etos.  Menjuah-juah karina.” Johny Tarigan&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:Georgia,serif;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: italic;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Kekerasan  bukan kegemaran orang BATAK, tetapi kekerasan tetap digemari….  Hehehehe.” Par Medan&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:Georgia,serif;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;/p&gt;  &lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Orang  Batak masih di koridor dalihan natolu kok. Yang tidak, cuma XXX dan  antek-anteknya, hehehe. Mantab oe. Apalagi salam terakhir i,  Njuah-juah banta karina.” HMB&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:Georgia,serif;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;/p&gt;  &lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Pak,  memang benar, Batak tidak suka kekerasan. Sukanya nyanyi. Tks  artikelnya di Kompas.” Lilik Agung.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:Georgia,serif;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;/p&gt;  &lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Good  article on Kompas today. Cuma marga Damanik or Dominique tdk  tercantum hehehe.” Dr Ladjiman Damanik&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;/p&gt;  &lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Semoga  orang Batak tak pakai pecut dalam menggembalakan hasratnya, sambil  membangun jalan nir-kekerasan. Makasih Pak atas tulisannya.” Dr.  Martin Sinaga STh&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Pak  Jansen, sy sangat terkesan dg artikelnya di Kompas hari ini. Memang  secara perlahan harus mulai ada yg mendudukkan persoalan dlm  porsinya, seperti Tumanggor dlm Newslink. Bravo dari LMPP.” Luhut  M. Pangaribuan (pengacara, pen).&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:Georgia,serif;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;/p&gt;   &lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sy lahir dan dibesarkan di Mdn. Org Batak emang lbh banyak  sisi lembutnya.  Demo kehilangan kesabaran sesaat adalah bagian dari sifat manusia. Sy setuju dengan artikel abang di Kompas.” Yusri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Sekitar selepas tengah hari, Jansen menelepon. Kali ini dia mengabari bahwa berdasarkan  tulisannya di &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt; hari itu, ia diminta oleh  Metro TV untuk diwawancarai seputar hal yang sama di acara &lt;i&gt;Metro Hari Ini&lt;/i&gt;.  Di akhir perbincangan telepon itu, Jansen masih sempat mengucapkan kalimat &lt;i&gt;jokes&lt;/i&gt; dari Bahasa Toba, ‘&lt;i&gt;Nanggo apala i&lt;/i&gt;,’ yang belakangan ini kerap kami sampirkan ketika membicarakan apa saja. Artinya kira-kira, “Lumayan lah, ada juga artinya…..”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Benar saja, ketika beberapa menit berlalu dari 17.30 tatkala acara Metro TV memulai siaran &lt;i&gt;Metro Hari Ini&lt;/i&gt;, wajah Jansen Sinamo terlihat di televisi.  Ketika itu saya tengah di Carrefour Bumi Serpong Damai menemani Amartya dan ibunya berbelanja.  Dengan wajah badak tak tahu malu, saya terpaksa memohon kepada penjaga barang-barang elektronik untuk mengganti channel salah satu televisi yang dipajang di sana ke saluran Metro TV. Untung sang penjaga juga cukup ramah dan antusias menyaksikan tayangan itu. Di segmen wawancara pada &lt;i&gt;Metro Hari Ini&lt;/i&gt;, Jansen ditandemkan dengan Budi Rajab, antropolog dari Universitas Padjadjaran. Menarik juga selama lebih kurang 30 menit mereka berdua saling memberi pendapat dan pertanyaan di seputar aksi ‘&lt;i&gt;democrazy&lt;/i&gt;’ yang berlangsung di gedung DPRD Sumatera Utara yang menewaskan Azis Angkat, orang Batak Pakpak yang jadi ketua DPRD di sana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Pada intinya, Jansen Sinamo mengemukakan bahwa kekerasan bukan lah budaya orang Indonesia, termasuk Batak, dalam menyelesaikan persoalan. Di tiap-tiap budaya ada mekanisme yang mengedepankan kehalusan, kelembutan dan diplomasi dalam menuntaskan sengketa. Bahwa &lt;i&gt;democrazy&lt;/i&gt; di Medan itu telah berubah menjadi anarkisme, ada banyak dimensi penyebabnya, termasuk oleh lemahnya kepemimpinan. Begitu kira-kira pendapat Jansen.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Atas penampilannya di televisi itu, seseorang mengirimkan SMS berbunyi begini:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Pak Jansen, sy nonton bpk di metro  --dengan tongkat naganya...sdh spt gus dur pak, sakti mandraguna, truly impacting  society banget....”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Beberapa pekan sebelumnya, Jansen dan kami beberapa orang rekannya ber-kombur-kombur dalam rangka memberangkatkan Om Dr. Martin Sinaga bertugas ke Jenewa.  Diantara yang hadir, adalah karib masa kecil Jansen, yakni Hans Miller Banurea yang wartawan infotainment, aktivis organisasi sosial serta  pengamat dan pemerhati musik yang sudah sering masuk TV. Tak mengherankan jika Jansen dan Hans tak putus-putusnya menertawakan diri mereka sendiri lewat lelucon-lelucon tentang Desa Sukarame, tempat dimana mereka menghabiskan masa kecil. Karena demikian udiknya desa itu, sampai-sampai ‘Orang Sukarame’ jadi semacam julukan untuk mencerminkan keterbelakangan, sifat norak dan ketinggalan zaman. Maka tatkala dulu Hans untuk pertama kalinya tampil di televisi sebagai pengamat musik, Jansen langsung berkirim SMS bahwa baru karibnya  itu lah anak  Sukarame  yang  masuk  TV.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Kini seseorang dari Sukarame lainnya  telah menjalankan tugasnya dengan baik. Lewat tulisannya di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;. Lewat penampilannya di Metro TV dan tentu saja lewat perjuangan tak kenal lelah sebagai Guru Etos.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Hahaha, &lt;i&gt;nanggo apala i, ate&lt;/i&gt; Bang Jansen. Kalau ada Batak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Award&lt;/span&gt;, mestinya Anda masuk nominasi ya...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;-selesai-&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;  &lt;/p&gt; ciputat, 8 Februari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-6292028688060714988?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/6292028688060714988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=6292028688060714988' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/6292028688060714988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/6292028688060714988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2009/02/anak-sukarame-masuk-tv.html' title='Anak Sukarame Masuk TV'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SY-isVErVKI/AAAAAAAAAuo/_f9_z53NGGg/s72-c/jansen-tv2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-2747243371164695846</id><published>2009-02-01T21:32:00.000-08:00</published><updated>2009-02-08T19:42:33.515-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Farewell Party untuk Om Pendeta'/><title type='text'>Farewell Party untuk Om Pendeta</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Di zaman keemasan peradaban Yunani, 400 tahun sebelum Kristus, filosof Plato menulis DIALOGUE yang, di zaman sekarang ini, dianggap merupakan filsafat yang paling berpengaruh terhadap dunia Barat. Dituliskan dalam bentuk perdebatan-perdebatan, DIALOGUE penuh dengan upaya pencarian  berkesinambungan akan kebenaran dan merupakan drama tiada henti dari pertentangan intelektual.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;blockquote&gt;(&lt;i&gt;Great Dialogues of Plato&lt;/i&gt;,  W.H.D. Rouse, New American Library,  1956)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Filsafat atau topik-topik berat lainnya, ternyata dapat juga nikmat diperbincangkan dan diperdebatkan sambil bersantap malam. Saya tidak membual tentang ini. Lagipula ini bukan ide baru. Dulu di Athena tatkala para sofis di zaman ‘kuda gigit besi’ masih menikmati privelese mereka untuk luntang-lantung menjajakan ide dan mendebat siapa saja yang mereka temukan, nikmatnya berfilsafat sambil bersantap malam telah mereka alami.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SYZ-sLYUZVI/AAAAAAAAAso/737tvLBT4IQ/s1600-h/gen+night6.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SYZ-sLYUZVI/AAAAAAAAAso/737tvLBT4IQ/s320/gen+night6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298061309082101074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Paling tidak, begitu lah hikayat yang pernah dituturkan oleh buku yang pernah saya baca. Dalam &lt;i&gt;Great Dialogues&lt;/i&gt; &lt;i&gt;of Plato&lt;/i&gt;, misalnya, satu dari  tujuh perdebatan filsafat seru antara Socrates dan kawan-kawan (dan juga lawan-lawannya), terjadi dalam sebuah jamuan makan malam. Waktunya kira-kira di tahun 416 sebelum masehi. Tuan rumahnya,  Agathon, penyair yang baru  sukses dengan pertunjukannya di Teater Dionysis di kaki gunung Acropolis, Athena. Topik yang mereka perbincangkan (atas saran Socrates) agak-agak genit bila hanya menilik judulnya tapi jauh dari kesan tak senonoh bila kita menukik pada bahasa dan daya nalar yang mereka pakai; malam itu topik diskusi adalah Cinta (asyik kan?). Pemrasaran untuk didebat, bernama Phaidros, karib Plato yang secara khusus diundang untuk bicara malam itu. Ia  dilaporkan antara lain memberi pernyataan (saya sendiri agak kurang paham apa maksudnya) begini:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Love was a great god and wonderful earth and in heaven, especially in his birth&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;The god is honourable as being among the most ancient of all, and a proof is, that parents Love has none, nor are they mentioned by anynone, poet or not, although Hesiod does say that Chaos came first and then broad-breast Earth, the everlasting seat Of all, and Love&lt;/i&gt;.&lt;/blockquote&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Setelah itu berlangsunglah  bicara ngalor-ngidul dan panjang lebar diantara hadirin menanggapi topik yang baru disampaikan, sambil mereka minum dan makan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Terus terang, saya belum pernah tamat membaca buku &lt;i&gt;Great Dialogues&lt;/i&gt; setebal 525 halaman itu. Namun, tak bisa juga saya menghindar untuk tak mencoba membayang-bayangkan suasana diskusi para sofis di Athena di beribu abad lalu itu, tatkala Minggu, 25 Januari kemarin, Jansen Sinamo mengundang kami kawan-kawannya  menikmati &lt;i&gt;dinner&lt;/i&gt; di restoran Cosi, di FX building, Jakarta.  Tak ada topik tertentu yang jadi perbincangan sambil kami memesan makanan (yang ternyata, sebagian besar kami memilih &lt;i&gt;Chinese food&lt;/i&gt;). Tetapi seperti loncatan-loncatan kembang api di malam tahun baru imlek, ide-ide segar mau pun lapuk, isu-isu hangat mau pun basi, tentang tokoh-tokoh tenar mau pun tak dikenal, bersiliweran pada malam liburan yang  terasa asyik-- soalnya kami dapat memandangi suasana malam di segitiga emas Jakarta dari teras restoran yang berada di ruangan terbuka di ketinggian beberapa puluh meter.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Sejak mengenal dan akrab dengan Guru Etos Jansen Sinamo, saya jadi tahu salah satu kebiasaannya. Yakni, ia senang menjamu kawan-kawannya untuk berbincang-bincang tentang apa saja. Apakah untuk mendiskusikan suatu gagasan yang tak pernah bisa lekang dari kepalanya, merencanakan proyek ‘intelektual’ yang rada-rada gawat mau pun remeh-temeh,  ingin ‘mengisi ulang’ pengetahuannya tentang isu-isu di seputar budaya Batak yang merupakan salah satu favoritnya, atau kala ingin menuntaskan rencana-rencana lain yang sifatnya lebih konkrit. Jansen Sinamo tampaknya senang melakukannya melalui jamuan makan, entah itu berupa  ngopi di kafe Oh La La di kawasan Imam Bonjol,  breakfast yang nikmat di  kafe di Hotel Mandarin, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;brunch&lt;/span&gt; di Hotel Sultan (dahulu, Hilton) atau pun menikmati makanan khas Batak di restoran Tabo Toba di kawasan Manggarai.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SYaAsoM_MNI/AAAAAAAAAsw/2O--LDBuSHs/s1600-h/gen+night5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SYaAsoM_MNI/AAAAAAAAAsw/2O--LDBuSHs/s320/gen+night5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298063515842457810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Malam 25 Januari lalu itu, Jansen Sinamo mengundang  kolega-koleganya para awak dan fans  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;TATAP&lt;/span&gt;. Yang disebut belakangan ini adalah sebuah majalah budaya dengan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; tag line: Bacaan kaum terdidik Batak&lt;/span&gt;.  Majalah dengan gaya bertutur ala &lt;i&gt;New Yorker&lt;/i&gt; ini, memang dipimpin oleh Jansen Sinamo sejak dua tahun lalu.  Redakturnya terdiri dari para cendekiawan dan wartawan senior. Sudut pandang mereka dalam memahami dan meneropong permasalahan kultur Batak selalu dalam cara yang &lt;i&gt;beyond&lt;/i&gt; dari apa yang terlihat hari ini, meskipun berbagai fenomena yang mereka telisik selalu disandarkan pada fakta-fakta historis.   Tak mengherankan bila istri saya yang orang Jawa itu, termasuk fans berat dari majalah ini, yang menyebabkan saya sering kena damprat bila tidak mendapat kiriman majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;TATAP.&lt;/span&gt; Dengar-dengar, Menristek Kusmayanto Kadiman,  juga pembaca yang setia majalah ini. Untuk sementara ini &lt;span style="font-style: italic;"&gt;TATAP&lt;/span&gt; memang istirahat terbit sehubungan dengan sakitnya sang Guru Etos. Namun Jansen sendiri tampaknya tak mau membiarkan nyawa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;TATAP&lt;/span&gt; lenyap. Ia  menghidupkannya terus dengan memelihara komunitas awak TATAP yang perangai dan pikiran-pikiran mereka –menurut dugaan saya yang subjektif--  mirip-mirip lah dengan para sofis di kota Athena. Selain dengan kongkow-kongkow begini, komunikasi para TATAPwan juga sudah dibina lewat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mailing list&lt;/span&gt; dan rencana pembuatan TATAP online. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Malam itu, ‘judul’ dari santap malam kami adalah &lt;i&gt;Geneva Night&lt;/i&gt;. Bukan sekadar gagah-gagahan, tapi memang ada maksudnya. Sebab dalam waktu tak lama lagi,  kota Jenewa  akan menjadi tempat bermukim salah satu rekan kami.  Rekan itu adalah Pendeta Dr. Martin Sinaga STh, dosen Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, salah seorang anggota Dewan Redaksi majalah TATAP sekaligus juga sahabat karib Jansen Sinamo.  Martin mendapat penugasan baru di LWF (&lt;i&gt;Lutheran World Federation&lt;/i&gt;, federasi beranggotakan 140 gereja lutheran di 79 negara di seluruh dunia) di Jenewa selama dua tahun.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Walau pun dunia di zaman sekarang ini konon sudah &lt;i&gt;flat &lt;/i&gt;sehingga kata berpisah tidak relevan lagi dari sudut pandang telekomunikasi, toh kami merasa perlu melakukan ‘pemberangkatan’ kepada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Om Pendeta&lt;/span&gt;. Samasekali bukan untuk memutuskan hubungan, justru   untuk menekankan kepadanya agar tetap menulis dan berkirim-kirim email dari kota nun jauh itu walau mungkin ia akan disibukkan oleh pekerjaan-pekerjaan barunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Demikianlah. Malam itu merupakan perjamuan perpisahan,  tapi tidak ada nuansa  melankolis apalagi sampai nangis-nangis segala.  Saat demi saat berlangsung dalam iklim  yang tak beda jauh dari riuh-rendahnya para &lt;i&gt;raja-raja parhata &lt;/i&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;(pengetua adat)&lt;/span&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Batak ketika memperbicangkan besarnya &lt;i&gt;sinamot&lt;/i&gt; (uang mahar) di musyawarah-musyawarah kaumnya. Dan, diam-diam saya jadi terpikir-pikir, kalau  dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;DIALOGUES&lt;/span&gt;-nya Plato begitu rapi ketika menuturkan perdebatan-perdebatan Socrates dan rekan-rekannya sehingga tak ubahnya seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Q &amp;amp; A&lt;/span&gt; pada buku-buku panduan pengunaan barang elektronik, dugaan saya ‘transkrip’-nya itu pasti lah hasil dari ‘menjahit’ dan menyunting ribuan bahkan ratusan ribu kalimat-kalimat ngalor-ngidul dalam pertemuan bernada riuh-rendah seperti &lt;i&gt;dinner&lt;/i&gt; kami, malam itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Redaktur TATAP  yang hadir malam itu selain Jansen dan  Martin Sinaga adalah  Nabisuk Naipospos, wartawan senior yang bekerja pada koran terkemuka di Jakarta. Lalu Has Sirait, mantan wartawan pada sebuah koran bisnis kondang dan kini mencemplungkan diri pada aktivitas LSM.  Hadir pula Eka Ginting, bisnismen yang menaruh perhatian besar pada masalah-masalah budaya dan politik.  Juga tak ketinggalan Hans Banureah wartawan infotainment yang kocak, f&lt;i&gt;acebooker&lt;/i&gt; dengan banyak penggemar,  punya banyak file MP3 lagu-lagu Batak dan lagu-lagu bikinannya sendiri. Edward Tigor Siahaan, fotografer kenamaan berhalangan hadir karena tidak bisa meninggalkan acara arisan di rumahnya. Juga Benget Simbolon, bekas wartawan Jakarta Post, tak bisa datang karena ada acara keluarga. Saya sendiri sebagai fans dan penggembira, duduk manis sepanjang perbincangan, dan dengan senang hati berpura-pura menghibur diri sendiri sebagai Plato ‘amatiran’ mengabadikan lalu-lintas percakapan itu di dalam otak sambil tak henti-hentinya mengenyangkan perut dengan makanan serba nikmat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;i&gt;Kombur-kombur&lt;/i&gt; (obrolan santai) kami dimulai dengan cerita tentang kota Jenewa. Jansen Sinamo ternyata sudah lebih awal mengerjakan ‘pekerjaan rumah’nya sehingga dengan lancar ia menjelaskan bahwa Jenewa itu adalah kota terbaik nomor dua di dunia, setelah Zurich. Ia juga panjang lebar menjelaskan apa saja kriteria yang dipakai lembaga internasional dalam menentukan kota terbaik.  Namun ‘pujian’ itu  segera ditimpali oleh Eka Ginting  dengan mengatakan  betapa sepi dan dinginnya kota itu, terutama bagi orang-orang yang terbiasa di kota hiruk-pikuk seperti Jakarta. Sambil senyum-senyum, Martin pun menukas, bahwa kota yang demikian itu  itu akan baik bagi seorang pendeta seperti dirinya. Dengan begitu, ia lebih fokus pada hobinya sebagai penulis dan pemikir, apalagi di Jenewa ‘kesejahteraannya’ akan dijamin lebih tinggi,  sementara pekerjaannya ‘cuma satu.’ Berbeda dengan pendeta di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. ‘Gajinya sedikit’ tapi ‘pekerjaannya banyak.’  Diskusi ini melahirkan tawa riuh diantara kami, karena &lt;i&gt;jokes&lt;/i&gt; tentang berbagai profesi yang kami geluti memang bukan hal tabu bagi kami walau pun sering juga membuat kuping memerah. Selanjutnya mengalir lah adu argumentasi bernada sosiologis dan filosofis, tentang betapa kritisnya orang Batak terhadap kaum rohaniawannya. Padahal kalau daya kritis seperti itu dilontarkan di kalangan suku lain, sangat mungkin akan dianggap tak tahu sopan-santun bahkan dituduh SARA.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Kami juga sempat tenggelam dalam perbicangan yang mirip-mirip dengan kuis  &lt;i&gt;Berpacu dalam Melodi,&lt;/i&gt; tatkala kami mencoba menebak-nebak apa padanan kata &lt;i&gt;Sintas&lt;/i&gt; dalam Bahasa Batak. &lt;i&gt;Sintas&lt;/i&gt; –bagi yang belum familiar—adalah kata Indonesia untuk menggambarkan pengertian dari &lt;i&gt;survival of the fittest&lt;/i&gt; dalam konteks teori evolusi Darwin yang terkenal itu. Pembicaraan ini bermula dari lontaran seorang kawan yang menyitir tulisan Jaya Suprana yang menyinggung makin salah kaprahnya orang memahami pengertian &lt;i&gt;Sintas&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;survive&lt;/i&gt; tadi.  Lucunya, sampai belasan menit kami lalui, tak juga kami temukan kesepakatan apa padanan &lt;i&gt;Sintas &lt;/i&gt;dalam bahasa Batak, entah itu Toba, Simalungun, Karo, Pakpak mau pun Mandailing. Saya termasuk yang setuju untuk mengutarakan kata &lt;i&gt;‘jugul mangolu,&lt;/i&gt;’  yang merupakan perpaduan dari kata&lt;i&gt; jugul&lt;/i&gt; (‘bandel’) dan &lt;i&gt;mangolu &lt;/i&gt;(hidup). Tapi &lt;i&gt;jugul&lt;/i&gt;  dalam Bahasa Batak Toba agak berkonotasi negatif. Jika &lt;i&gt;bandel&lt;/i&gt; dalam Bahasa Indonesia sudah sering berkonotasi positif (misalnya, dalam kalimat, &lt;i&gt;Becak Siantar biasanya mesinnya bandel&lt;/i&gt;) kata &lt;i&gt;jugul&lt;/i&gt; agaknya belum menikmati ‘naik kelas’ seperti kata &lt;i&gt;bandel&lt;/i&gt; dalam Bahasa Indonesia. Tak mengherankan bila ada yang mengusulkan agar diambil jalan termudah. &lt;i&gt;Sintas&lt;/i&gt; dalam Bahasa Batak Toba kembali saja ke kata asalnya yang dimodifikasi ala pengucapan Bahasa Batak, yakni: &lt;i&gt;Surpaip&lt;/i&gt;. Ah, sejak kapan pula orang Batak tak bisa melafalkan huruf F seperti orang Sunda?  Diskusi tentang kata &lt;i&gt;Sintas &lt;/i&gt;malam itu tak berhasil sintas!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Perbincangan lain yang menarik adalah ketika Eka Ginting bercerita dulu ketika kuliah di AS, ada mahasiswa yang meminta profesornya membuat daftar 50 buku yang harus tuntas dibaca untuk memahami ilmu tertentu secara sempurna. Konon, sang profesor menghabiskan satu semester untuk membuat daftar tersebut. Malam itu, kami mencoba memecakan  rekor sang profesor. Yakni secara random dan asal &lt;i&gt;njeplak&lt;/i&gt;, membuat daftar 50 buku yang harus dibaca untuk bisa memahami Indonesia secara utuh. Dan kami sangat nekad dan ambisius, sebab kami ingin menuntaskannya da&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SYaAsjRG0hI/AAAAAAAAAtA/Q2gh3yk0GIA/s1600-h/ffffff.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 237px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SYaAsjRG0hI/AAAAAAAAAtA/Q2gh3yk0GIA/s320/ffffff.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298063514517557778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;lam &lt;i&gt; dinner&lt;/i&gt; malam itu juga, hahahahha.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Aneka judul buku dan nama pengarang terlontar. Yang paling banyak disebut adalah nama Pramudya Ananta Toer. Hanya saja tak ada yang sepakat buku Pram yang mana yang harus dimasukkan dalam&lt;i&gt; list&lt;/i&gt;. Apakah &lt;i&gt;Bumi Manusia &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;Cerita dari Blora&lt;/i&gt; atau yang lainnya. Lalu tatkala saya melontarkan nama Romo Mangunwijaya dengan buku roman karyanya, &lt;i&gt;Burung-burung Manyar&lt;/i&gt;, ada yang rada tak setuju karena menurutnya gaya menulis sang romo agak nyinyir dan ngelantur kemana-mana. Mungkin benar juga, sebab kalimat sang Romo memang sering sangat panjang. Saya jadi ingat pada nasihat para wartawan senior di awal-awal jadi wartawan tempo hari. Kata dia kalimat yang kuat itu adalah kalimat yang pendek-pendek. Untuk membuka sebuah karangan, kalimat yang paling mantap tak boleh lebih dari delapan kata. Dan, itu belum seberapa. Konon, menurut khotbah seorang pendeta yang pernah saya dengar, kalimat paling pendek sepanjang kitab Injil hanya terdiri dari tiga kata. Bisa ditemukan pada kisah ketika Yesus melawat dan kemudian menghidupkan Lazarus. Kalimat itu berbunyi begini:….&lt;i&gt;Maka menangislah Yesus&lt;/i&gt; (Yoh 11:35).  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Namun menurut saya,  hal itu belum merupakan pembuktian yang sahih untuk mengatakan bahwa kalimat-kalimat pendek saja yang kuat. Bila seorang penulis  berpanjang-panjang dan ngelantur kemana-mana, tak otomatis ia harus dihakimi sebagai bertele-tele apalagi nyinyir. Eka Ginting berkata bahwa justru yang demikian itu lah gaya para penulis Perancis. Dan kita tahu, banyak penulis termasyhur beserta novel-noverl mereka lahir dari negeri itu. Lagipula seringkali harus dipahami terlebih dahulu konteks mengapa para penulis harus menuangkan karyanya dengan cara begitu. Apakah ada kritik tersembunyi di balik lekak-lekuk logika yang dipakainya atau ada ‘sandi’ tertentu untuk membuat ide-ide yang dilontarkannya tertancap dalam secara lamat-lamat ke benak pembacanya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Pada kenyataannya ambisi kami untuk membuat ‘daftar 50 buku yang harus dibaca’ itu tak kesampaian. Lebih tepatnya, kami kelelahan sekaligus kebingungan memilih-milah, karena akhirnya kami sadari terlalu banyak buku bagus dan penulis bagus untuk bisa kita baca dalam rangka memahami Indonesia. Juga banyak buku yang melambung tinggi oleh proses yang bersifat &lt;i&gt;emergence.&lt;/i&gt; Terlontar dan melesat secara tak terduga oleh proses saling kait-mengaitnya berbagai komponen yang tanpa preseden. &lt;i&gt;Habis Gelap Terbit lah Terang-&lt;/i&gt;nya Kartini, atau &lt;i&gt;Laskar Pelangi&lt;/i&gt;-nya Andrea Hirata, mungkin adalah dua contoh diantaranya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Perbincangan yang paling menarik dan mengundang tawa pasti lah manakala kami mencoba menertawakan diri sendiri lengkap dengan keudikan dan keterbelakangannya.  Misalnya, tentang sebuah desa di Sidikalang bernama Sukarame, tempat Jansen Sinamo dan Hans Banureah menghabiskan masa kanak-kanak. Dari dahulu kala, menurut kedua pria asal Sukarame ini, desa itu selalu berkonotasi kampungan, kuper, tertinggal dan aneka sebutan lain untuk menggambarkan keterbelakangan. Itu sebabnya ketika Hans Banureah yang juga seniman dan pengamat musik itu suatu hari tampil di televisi, kontan saja Jansen Sinamo berkomentar kepada Hans secara berkelakar, bahwa baru Hans lah dari desa Sukarame yang pernah masuk televisi. Saya tak habis-habisnya tertawa melihat bagaimana antusiasnya Jansen dan Hans menetawakan diri mereka sendiri serta desa asal mereka itu. Jadi ingat lingkungan tempat saya tinggal di Sarimatondang. Nama aslinya dulu di zaman Belanda sebetulnya keren: &lt;i&gt;Land Bouw&lt;/i&gt; yang berarti tanah yang subur. Namun,  karena lidah Batak tak bisa mengucapkannya dengan pas, plus mungkin ada yang sirik atau sinis, plus karena dulu memang belum ada WC, jadi kerbau dan manusia sering sembarangan buang hajat di ladang dan di got, maka orang memelesetkan &lt;i&gt;Land Bouw&lt;/i&gt; menjadi &lt;i&gt;Lambau&lt;/i&gt;. Dalam Bahasa Batak, artinya, &lt;i&gt;makin bau&lt;/i&gt;. Pasti lah Prof.Dr. Bungaran Saragih, yang mantan menteri pertanian itu, tidak akan lupa pada sebutan lucu bagi desa tempat orang tuanya bermukim ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Sambil berbincang-bincang begitu, Hans yang membawa laptopnya asyik membuka-buka facebook, dan memasukkan foto-foto yang dipotretnya memakai ponselnya. Beberapa foto itu ia rekayasa jadi aneh-aneh, seperti yang mungkin bisa dilihat di tulisan ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SYaAstOcFSI/AAAAAAAAAs4/PW33cl2rY-4/s1600-h/jan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 276px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SYaAstOcFSI/AAAAAAAAAs4/PW33cl2rY-4/s320/jan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298063517190722850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Tidak terasa malam telah mendekati pukul 23:00 ketika &lt;i&gt;Geneva Night&lt;/i&gt; itu hampir berakhir. Jansen Sinamo, sang sahibul hajat yang lebih banyak diam dan bertindak seolah-olah seperti kepala sekolah yang bangga menyaksikan kolega-koleganya yang cerdas dan tangkas, hanya mengucapkan beberapa kalimat untuk mengakhiri jamuan itu, sebagai ucapan selamat jalan kepada Om Pendeta Martin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Bagi saya, ini lagi-lagi sebuah malam yang &lt;i&gt;priceless&lt;/i&gt;, bisa berkumpul dengan para sofis dari abad mutakhir. Mereka ini, menurut saya, adalah orang-orang yang sudah pada taraf percaya bahwa hidup bukan hanya dari ‘roti’ saja, meskipun malam itu tetap saja saya melihat kami agak bersemangat menjurus ingin mencoba sesuatu yang lain dari yang lain ketika memelototi daftar menu yang nama-namanya rada aneh di lidah dan telinga. Satu hal yang agak  ‘disesalkan’ adalah kami  terpaksa mau berkompromi meminum bir Heinekken, padahalbeberapa diantara kami sebenarnya lebih ngefans pada bir lokal bikinan negeri sendiri, yang sayangnya tidak disediakan (atau kehabisan?) di restoran berinterior futuristik itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Laporan selesai. Sekarang, &lt;i&gt;let’s  back to the real world&lt;/i&gt;, hahahahaha.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;-selesai-&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-2747243371164695846?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/2747243371164695846/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=2747243371164695846' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/2747243371164695846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/2747243371164695846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2009/02/farewell-party-untuk-om-pendeta.html' title='Farewell Party untuk Om Pendeta'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SYZ-sLYUZVI/AAAAAAAAAso/737tvLBT4IQ/s72-c/gen+night6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-6061151610249651689</id><published>2009-01-19T04:28:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T00:48:06.909-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jansen Sinamo satu dari 100 Indonesia&apos;s Best Educators of the Year versi majalah  Campus Asia'/><title type='text'>Jansen Sinamo satu dari 100 Indonesia's Best Educators of the Year versi majalah  Campus Asia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SXRwNVmdKgI/AAAAAAAAAsQ/r_AUAYUPWZs/s1600-h/campusasia.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 223px; height: 292px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SXRwNVmdKgI/AAAAAAAAAsQ/r_AUAYUPWZs/s320/campusasia.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292978836506225154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Kafe &lt;i&gt;Oh La La&lt;/i&gt; makin ramai. Untuk kesekian kalinya, Jum'at 16 Januari, kami berbincang-bincang sambil minum kopi. Jansen Sinamo mengenakan kemeja batik coklat berlengan pendek. Tangan kirinya yang selama ini agak susah ia gerakkan, kini tampak makin ringan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Ketika pertemuan kami  hampir berakhir, ponsel Jansen  berbunyi. Ia  mengangkatnya. Lama  ia berbicara diselingi tawanya yang lebar sebelum menyudahinya. Wajahnya  terlihat  cerah.  Apa pasal? Ternyata baru saja seorang mantan stafnya (yang bekerja di sebuah bank papan atas) mengabarinya berita gembira: Jansen Sinamo termasuk satu dari 1&lt;i&gt;00 Indonesia's Best Educator &lt;/i&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;menurut majalah &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Campus Asia. &lt;/i&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Guru Etos tersebut dikategorikan sebagai salah satu &lt;i&gt;Great Intellectual Impacting Society&lt;/i&gt; di Indonesia. Ia menempati urutan ke 17.    Peringkat tertinggi diisi oleh Rosihan Anwar (wartawan senior) diikuti oleh Jakob Oetama, Seto Mulyadi, Surya Paloh dan Franz Magnis Suseno. Di bawah peringkat Jansen, antara lain Sofyan Tan, Hermawan Kartajaya, Rhenald Kasali, Dewi Fortuna Anwar, Sri Edi Swasono, Effendi Gazali, Andy F. Noya, Jaya Suprana, Anna Maria Winarti Goris, Gadis Arivia dan Emha Ainun Nadjib. (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Daftar selengkapnya lihat di bagian akhir tulisan ini&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Selang beberapa menit kemudian, ponsel Jansen  makin sering berbunyi. Banyak orang mengirimkan pesan singkat mengucapkan selamat. Wajah Jansen makin ceria. Tapi ia juga tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Sebab, ternyata lelaki kelahiran Sidikalang itu tidak tahu-menahu bahwa ada pemeringkatan &lt;i&gt;Best Educator&lt;/i&gt; oleh majalah tersebut. Ia juga samasekali tidak pernah dihubungi, apalagi diberitahu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Itu sebabnya ketika kami kemudian menikmati makan siang di sebuah restoran di hotel Grand Hyatt, ia menugaskan  stafnya untuk mencari majalah dimaksud.  Rasa senang mendapat apresiasi ini rupanya bercampur pula dengan rasa ingin tahu di hatinya.  “Aneh juga, kok orang lain yang lebih dulu tahu daripada saya,” kata dia. Ikan salmon di hadapannya ia santap dengan lahap. Saya juga, tentu tak mau ketinggalan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Beberapa menit kemudian, stafnya datang membawa majalah &lt;i&gt;Campus Asia&lt;/i&gt; edisi Januari  (terbaru) yang masih terbungkus rapi dalam plastik. “Kata penjaga tokonya tidak boleh dibuka kalau tidak beli,” kata sang staf. Kami tak terlalu hirau. Segera saja kami membuka sampul plastiknya dan membolak-balik majalah itu. Lama kami mencari-cari, ternyata tak ada ulasan tentang &lt;i&gt;The Best Educator&lt;/i&gt;. Juga  tidak ada ulasan tentang Jansen Sinamo, secuil pun. Judul sampulnya justru berbunyi: &lt;i&gt;100 Doctors of Medicine.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Wah &lt;i&gt;berabe&lt;/i&gt;.  Jangan-jangan.......&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Telepon Jansen kemudian berdering. Lagi-lagi dari seseorang yang mengucapkan selamat.  Lagi-lagi Jansen menjelaskan kepada si penelepon bahwa dirinya belum juga melihat ulasan dimaksud.  Tidak lupa ia bertanya di edisi kapan kah ulasan itu ada, sebab majalah&lt;i&gt; Campus Asia &lt;/i&gt;edisi Januari yang tergeletak di meja kami, tak memuat apa pun tentang  Jansen.   &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Akhirnya perbicangan telepon itu memang bisa menjelaskan duduk perkara. Dari keterangan si penelepon, kami tahu bahwa ulasan tentang  &lt;i&gt;Indonesia's 100 Educators of The Year&lt;/i&gt; itu ada pada majalah &lt;i&gt;Campus Asia&lt;/i&gt; edisi 6  November -Desember 2008......&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SXRwNVmdKgI/AAAAAAAAAsQ/r_AUAYUPWZs/s1600-h/campusasia.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 223px; height: 292px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SXRwNVmdKgI/AAAAAAAAAsQ/r_AUAYUPWZs/s320/campusasia.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292978836506225154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;()()()&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.49in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;For the first time in history, there is now an independent ranking of educators comprising teacher, lecturers, community leaders, philantropist and pioneers who have contributed meaningfully to Indonesia's educational development. Is your name in the list?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Begitu lah majalah &lt;i&gt;Campus Asia&lt;/i&gt; memulai laporan sampulnya  yang di beri judul &lt;i&gt;Educators of the Year, Indonesia's 100 Role Models.&lt;/i&gt; Menurut majalah berbahasa Inggris yang tergabung dalam Globe Media Group ini,  di era ketika persaingan menjadi faktor kunci di berbagai area,  pemeringkatan profesi sangat diperlukan sebagai sumber evaluasi dan inspirasi. Bankir sukses belajar dari bankir lain yang sudah sukses. Perusahaan menerapkan praktik terbaik dengan belajar dari perusahaan yang sudah berhasil.  Hanya saja, di bidang pendidikan dan universitas, ranking yang ada selama ini baru memusatkan perhatian pada pencapaian akademis,  sedangkan pemeringkatan yang komprehensif dengan mengukur berbagai spektrum pendidikan belum banyak dijamah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Itu lah salah satu alasan mengapa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Campus Asia&lt;/span&gt; mengambil inisiatifnya kali ini. Pemeringkatan yang dilakukan pertama kali ini, menurut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Campus Asia &lt;/span&gt;adalah upaya awal mereka untuk merumuskan metodologi yang lebih komprehensif dalam mengukur  upaya-upaya pendidikan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Majalah itu tampaknya cukup serius untuk sampai pada hasil pemeringkatan yang dipublikasikan ini. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Campus Asia&lt;/span&gt; antara lain menulis begini:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.49in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;In completing this Top 100 Educators ranking,  our researchers conducted a careful study of the educational backgrounds, profesional track record as well as pro education ideas, concepts, contributions, breakthroughs  and other endeavors of up to 500 short listed educators.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.49in; margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.49in; margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Menurut majalah itu&lt;span style="font-style: italic;"&gt;,&lt;/span&gt; para nominasi terdiri dari guru, dosen, pemimpin masyarakat,  para profesional dari berbagai bidang hingga pembuat kebijakan di bidang pendidikan. Penyaringan hingga menjadi hanya 100 nama, dilakukan  setelah melewati berbagai fase evaluasi yang dilakukan oleh panel juri independen berdasarkan berbagai kriteria yang telah ditetapkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Ada delapan kriteria yang menjadi dasar penilaian. Meliputi &lt;i&gt;(1) cognitive  recognition &amp;amp; imparting, (2) magnitude of achievement, (3) skills &amp;amp; talent development, (4) conduct, attitude &amp;amp; personalitiy, (5) facilitation &amp;amp; empowerment of learning, (6)international exposure, (7)  social  service &amp;amp; contribution dan (8) role model &amp;amp; integrity in society.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Masing-masing kategori ini diberi skor dengan bobot yang berbeda.  Ada yang mulai dari 0-15 ada pula yang mulai dari 0-10. Penjumlahan skor itu lah yang kemudian menentukan peringkat masing-masing nominasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Untuk  sampai ke tahap pemeringkatan, setidaknya melewati lima langkah evaluasi.  Langkah (1) adalah &lt;i&gt;Profiling&lt;/i&gt;, yakni pengumpulan profil 500 nominasi. Langkah (2) &lt;i&gt;initial screening&lt;/i&gt;, yakni  penyaringan berdasarkan berbagai kriteria, al latar belakang pendidikan, jalur karier, track record,  output intelektual,  pelayanan sosial, komitmen dan konsistensi. Langkah (3) &lt;i&gt;ranking (awal)&lt;/i&gt; yang didasarkan pada analisis dan riset aksesor yang ditugaskan untuk itu, berikut argumen-argumen mereka. Langkah (4) adalah evaluasi oleh panel juri dengan menguji dan mendebat hasil penilaian sebelumnya.  Dan langkah (5) adalah  perangkingan akhir dengan menhitung skor akhir masing-masing  nominasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Sebanyak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;100 Best Educators&lt;/span&gt; in Indonesia ini dibagi menjadi lima kategori. Masing-masing&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Great Achievers from State University&lt;/span&gt; (16 tokoh), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Visionary Educators from Private Schools&lt;/span&gt; (16 tokoh), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pro Education Government and Ex Government Officials&lt;/span&gt; (19 tokoh), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Top Facilitators of Educational Endeavors&lt;/span&gt; (18 tokoh) dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Great Intellectual Impacting Society&lt;/span&gt; (30 tokoh).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Jansen Sinamo yang dinobatkan sebagai salah satu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Great Intellectual Impacting Society&lt;/span&gt;, oleh majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Campus Asia&lt;/span&gt; digambarkan sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.49in; margin-bottom: 0in; font-style: italic;" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;JANSEN SINAMO&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.49in; margin-bottom: 0in; font-style: italic;" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Jansen Sinamo is a key player behind Indonesia's first ethos-based, human resources training center. Along with his partner, he estabilished the Dharma  Mahardika Institute to build strong HR capacity through training in a profesional work ethos. His original thinking has motivated many organizations and enterprises. His interest in this field stems from his keenreading on the works of the world's great philosophers, theologians and sociologist.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.49in; margin-bottom: 0in; font-style: italic;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.49in; margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;One of his favorite is Mark Weber, a prominent thinker on work  ethos. Jansen has written many books and articles, appeared in dozens of talk shows, as a keynote speaker in seminars and run a number of foundations and social organizations.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;()()()&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SXRwNVmdKgI/AAAAAAAAAsQ/r_AUAYUPWZs/s1600-h/campusasia.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 223px; height: 292px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SXRwNVmdKgI/AAAAAAAAAsQ/r_AUAYUPWZs/s320/campusasia.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292978836506225154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="margin-left: 0.49in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;Educators are the people who shaped us to be what we are today. But their dedication is often forgotten. When will we properly appreciate them?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Kalimat ini muncul pada salah satu bagian  ulasan  di majalah &lt;i&gt;Campus Asia&lt;/i&gt;. Saya jadi ingat nasihat kakek, dulu sekali sewaktu saya mau berangkat  ke Jakarta untuk melanjutkan  sekolah SMA. Waktu itu saya khawatir sekali sebab  samasekali belum pernah ke Jakarta. Saya merasa anak paling kampungan sedunia dan bakal tak sanggup mengikuti pelajaran di kota metropolitan. Sebab, jangankan bisa ber &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lu gue lu gue&lt;/span&gt;, berbahasa Indonesia dengan fasih pun saya merasa belum mampu kala itu. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Tapi kakek, yang  pensiunan guru  itu, menenangkan saya dengan berkata. Bahwa  emas, dilempar ke lumpur mana pun, pasti akan tetap emas, akan dicari orang dan akan berkilau sebagaimana emas. “Nah, kau harus buktikan, apakah kau emas atau tidak?” kata kakek, yang juga mantan kepala sekolah itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Nasihat kakek itu, saya kira,  bisa menggambarkan perjalanan hidup Jansen Sinamo dan para edukator lainnya.  Tanpa diminta, tanpa dipaksa, selalu akan ada yang sudi memberi apresiasi bagi pekerjaan-pekerjaan baik yang telah mereka perjuangkan. Dengan tekun. Tanpa henti. Dan tetap setia walau mungkin tak selalu jalan mulus yang dilalui.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Seorang pengunjung facebook Jansen Sinamo, bernama M. Wowor, menulis sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: italic;" align="left"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;blockquote&gt;Subject: Hi Sir..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Glad you apprved my request ;-) Sy salah adalah satu org yg 'ditolong' oleh buku bpk 'Etos', sekalipun isinya memotivasi utk sukses tp tidak mengesampingkan kodrat kita sbg mahkluk ciptaan TUHAN yg sebenarnya hnya hidup dari belas kasihan dan kasih karunia-Nya. Semua buku motivator (kcuali Etos) yg sempat sy baca (sedikit), terlalu mendewakan sukses dlm karir dan hub.sosial (karir ttp no.1), seakan-akan menarik pmbaca menjauh dari penyerahan diri penuh kpd TUHAN-nya. Intinya kemuliaan hidup terletak pada seberapa sukses diri kita dlm karir. Oh ya, mama sy jg termasuk yg sangat tertolong oleh buku Etos, beliau selalu bilang, adalh kehendak TUHAN beliau mmbaca buku itu, membuatnya jd lebih 'sadar' serta menghargai akan berkat &amp;amp; karunia-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, nice to meet the author ;-)&lt;br /&gt;GOD bless Sir!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: Sy jd agak takut2 memilih kata2, mengingat buku Etos banyak menggunakan kata2 yg 'high'&lt;/blockquote&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Nah, terbukti kan, bahwa tersembunyi dimana pun, akan selalu ada apresiasi buat pencapaian-pencapaian terbaik?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt; Bang Jansen, selamat ya.......&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;--selesai&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal; font-weight: bold;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Great Intellectuals Impacting Society&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;(Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Campus Asia&lt;/span&gt;, edisi November-Desember 2008, halaman 142)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;1. Rosihan  Anwar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      2. &lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Jakob  Utama&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;3. Prof  Dr Seto Mulyadi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;4. Prof  Yoh Surya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;5. Surya  Paloh&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;6. Prof  Dr Frans Magnis Suseno&lt;br /&gt;6.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Prof Dr. Din Syamsudin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;8.&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Dr. Imam Prasodjo&lt;br /&gt;9.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Dr Mochtar Buchori&lt;br /&gt;10.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Ignatius Sandyawan Sumardi&lt;br /&gt;10.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Rev Jakob Susabda PhD&lt;br /&gt;10.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Bigman Sirait&lt;br /&gt;10.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Lambertus Somar&lt;br /&gt;10.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Dr Alex Tilaar&lt;br /&gt;15.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Butet Manurung&lt;br /&gt;16.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Hasnul Suhaimi&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold;"&gt;17.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold;"&gt;  Jansen Sinamo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;18.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Sofyan Tan&lt;br /&gt;19.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Hermawan Kartajaya&lt;br /&gt;19.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Dr Rhenald Kasali&lt;br /&gt;21.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Prof Dr. Dewi Fortuna Anwar&lt;br /&gt;22.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Onno W. Purbo&lt;br /&gt;23.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Prof Dr. Sri Edi Swasono&lt;br /&gt;24.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Dr Effendi Gazali&lt;br /&gt;25.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Andy F. Noya&lt;br /&gt;25.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Iwan Fals&lt;br /&gt;27.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Jaya Suprana&lt;br /&gt;28.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Anna Maria Winarti Goris&lt;br /&gt;29.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Gadis Arivia&lt;br /&gt;30&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;  Emha Ainun Najib&lt;/span&gt; &lt;/blockquote&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: normal;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-6061151610249651689?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/6061151610249651689/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=6061151610249651689' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/6061151610249651689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/6061151610249651689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2009/01/great-intellectual-impacting-society.html' title='Jansen Sinamo satu dari 100 Indonesia&apos;s Best Educators of the Year versi majalah  Campus Asia'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SXRwNVmdKgI/AAAAAAAAAsQ/r_AUAYUPWZs/s72-c/campusasia.gif' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-4123488465440688437</id><published>2009-01-13T01:11:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T00:49:59.614-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Membangun Indonesia dengan Etos Kerja Profesional'/><title type='text'>Membangun Indonesia dengan Etos Kerja Profesional</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Oleh Jansen H. Sinamo&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SWxiKlHTiNI/AAAAAAAAArY/p56MBsPy-z8/s1600-h/jsh.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SWxiKlHTiNI/AAAAAAAAArY/p56MBsPy-z8/s200/jsh.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290711596154456274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Jika Anda &lt;/span&gt; &lt;span lang="es-ES"&gt;manajer, eksekutif, atau pemimpin organisasi, apakah Anda &lt;/span&gt; &lt;span lang="es-ES"&gt;ingin memi&lt;/span&gt;liki &lt;span lang="es-ES"&gt;SDM yang dicirikan oleh perilaku kerja berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;blockquote style="margin-right: 0.79in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Mampu bekerja tulus penuh  rasa syukur dan keikhlasan. &lt;/span&gt;  &lt;/blockquote&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;blockquote style="margin-right: 0.79in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Sanggup bekerja tuntas  penuh integritas dan kejujuran. &lt;/span&gt;  &lt;/blockquote&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;blockquote style="margin-right: 0.79in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Mau bekerja benar penuh  tanggung jawab dan akuntabilitas. &lt;/span&gt;  &lt;/blockquote&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;blockquote style="margin-right: 0.79in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Bisa bekerja keras penuh  semangat dan antusiasme. &lt;/span&gt;  &lt;/blockquote&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;blockquote style="margin-right: 0.79in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Dapat bekerja serius penuh  kecintaan dan pengabdian. &lt;/span&gt;  &lt;/blockquote&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;blockquote style="margin-right: 0.79in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Senang bekerja kreatif  penuh sukacita dan inovasi. &lt;/span&gt;  &lt;/blockquote&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;blockquote style="margin-right: 0.79in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Selalu bekerja unggul penuh  ketekunan dan kualitas. &lt;/span&gt;  &lt;/blockquote&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;blockquote style="margin-right: 0.79in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Senatiasa bekerja paripurna  penuh kesungguhan dan kerendahan hati&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Apa jawaban &lt;/span&gt;anda&lt;span lang="es-ES"&gt;?  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Sebelum menjawab, izinkanlah saya menebak. D&lt;span lang="es-ES"&gt;uga&lt;/span&gt;an saya A&lt;span lang="es-ES"&gt;nda &lt;/span&gt;kira-kira &lt;span lang="es-ES"&gt;berkata&lt;/span&gt; begini&lt;span lang="es-ES"&gt;, “&lt;/span&gt;Bung Sinamo g&lt;span lang="es-ES"&gt;ila &lt;/span&gt;juga nih&lt;span lang="es-ES"&gt;, ideal&lt;/span&gt; banget&lt;span lang="es-ES"&gt;, mana mungkin di dunia nyata&lt;/span&gt;, apalagi di Indonesia&lt;span lang="es-ES"&gt;.”  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Jika tebakan saya benar, saya tidak menyalahkan Anda sedikit pun. Malahan, itu bukti bahwa Anda normal. Maksud saya, realita dunia kerja sebagaimana adanya Anda pahami dengan baik. &lt;/span&gt;Perilaku kerja di atas memang ideal, bahkan terkesan utopis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Tetapi, tunggu dulu. Bila dipikir-pikir lebih jauh, saya kira Anda pun setuju bahwa semua perilaku kerja di atas sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh setiap organisasi—swasta maupun Pemerintah, prolaba maupun nirlaba—agar bisa eksis, berkiprah, dan berjaya di dunia baru yang terglobalisasikan di abad ke-21 ini, zaman yang kita sebut juga sebagai era digital global.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Memang, boleh saja SDM kita membokongi semua kualitas di atas, tetapi organisasi dengan SDM bermutu rendah akan tergilas habis oleh hiperkompetisi, kemudian terpinggirkan, kemudian terbuang keluar dari gelanggang. Itu pertama. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Kedua, semua guru penganjur sukses di dunia ini di intinya mengajarkan bahwa keberhasilan adalah buah perilaku kerja yang positif. Di sini, saya tampilkan pendapat tiga guru saja.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SWxjeDBb7sI/AAAAAAAAArg/IHrCMJrOlZs/s1600-h/NapoleonHill.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 140px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SWxjeDBb7sI/AAAAAAAAArg/IHrCMJrOlZs/s200/NapoleonHill.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290713030112046786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, Napoleon Hill, dalam buku legendaris &lt;i&gt;Think and Grow Rich&lt;/i&gt; (1960), menyimpulkan bahwa jika seseorang ingin meraih sukses gemilang maka ia harus memiliki kualitas berikut: &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;1.       Keinginan besar untuk berhasil&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;2.      Keyakinan kuat bahwa sukses adalah haknya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;3.      Keyakinan pada kekuatan doa &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;4.      Daya imajinasi yang kuat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;5.      Daya pikir yang tajam &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;6.      Intuisi yang tajam &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;7.      Sikap mental positif yang ditopang otosugesti yang efektif&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;8.      Pengetahuan khusus yang dalam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;9.      Perencanaan yang teliti dan matang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;10.  Kemampuan membuat keputusan yang jitu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;11.   Ketabahan menghadapi berbagai kegagalan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;12.   &lt;/span&gt;Kemampuan mengerahkan emosi positif &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;13.   Kemampuan mengubah energi seksual menjadi energi kerja&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;14.  Kemampuan mengelola enam rasa takut utama&lt;/span&gt;: &lt;span lang="es-ES"&gt;takut miskin, takut sakit, takut dibenci, takut dikritik, takut tua, dan takut mati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SWxjem17MBI/AAAAAAAAAro/jGXvBvmKTZc/s1600-h/Stephen-R-Covey.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 180px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SWxjem17MBI/AAAAAAAAAro/jGXvBvmKTZc/s200/Stephen-R-Covey.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290713039727439890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, Stephen R. Covey dalam buku tenar &lt;i&gt;The Seven Habits of Highly Effective People&lt;/i&gt; (1989) menemukan adanya tujuh kebiasaan manusia efektif, yaitu: &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;1.       Senantiasa proaktif&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;2.      Memulai sesuatu dari akhirnya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;3.      Mengutamakan hal-hal yang utama&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;4.      Berpikir win-win&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;5.      Berusaha memahami dahulu agar dipahami&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;6.      Bekerja dengan sinergi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;7.      Senantiasa memperbarui dan mempertajam diri sendiri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, John Wareham dalam buku hebat &lt;i&gt;The Anatomy of Great Executives &lt;/i&gt;(1991) mengatakan bahwa seorang eksekutif akan bisa sukses jika ia memiliki: &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;1.       Kemampuan menampilkan persona diri yang tepat &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;2.      Kemampuan mengelola energi diri yang baik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;3.      Sistem nilai pribadi dan kontak-kontak batiniah yang jelas &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;4.      Sasaran hidup yang tersurat maupun tersirat secara jelas &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;5.      Kecerdasan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;6.      Kebiasaaan kerja yang baik &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;7.      Keterampilan antarmanusia yang baik &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;8.      Kemampuan adaptasi dan kedewasaan emosional &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;9.      Pola kepribadian yang tepat dengan tuntutan pekerjaan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;10.  Kesesuaian &lt;/span&gt;antara &lt;span lang="es-ES"&gt;tahap dan arah kehidupan dengan harapan gaya hidup&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Kesimpulannya jelas&lt;/span&gt;: u&lt;span lang="es-ES"&gt;ntuk meraih sukses &lt;/span&gt;harus ada &lt;span lang="es-ES"&gt;sikap mental, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;state 0f the mind&lt;/i&gt;, yang mewujud sebagai &lt;span lang="es-ES"&gt;perilaku kerja yang ideal. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="es-ES"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Ini di tingkat personal. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center" lang="es-ES"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Di tingkat organisasi&lt;/span&gt;onal&lt;span lang="es-ES"&gt;, agar berhasil, diperlukan seperangkat perilaku organisasi yang ideal pula. Saya tampilkan kesimpulan tiga Guru &lt;/span&gt;lainnya&lt;span lang="es-ES"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, Tom Peters dalam buku&lt;/span&gt;nya &lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;i&gt;Thriving On Chaos&lt;/i&gt; (1987) mengemukakan, agar bisa sukses, sebuah organisasi harus mampu: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;1.       Responsif terhadap kebutuhan pelanggan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;2.      Berinovasi dengan cepat &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;3.      Memberdayakan seluruh jajaran SDM &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;4.      Menampilkan kepemimpinan di setiap eselon organisasi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;5.      Membangun sistem yang lebih otonom dan terdesentralisasikan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SWxjfYYN4-I/AAAAAAAAAr4/-Sn2qcRDA0I/s1600-h/BuiltToLast.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, Collins &amp;amp; Porras dalam buku best-seller &lt;i&gt;Built to Last&lt;/i&gt; (1997) mengatakan bahwa sebuah organisasi akan mampu mencapai sukses signifikan jika ia memiliki:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SWxjfYYN4-I/AAAAAAAAAr4/-Sn2qcRDA0I/s1600-h/BuiltToLast.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 124px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SWxjfYYN4-I/AAAAAAAAAr4/-Sn2qcRDA0I/s200/BuiltToLast.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290713053024609250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;1.       Arsitektur organisasi yang dinamis &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;2.      Mampu mengelola kenyataan yang paradoks &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;3.      Ideologi bisnis yang kuat &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;4.      Sasaran-sasaran dan target-target yang agung &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;5.      Keteguhan tetapi sekaligus fleksibilitas &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;6.      Budaya kerja yang dihayati secara fanatik &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;7.      Daya inovasi yang kreatif &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;8.      Sistem pembangunan SDM dari dalam &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;9.      Orientasi mutu pada kesempurnaan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;10.  Kemampuan untuk terus-menerus belajar dan berubah secara damai&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;        &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;, Jeremy &amp;amp; Tony Hope dalam buku&lt;/span&gt;nya &lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;i&gt;Competing in the Third Wave &lt;/i&gt;(1997) mengemukakan&lt;/span&gt;, &lt;span lang="es-ES"&gt;agar organisasi mempunyai daya saing tinggi sehingga bisa tampil sebagai pemenang, &lt;/span&gt;ia &lt;span lang="es-ES"&gt;harus sanggup menjalankan sepuluh hal berikut ini: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;1.       Membangun dan menjalankan strategi bisnis yang jitu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;2.      Menampilkan sajian nilai pelanggan yang bermutu tinggi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;3.      Berkompetisi dengan basis informasi dan pengetahuan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;4.      Sistem manajemen yang berbasis pada jaringan dan proses&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;5.      Menemukan fokus pasar yang paling menguntungkan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;6.      Mengelola organisasi dan bukan mengelola angka-angka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;7.      Menyeimbangkan kontrol dan pemberdayaan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;8.      Mengelola aset intelektual&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;9.      Meningkatkan produktivitas berdasarkan nilai tambah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;10.  Menjalankan proses adaptasi dan transformasi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Mem&lt;/span&gt;pelajari &lt;span lang="es-ES"&gt;konsep Guru-Guru &lt;/span&gt;sukses &lt;span lang="es-ES"&gt;di atas—yang mereka peroleh melalui studi dan riset mendalam—bisa disimpulkan bahwa perilaku kerja yang ideal, bagaimanapun komposisinya, merupakan sebuah keniscayaan bagi orang atau pun organisasi yang ingin menang, sukses, dan berjaya di abad ke-21. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Sekarang, kembali ke pertanyaan saya di awal karangan ini. Bila Anda seorang manajer, eksekutif, atau pemimpin, apakah Anda ingin mempunyai SDM yang dicirikan oleh delapan set perilaku kerja positif tadi? Saya duga, jawaban Anda sudah lebih positif. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Persoalannya tentu, bagaimana cara memiliki SDM dengan perilaku kerja seindah itu? &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Dikatakan pendek: &lt;span lang="es-ES"&gt;bangunlah etos kerja profesional dalam SDM Anda &lt;/span&gt;pada &lt;span lang="es-ES"&gt;semua eselon organisasi, tanpa kecuali!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Dalam kalimat terakhir ini, saya langsung memakai istilah etos kerja. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="es-ES"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Apa yang dimaksud dengan etos kerja? Khususnya, apa itu etos kerja profesional?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Saya mendefinisikannya sebagai berikut: etos kerja profesional adalah &lt;/span&gt;perilaku-&lt;span lang="es-ES"&gt;perilaku kerja positif yang lahir dari keyakinan dan komitmen &lt;/span&gt;yang &lt;span lang="es-ES"&gt;total pada paradigma kerja tertentu. Dengan kata lain, etos kerja profesional adalah manifestasi dari keyakinan yang mendalam serta komitmen yang kuat pada nilai-nilai kerja tertentu yang tam&lt;/span&gt;pil &lt;span lang="es-ES"&gt;keluar sebagai perilaku kerja yang positif. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Dalam buku &lt;/span&gt;saya &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Delapan Etos Kerja Profesional &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;[2005] &lt;span lang="es-ES"&gt;saya me&lt;/span&gt;ngungkapkan &lt;span lang="es-ES"&gt;delapan etos kerja profesional sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;1.       Etos 1: Kerja adalah Rahmat; Aku bekerja tulus penuh &lt;/span&gt;rasa &lt;span lang="es-ES"&gt;syukur.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;2.      Etos 2: Kerja adalah Amanah; Aku bekerja tuntas penuh integritas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;3.      Etos 3: Kerja adalah Panggilan; Aku bekerja benar penuh tanggung jawab.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;4.      Etos 4: Kerja adalah Aktualisasi; Aku bekerja keras penuh semangat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;5.      Etos 5: Kerja adalah Ibadah; Aku bekerja serius penuh kecintaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;6.      Etos 6: Kerja adalah Seni; Aku bekerja kreatif penuh &lt;/span&gt;inovasi&lt;span lang="es-ES"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;7.      Etos 7: Kerja adalah Kehormatan; Aku bekerja unggul penuh ketekunan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;8.      Etos 8: Kerja adalah Pelayanan; Aku bekerja &lt;/span&gt;pari&lt;span lang="es-ES"&gt;purna penuh kerendahan hati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Dalam &lt;/span&gt;ungkapan-ungkapan &lt;span lang="es-ES"&gt;di atas, setiap paradigma kerja [&lt;i&gt;misalnya, kerja adalah rahmat&lt;/i&gt;]–bila diyakini sepenuh hati&lt;/span&gt; dihayati sepenuh jiwa– pastilah &lt;span lang="es-ES"&gt;akan menghasilkan perilaku kerja yang positif dan khas [&lt;i&gt;dalam &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;contoh ini&lt;span lang="es-ES"&gt;, aku bekerja tulus penuh &lt;/span&gt;rasa &lt;span lang="es-ES"&gt;syukur&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;]. Demikianlah kedelapan paradigma kerja di atas akan menghasilkan delapan &lt;/span&gt;set &lt;span lang="es-ES"&gt;perilaku kerja profesional&lt;/span&gt; yang saling koresponden&lt;span lang="es-ES"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;SUKSES PERSONAL&lt;/span&gt;, &lt;span lang="es-ES"&gt;SUKSES ORGANISASIONAL&lt;/span&gt;, &lt;span lang="es-ES"&gt;SUKSES SOSIAL&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="es-ES"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Studi serius bertahun-tahun tentang kunci-kunci sukses akhirnya membawa saya pada kesimpulan tegas: &lt;i&gt;etos kerja adalah akar dari semua keberhasilan, baik di tingkat personal, organisasional, maupun sosial. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Untuk memahaminya, saya mengajak Anda meninjau konsep keberhasilan pada tiga tingkatan itu. Di atas, secara ringkas, saya sudah perkenalkan dua kelompok tokoh penggagas kunci-kunci sukses. &lt;/span&gt;Kelompok pertama, Napoleon Hill, Stephen R. Covey, dan John Wareham. Kelompok kedua, Tom Peters, Collins &amp;amp; Porras, serta Jeremy &amp;amp; Tony Hope. Sebenarnya, ribuan orang sudah menulis puluhan ribu buku tentang kiat, prinsip, hukum, kaidah, asas, atau kunci keberhasilan. Saya memilih enam orang saja untuk mewakili dua kelompok tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Apa beda keduanya? &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Bedanya, kelompok pertama memfokuskan studi mereka pada ranah personal, artinya kunci-kunci sukses yang mereka gagas ditujukan untuk membangun sukses individual. Sedangkan kelompok kedua memfokuskan studi mereka pada ranah organisasional, artinya kunci-kunci sukses yang mereka gagas ditujukan untuk membangun sukses organo-manajerial, terutama perusahaan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Tetapi, di tingkat yang lebih luas, kita juga membutuhkan kunci-kunci sukses pada ranah sosial, yaitu gagasan konseptual untuk memajukan suatu masyarakat, suku bangsa, dan bahkan negara. &lt;span lang="es-ES"&gt;Ketiganya penting difahami secara tuntas dan mendalam serta kemudian diintegrasikan secara harmonis, karena sebenarnya manusia hidup pada ketiga tingkat itu secara serentak sekaligus: personal, organisasional, dan sosial.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Etos kerja—akan saya tunjukkan nanti—merupakan kunci sukses yang sangat unik, karena ia sekaligus sanggup menjadi fundamen keberhasilan pada ketiga &lt;/span&gt;ranah &lt;span lang="es-ES"&gt;itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Tetapi meskipun sangat unik, dan karena itu istimewa, perlu segera saya tegaskan bahwa etos kerja bukan satu-satunya kunci sukses. Yang benar, etos kerja adalah fondasinya. Etos kerja adalah fundamen keberhasilan. Etos kerja adalah akar kesuksesan. Dengan kata lain, etos kerja merupakan sebuah syarat perlu [&lt;i&gt;necessary condition&lt;/i&gt;] tetapi belum merupakan syarat cukup [&lt;i&gt;sufficient condition&lt;/i&gt;].&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Etos kerja sebagai kunci sukses, sejauh ini merupakan bahan kajian sosiologi, dan karenanya terkesan hanya relevan untuk keberhasilan sosial saja. Tetapi saya berpendapat, hal ini tidak benar. Salah satu tujuan saya menulis buku &lt;/span&gt;di atas &lt;span lang="es-ES"&gt;ialah untuk membawa konsep etos kerja turun dari wilayah sosial menukik ke ruang organo-manajerial serta ke ranah individual. Dengan demikian, etos kerja akan bisa tampil&lt;/span&gt; secara &lt;span lang="es-ES"&gt;lebih luas, tidak saja di kampus-kampus, tetapi juga di ruang-ruang rapat eksekutif dan ruang-ruang perenungan pribadi orang-orang yang ingin naik ke orbit sukses yang lebih tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;TEORI SCHUMACHER TENTANG SUKSES NEGARA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Seorang tokoh penting penggagas sukses di tingkat sosial adalah  E. F. Schumacher [1911-1977] yang terkenal, antara lain, karena judul bukunya yang puitis: &lt;i&gt;Small Is Beautiful&lt;/i&gt; (1973). Lebif spesifik, Schumacher dikenal sebagai penganjur strategi pembangunan ekonomi secara gradual, dari kecil menuju besar, perlahan seiring dengan kemajuan pengetahuan dan disiplin masyarakat, termasuk institusi ekonomi pendukungnya. Intisari pikiran Schumacher dapat kita simak dari kutipan berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SWxje2SFalI/AAAAAAAAArw/fLJ6uX79LbA/s1600-h/EFschumacher.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SWxje2SFalI/AAAAAAAAArw/fLJ6uX79LbA/s200/EFschumacher.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290713043872082514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; margin-right: 0.75in; text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Saya yakin bahwa dari berbagai sebab kemiskinan, faktor-faktor material—seperti kekurangan sumber daya alam, modal, dan prasarana—hanya merupakan sebab sekunder saja. &lt;span lang="es-ES"&gt;Sebab primernya adalah kekurangan di bidang pendidikan, organisasi dan disiplin.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; margin-right: 0.75in; text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="es-ES"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Pembangunan tidak dimulai dengan barang, tetapi dimulai dengan manusia: pendidikannya, organisasinya, dan disiplinnya. Tanpa ketiga komponen ini, semua sumberdaya tetap terpendam, tak dapat dimanfaatkan, dan tetap merupakan potensi belaka.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; margin-right: 0.75in; text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="es-ES"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Adanya negara-negara yang makmur walaupun kekayaan alamnya sangat sedikit, membuktikan betapa pentingnya ketiga komponen yang tidak kelihatan tersebut. Hal ini lebih nyata kelihatan sesudah Perang Dunia II. Betapapun hebatnya kehancuran yang dialami akibat perang tersebut, namun negara-negara dengan tingkat pendidikan, organisasi, dan disiplin yang tinggi (terutama Jerman dan Jepang) kemudian mampu menciptakan keajaiban ekonomi.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; margin-right: 0.75in; text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Tetapi sebenarnya hal ini hanya ajaib bagi orang yang hanya melihat puncak gunung esnya saja. Puncaknya barangkali hancur, tetapi badan gunung itu—pendidikan, organisasi,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;i&gt;dan&lt;/i&gt; &lt;i&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;disiplin&lt;/span&gt;nya&lt;/i&gt;—&lt;i&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;tetap masih utuh. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Schumacher menolak tegas strategi pembangunan lompat katak. Menurutnya, modal utama pembangunan adalah SDM, bukan sumber daya material atau uang. Dua yang terakhir ini &lt;/span&gt;bersifat &lt;span lang="es-ES"&gt;sekunder. Tetapi SDM itu primer. Dan membangun SDM tidak mungkin &lt;/span&gt;secara &lt;span lang="es-ES"&gt;lompat katak. Hanya bisa gradual tetapi kontinual&lt;/span&gt; saja&lt;span lang="es-ES"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Tapi p&lt;span lang="es-ES"&gt;emikiran  Schumacher diabaikan orang di negara-negara &lt;/span&gt;yang &lt;span lang="es-ES"&gt;sedang berkembang seperti Indonesia. Pada zaman Orde Baru, Indonesia lebih suka menggunakan teori lepas landas dengan mengadakan lompatan-lompatan pembangunan secara spektakuler. Tetapi terbukti kemudian, tanpa dukungan etos kerja SDM bermutu tinggi serta kualitas profesionalisme organisasi di segala lini, Indonesia akhirnya terjungkal ke ngarai utang disertai berbagai krisis dan tragedi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="es-ES"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Sekali lagi, SDM adalah kunci utama! &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Satu inti kualitas SDM yang disebut Schumacher ialah disiplin. Dan, jika disiplin dalam badan gunung es Schumacher saya rampatkan menjadi etos kerja, maka tiga komponen sukses yang tidak kelihatan itu akan tampak seperti tubuh gunung es yang sembilan-per-sepuluh bagian tersembunyi di dalam samudera.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.75in; margin-right: 0.2in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;1.       &lt;b&gt;Pendidikan:&lt;/b&gt; Dalam komponen ini termasuk segala jenis pengetahuan, ilmu, teori, prinsip, kaidah, pedoman, konsep, ide, gagasan, paradigma, beserta kiat-kiat teknisnya; baik yang diperoleh lewat pembelajaran formal maupun informal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.75in; margin-right: 0.2in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;2.      &lt;b&gt;Keterampilan Organisasional:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="es-ES"&gt;Dalam komponen ini termasuk semua bentuk kemampuan mengelola organisasi seperti &lt;/span&gt;keterampilan &lt;span lang="es-ES"&gt;perencanaan, eksekusi, pengendalian, pengoordinasian, pemecahan masalah, dan evaluasi untuk perbaikan. Juga, termasuk seluruh talenta kepemimpinan seperti visi, teknik pemberdayaan, komunikasi, inspirasi, dan motivasi. Pokoknya semua keterampilan organisasional yang umumnya berbasis pada &lt;/span&gt;kelompok &lt;span lang="es-ES"&gt;ilmu manajemen dan organisasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.75in; margin-right: 0.2in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;3.      &lt;b&gt;Etos Kerja: &lt;/b&gt;Dalam komponen ini termasuk semua jenis perilaku kerja seperti disiplin, efisien&lt;/span&gt;si diri&lt;span lang="es-ES"&gt;, komitmen, &lt;/span&gt;ke&lt;span lang="es-ES"&gt;ulet&lt;/span&gt;an&lt;span lang="es-ES"&gt;, hemat, giat, tabah, ramah, kreatif, positif, inovatif, imajinatif, efektif, proaktif, kerja keras, antusias, integritas, dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="es-ES"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Ketiga komponen utama di atas memang tidak kelihatan. Semuanya berada dalam diri manusia yang tersimpan dalam berbagai bentuk kompetensi, keahlian, dan kemampuan insani operasional. Dan apabila ketiganya digunakan di dalam dan melalui kerja, ia akan keluar berbentuk kinerja, prestasi, dan produksi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="es-ES"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Inilah sesungguhnya yang disebut SDM, tepatnya sumber daya yang tersimpan dalam diri manusia, yang dapat digunakan menghasilkan apa saja yang dihendaki manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="es-ES"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Hasil khusus dari pemanfaatan ketiga jenis sumber daya manusia di atas adalah barang-barang material dalam berbagai bentuk dan fungsi, seperti kursi, meja, gedung, pabrik, irigasi, jalan raya, lapangan terbang, mesin-mesin, alat-alat transportasi, sistem telekomunikasi, jejaring komputer, dan lain-lain. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="es-ES"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Pada tingkat selanjutnya, dengan menggunakan SDM ini, kita akan mampu mengolah benda-benda material yang telah ada—dalam bentuk kekayaan alam asli maupun hasil-hasil olahan kerja tingkat pertama—menjadi barang-barang material lain yang memiliki nilai tambah lebih tinggi melalui serangkaian proses aksi dan produksi. Oleh karenanya, sekali lagi, barang-barang material memang berfungsi sebagai komponen sukses sekunder. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="es-ES"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Semua barang material ini bersifat kasat mata, riil, terukur, serta bisa dipindah-pindahkan, dipertukarkan, atau diperjualbelikan dengan perantaraan alat tukar yang kita sebut uang. Di sini, selain berfungsi sebagai modal sekunder, uang juga kemudian berfungsi sebagai bentuk transformasi dan akumulasi dari barang-barang material, sekaligus menjadi ukuran kinerja atas kemampuan memanfaatkan SDM bersama sumber-sumber daya lainnya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Dengan demikian, teori Schumacher di atas sekarang dapat saya &lt;/span&gt;modifikasi sebagai berikut&lt;span lang="es-ES"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt; istilah disiplin saya rampatkan menjadi etos kerja seperti telah dijelaskan sebelumnya. Perampatan ini dapat diterima karena disiplin hanyalah salah satu dari sejumlah perilaku positif yang menunjang sukses seperti hemat, efisien, rajin dan sebagainya. Kelompok perilaku ini memang lazim disebut etos kerja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span lang="es-ES"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;saya telah mempertajam istilah organisasi menjadi keterampilan organisasional. Penajaman ini pun dapat diterima karena memang itulah yang tersirat dalam kalimat Schumacher, “&lt;i&gt;Pembangunan tidak dimulai dengan barang, tetapi dimulai dengan manusia: pendidikannya, organisasinya, dan disiplinnya.” &lt;/i&gt;Jelas, organisasi tidak mungkin berada dalam diri manusia, tetapi sebaliknyalah. Sudah pasti, yang dimaksudnya dengan organisasi adalah keterampilan organisasional.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span lang="es-ES"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;saya telah mengubah urutan komponen sukses Schumacher menjadi: &lt;i&gt;disiplin, pengetahuan, dan organisasi&lt;/i&gt;; atau dalam rumusan baru saya menjadi: &lt;i&gt;etos kerja, pengetahuan, dan keterampilan organisasional&lt;/i&gt;. Urutan ini penting karena menjelaskan elemen mana yang lebih fundamental dibandingkan dengan elemen lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Menurut saya, etos kerja adalah elemen paling primer. Menggunakan ilustrasi baru, ibarat sebatang pohon, maka etos kerja adalah akarnya, pengetahuan adalah batangnya, berbagai keterampilan organisasional adalah cabang dan rantingnya, sedangkan uang dan berbagai barang material adalah &lt;/span&gt;sebagian &lt;span lang="es-ES"&gt;buah-buahnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Jadi, dengan etos kerja yang kuat (akar yang baik) orang bisa membangun dan meningkatkan pengetahuannya (batang). Berbasis pada pengetahuan yang ditopang oleh etos kerja yang baik tersebut, selanjutnya keterampilan organisasional pun bisa dibangun pula (cabang dan ranting). Dan dari ketiga komponen inilah kemudian dihasilkan kinerja yang membuahkan berbagai jenis barang material maupun jasa komersial.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Saya menegaskan bahwa urutan ini tidak bisa dibalik. Artinya tanpa ketiga komponen primer itu, kinerja dan buah-buah materialnya tidak akan muncul. Tanpa etos kerja dan pengetahuan, keterampilan tidak bisa dibangun. Dan tanpa etos kerja yang kuat, pengetahuan pun tidak mungkin diperoleh. Jadi &lt;/span&gt;benarlah bahwa  &lt;span lang="es-ES"&gt;etos kerja memang merupakan komponen sukses &lt;/span&gt;primer, yaitu yang &lt;span lang="es-ES"&gt;paling &lt;/span&gt;fundamental&lt;span lang="es-ES"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Seperti dijelaskan di depan, etos kerja--meskipun merupakan elemen primer--ternyata tidak bisa membawa sukses signifikan apabila pengetahuan dan keterampilan organisasional tidak berkembang secara proporsional. Pendapat ini didukung oleh tesis Mohamad Sobary dalam buku Kesalehan dan Tingkah Laku Ekonomi (1999). Di situ, Sobary mengutip penelitian Clifford Geertz atas kelompok dagang kelas menengah di Mojokuto, Jawa Timur. Dijelaskannya, dengan etos kerja santri yang mereka miliki, kelompok pengusaha Muslim memang berhasil menjadi wong dagang yang cukup berhasil, yaitu menjadi kelas menengah di Mojokuto. Tetapi keberhasilan lebih lanjut ternyata tidak bisa berkembang. Keberhasilan mereka seolah-olah membentur langit-langit seperti dilukiskan oleh Sobary berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; margin-right: 1in; text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Namun kemajuan perekonomian Mojokuto tidak berkembang tanpa masalah. Geertz memperlihatkan kelompok pengusaha Muslim tidak kekurangan modal, juga memiliki pangsa pasar yang memadai, juga memiliki semangat yang cukup besar, karena seperti telah kita lihat, kelompok ini memiliki apa yang di Barat disebut sebagai etos&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Protestan yaitu hemat, rajin,&lt;/i&gt; &lt;i&gt;dan bebas. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; margin-right: 1in; text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Yang tidak dimiliki oleh pedagang Muslim Pembaru ini di akhir tahun 1950-an pada dasarnya ada dua hal: kemampuan memobilisasi modal dan kemampuan untuk membentuk lembaga-lembaga ekonomi. Pendeknya, mereka tidak memiliki dukungan organisasional dan struktural. Mereka,— menurut Geertz—adalah pengusaha tanpa perusahaan.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="en-US"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Jadi, etos kerja yang baik tanpa diimbangi pengetahuan yang memadai (misalnya, apa produk yang digemari pasar, apa hambatan memajukan usaha, siapa pesaing-pesaing di pasar, dan sebagainya) dan keterampilan organo-manajerial (misalnya, bagaimana membentuk lembaga-lembaga ekonomi, bagaimana memobilisasi modal, bagaimana menjalankan perusahaan secara efisien, dan sebagainya), maka sukses komersial yang mungkin dicapai akan sangat terbatas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Sobary mencatat bahwa kasus Mojokuto juga terbukti di tempat lain. &lt;span lang="es-ES"&gt;Misalnya di Aceh melalui penelitian Siegel dan di Kudus melalui penelitian Castles. Penelitian Sobary sendiri di desa Suralaya atas masyarakat Betawi yang menjadi pokok bahasan bukunya, juga menghasilkan kesimpulan yang sama: mereka tidak memiliki cukup pengetahuan dan keterampilan manajemen, serta gagal mengembangkan organisasi bisnis modern sebagaimana saudara mereka di Barat seperti dikisahkan Max Weber dalam karya monumentalnya &lt;i&gt;The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism (1958). &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Apabila etos kerja awal tadi tidak mampu menghasilkan sukses &lt;/span&gt;yang &lt;span lang="es-ES"&gt;lebih tinggi karena dua kekurangan tersebut, dalam konteks persaingan dengan kelompok lain mereka kalah ini akan kalah bersaing dengan kelompok lainnya, yang pada giliran selanjutnya membawa akibat lebih fatal, yaitu melemahnya etos kerja mereka secara perlahan-lahan. Apa-lagi ditambah dengan faktor-faktor sosial-politik yang tidak menguntungkan—seperti dicatat Sobary—, maka proses pelemahan itu pun berjalan lebih cepat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; margin-right: 1.13in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.63in; margin-right: 1.13in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="es-ES"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Mereka juga gagal dalam persaingan dengan kolompok etnik Cina. Kegagalan mereka ini adalah kegagalan politik dan sosial, bukan ekonomi. Etos kelas menengah yang berada dalam diri pengusaha-pengusaha ini telah menjadi lemah. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-right: 0.59in; text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Penjelasan ini masuk akal. Jika orang sudah bekerja dengan rajin, jujur dan bersikap hemat, tetapi hasilnya tidak seberapa, bahkan kemudian kalah bersaing dengan tetangganya, secara tidak fair pula, maka semangat kerjanya akan merosot, yang pada gilirannya melemahkan etos kerja yang awalnya lumayan baik. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"&gt;Dan t&lt;span lang="es-ES"&gt;ampaknya itulah yang terjadi di Mojokuto, Aceh, Kudus, dan Suralaya. Tidak berlebihan menduga bahwa hal ini terjadi secara merata di seluruh Indonesia mengingat di masa Orde Baru struktur perekonomian negeri ini dibangun secara distorsif &lt;/span&gt;dengan ke&lt;span lang="es-ES"&gt;tidakadil&lt;/span&gt;an sistematik &lt;span lang="es-ES"&gt;bagi rak&lt;/span&gt;y&lt;span lang="es-ES"&gt;at kebanyakan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;TIGA STRATEGI&lt;/span&gt; BARU BUAT INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span lang="es-ES"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Saya memberanikan diri mengusulkan tiga strategi besar yang harus diambil serentak. &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;i&gt;Strategi pertama&lt;/i&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;kondisi sosial politik sebagai lingkungan makro bagi tumbuh kembangnya organisasi dan lembaga-lembaga ekonomi masyarakat harus ditata secara positif, sehingga bebas dari distorsi yang sarat kolusi dan korupsi. Pada dasarnya inilah yang hendak diusahakan oleh gerakan reformasi di Indonesia de-ngan memaksa mundur Presiden S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;u&lt;span lang="es-ES"&gt;harto, melaksanakan Pemilu jujur adil tahun 1999, dan membentuk pemerintahan baru sesudahnya. Cita-cita reformasi secara umum adalah penyelenggaraan pemerintahan yang jujur dan bersih, pengembangan demokrasi, pemberdayaan masyarakat, menegakkan kepastian hukum, menjunjung tinggi hak asasi manusia untuk menciptakan &lt;/span&gt;masyarakat madani &lt;span lang="es-ES"&gt;di alam Indonesia Baru. Saya pribadi meyakini alam reformasilah yang sesuai untuk tujuan menumbuhkembangkan organisasi dan lembaga-lembaga ekonomi nasional yang sanggup bermitra, bahkan bersaing dengan negara-negara &lt;/span&gt;lain&lt;span lang="es-ES"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;i&gt;Stategi kedua&lt;/i&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;etos kerja baru harus disosialisasikan dan dikaitkan secara tegas dengan upaya peningkatan ilmu dan pengetahuan masyarakat di segala bidang. Untuk itu predikat sebagai orang berilmu, berpengetahuan, atau orang pandai harus menjadi bagian integral dari visi sukses itu sendiri. Bersekolah dan belajar harus menjadi aspirasi masyarakat secara merata. Meraih gelar keilmuan setinggi-tingginya harus menjadi cita-cita baru bagi masyarakat. Dengan demikian etos kerja dan etos belajar difungsikan menjadi basis motivasi untuk meraih sukses di segala bidang. Dan dengan ini pula masyarakat akan berkembang menjadi masyarakat yang cerdas dan berpengetahuan. Yang harus dicegah ialah pemberhalaan gelar-gelar keilmuan yang tampak mencolok beberapa tahun belakangan ini, dimana gelar-gelar setingkat master dan doktor “diperjualbelikan” tanpa malu. Para “pembeli gelar”  mengidap sakit jiwa karena mereka dengan bangga&lt;/span&gt;nya &lt;span lang="es-ES"&gt;mengenakan gelar-gelar mentereng tetapi hampa bobot. Di pihak lain, para “penjual gelar” juga kehabisan akal kreatif, sehingga demi uang mereka rela menistakan gelar-gelar yang penuh ke-hormatan itu. Bukan itu yang kita perlukan. Yang kita cari adalah kebanggaan sehat karena prestasi keilmuan yang sejati sehingga patut menyandang gelar yang berbobot pula.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span lang="es-ES"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;i&gt;Strategi ketiga&lt;/i&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;pengembangan etos kerja harus dilaksanakan dalam konteks pendidikan dan pelatihan manajemen, dalam arti seluas-luasnya untuk memperoleh keterampilan organisasional bermutu tinggi bagi seluruh warga organisasi. Ini harus dilakukan mulai dari tingkat negara, birokrasi, dunia bisnis, dunia pendidikan, bahkan semua jenis organisasi dalam masyarakat. Dengan demikian semua organisasi, besar-kecil, swasta-pemerintah, pro-laba-nirlaba, berkembang ke arah profesionalisme yang semakin tinggi dengan basis pengetahuan dan pembelajaran yang berkesinambungan. Intinya adalah proses pengembangan mutu SDM dalam organisasi dan masyarakat secara luas. Di sini, pengembangan pribadi, pengembangan organisasi, dan pengembangan sosial berlangsung secara simultan dan saling mendukung sehingga efek sinergi pengembangan masyarakat akan terjadi secara besar-besaran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;(selesai)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-4123488465440688437?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/4123488465440688437/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=4123488465440688437' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/4123488465440688437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/4123488465440688437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2009/01/membangun-indonesia-dengan-etos-kerja.html' title='Membangun Indonesia dengan Etos Kerja Profesional'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SWxiKlHTiNI/AAAAAAAAArY/p56MBsPy-z8/s72-c/jsh.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-8729386248272714256</id><published>2009-01-01T04:44:00.000-08:00</published><updated>2009-01-01T05:01:16.590-08:00</updated><title type='text'>2009 Tahun Berkah: Semua Tergantung Anda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SVy-KoDSARI/AAAAAAAAArQ/8yNeOI7jsKQ/s1600-h/Fireworks+Display.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 162px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SVy-KoDSARI/AAAAAAAAArQ/8yNeOI7jsKQ/s200/Fireworks+Display.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286309152385270034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.2  (Win32)"&gt;&lt;meta name="CREATED" content="20090101;19423950"&gt;&lt;meta name="CHANGED" content="16010101;0"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt;&lt;/style&gt;&lt;a name="lw_1230813671_0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.2  (Win32)"&gt;&lt;meta name="CREATED" content="20090101;19423950"&gt;&lt;meta name="CHANGED" content="16010101;0"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Oleh Jansen H. Sinamo&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;MINGGU lalu sebuah email berisi kisah berikut ini masuk ke dalam inbox saya. Ceritanya, seorang ayah menjelang ajalnya, di depan isterinya, memesankan dua hal kepada kedua anak lelakinya. Pertama, jangan pernah menagih hutang dari orang yang berhutang kepadamu. Kedua, jika ke toko jangan pernah mukamu terkena sinar matahari.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Waktu berjalan terus. Dan beberapa tahun kemudian anak yang sulung bertambah kaya sedangkan yang bungsu semakin miskin.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.2  (Win32)"&gt;&lt;meta name="CREATED" content="20090101;19474881"&gt;&lt;meta name="CHANGED" content="16010101;0"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Sang ibu yang tahu persis nasihat mendiang suaminya menanyakan soal ini kepada mereka. Jawab anak bungsunya: Ini karena aku menaati pesan ayah. Ayah berpesan bahwa aku tidak boleh menagih hutang kepada orang lain. Akibatnya modalku susut terus karena orang-orang yang berhutang itu tidak mau membayar sementara aku tidak boleh menagih. Juga ayah berpesan supaya kalau ke toko dan sebaliknya aku tidak boleh kena sinar matahari. Akibatnya aku harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya aku bisa jalan kaki, dan karena pesan ayah itu, pengeluaranku bertambah banyak.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.2  (Win32)"&gt;&lt;meta name="CREATED" content="20090101;19423950"&gt;&lt;meta name="CHANGED" content="16010101;0"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Jawab anak sulungnya: Ini karena aku menaati pesan ayah. Ayah berpesan supaya aku tidak menagih kepada orang yang berutang, maka saya tidak pernah memberi hutang sehingga tidak perlu ada tagih menagih, dan dengan demikian modalku tidak pernah susut, malah bertambah. Juga ayah berpesan supaya jika ke toko aku tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Toko kubuka sebelum toko lain buka, dan kututup sesudah toko lain tutup. Karena kebiasaan itu, orang jadi tahu bahwa jam kerja tokoku lebih lama, sehingga penjualanku lebih banyak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;()()()&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.2  (Win32)"&gt;&lt;meta name="CREATED" content="20090101;19423950"&gt;&lt;meta name="CHANGED" content="16010101;0"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Kisah di atas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat, sebuah pesan atau nasihat---termasuk pengalaman dan kejadian yang buruk sekalipun---jika ditanggapi dengan persepsi dan tafsiran yang berbeda, akan membuahkan perilaku yang berbeda dan karenanya: hasil yang berbeda pula.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; Jika ditafsirkan dan ditanggapi dengan positif maka segala sesuatu---sekali lagi: segala sesuatu---sebenarnya adalah jalan dan rambu-rambu bagus menuju sukses.&lt;/p&gt;  &lt;p style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color rgb(0, 102, 204); border-width: medium medium 1px; padding: 0in 0in 0.02in; margin-bottom: 0in;"&gt; Kata kuncinya: tafsiran dan tanggapan positif---positive interpretation and response---yang secara total akan mengharmoniskan semua fakultas diri kita: kesadaran, pikiran, pendapat, perasaan, harapan, keyakinan, perhatian, niat, sikap, tekad, fokus, bahasa, gerak-gerik, dan segenap tingkah laku kita  menjadi positif dan konstruktif.&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.2  (Win32)"&gt;&lt;meta name="CREATED" content="20090101;19423950"&gt;&lt;meta name="CHANGED" content="16010101;0"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Kalau sudah begitu, terjadilah mestakung---semesta mendukung: artinya keluarga, teman, saudara, situasi, kondisi, bahkan kosmos dan Tuhan semuanya mendukung anda untuk mencapai dan mengalami sukses yang penuh sukacita dan kebahagiaan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;a name="lw_1230813671_2"&gt;&lt;/a&gt;Jadi, apapun kata pakar tentang tahun 2009, buat kita tersedia satu pilihan cantik: songsong dan masukilah 2009 dengan segenap keterbukaan dan kepositifan.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Selamat Tahun Baru. All the best.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;  &lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.2  (Win32)"&gt;&lt;meta name="CREATED" content="20090101;19423950"&gt;&lt;meta name="CHANGED" content="16010101;0"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt;&lt;/style&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-8729386248272714256?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/8729386248272714256/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=8729386248272714256' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/8729386248272714256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/8729386248272714256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2009/01/2009-tahun-berkah-semua-tergantung-anda.html' title='2009 Tahun Berkah: Semua Tergantung Anda'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SVy-KoDSARI/AAAAAAAAArQ/8yNeOI7jsKQ/s72-c/Fireworks+Display.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-7156291345913068842</id><published>2008-12-22T21:59:00.000-08:00</published><updated>2008-12-22T22:16:06.684-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sesama Bangsa Berdosa Dilarang Saling Mengutuk'/><title type='text'>Sesama Bangsa Berdosa Dilarang Saling Mengutuk</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;(Pengantar: Ini satu lagi tulisan Jansen Sinamo yang pernah dimuat di rubrik 'Bahasa' Kompas, 2003. Selamat menikmati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sesama Bangsa Berdosa Dilarang Saling Mengutuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Jansen H. Sinamo&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;a name="lw_1230011562_0"&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;SEJAK &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Palestina  diserbu  beberapa  minggu  lalu, berbagai aksi massa di sejumlah kota Indonesia menjadi berita utama. &lt;span lang="es-ES"&gt;Ciri khas aksi-aksi itu&lt;/span&gt;:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;mengutuk dan membakar bendera Israel. &lt;/span&gt;Para pengutuk &lt;span lang="es-ES"&gt;mendesak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;agar &lt;/span&gt; &lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;pemerintah ikut mengutuk&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Israel&lt;span lang="es-ES"&gt;. &lt;/span&gt;Dan p&lt;span lang="es-ES"&gt;emerintah pun akhirnya mengeluarkan sikap resminya. “Indonesia mengutuk keras agresi militer Israel terhadap Palestina …” demikian kata Menlu &lt;i&gt;ad interim &lt;/i&gt;SB Yudhoyono (Kompas 1/4).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SVB_f5r94cI/AAAAAAAAAnI/bfNT0_jwmiM/s1600-h/Olive+Tree.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SVB_f5r94cI/AAAAAAAAAnI/bfNT0_jwmiM/s200/Olive+Tree.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282862548943495618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;Lepas dari amarah kita pada agresi Israel ini, baik cara maupun dosisnya, kita ingin membahas pemakaian kata &lt;i&gt;kutuk &lt;/i&gt;dalam wacana modern &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;sekarang, di rubrik bahasa ini&lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;a name="lw_1230011562_1"&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Arial;" &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Penelusuran saya di internet segera menunjukkan bahwa &lt;i&gt;kutuk&lt;/i&gt; ternyata kata yang akrab dalam semua komunitas di dunia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Georgia,serif;" &gt;ini&lt;span lang="es-ES"&gt;. Kata &lt;i&gt;kutuk&lt;/i&gt; datang dari &lt;/span&gt;dunia &lt;span lang="es-ES"&gt;tradisional yang didominasi alam &lt;/span&gt;pikir &lt;span lang="es-ES"&gt;spiritual. Kehidupan tradisional didasari oleh keyakinan-keyakinan transendental: animisme, dinamisme, politeisme, temasuk monoteisme. Semua aspek kehidupan diatur dan ditentukan oleh oknum&lt;/span&gt;-oknum&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;atau &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;kekuatan-&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;kekuatan ilahi. Jadi kalau mau panen melimpah, mohonlah berkat ilahi. Mau &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;punya &lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;keturunan baik, mau untung berdagang, mau sejahtera di rumah, di perjalanan, atau di ladang, mohonlah karunia ilahi. Intinya, agar sentosa, hiduplah sesuai dengan hukum-hukum dan protokol ilahi. Menyimpang daripadanya akan mendatangkan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;ontra&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;berkat, yaitu bala, malapetaka, dan kutuk. Boleh dikatakan, seluruh kehidupan tradisional berporos pada usaha mengundang berkat dan rahmat serta &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;sebaliknya &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;menolak bala dan kutuk.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;a name="lw_1230011562_2"&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Georgia,serif;" &gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Karena oknum ilahi bisa marah &lt;/span&gt;atau&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Georgia,serif;" &gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;senang,&lt;/span&gt;manusia&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Georgia,serif;" &gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;perlu memohon kemurahannya supaya s&lt;/span&gt;ejahtera&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;dan sentosa. Usaha ini menjelma menjadi berbagai ritus  personal, familial, dan komunal. Dalam penyelenggaraan ritus-ritus ini tampillah tokoh-tokoh spiritual yang mahir dan mangkus melakukan invokasi kekuatan ilahi itu. Mereka disebut dukun, tetua, datu, atau pandita. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Golongan &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;ini dipandang tinggi karena dianggap memiliki magi, kesaktian, dan wibawa yang lebih besar dibanding &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;sebarang anggota &lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;masyarakat umum. Secara sosiologis mereka kemudian berfungsi sebagai penjaga tatanan kehidupan bersama.  Dalam komunitasnya, mereka memiliki otoritas untuk mengucapkan berkat.&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Tetapi karena fungsi yang sama pula, mereka juga memiliki otoritas menolak bala, dan  khususnya mengucapkan kutuk bagi musuh bersama. Di &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Nusantara&lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;, kutuk ini antara lain dikenal sebagai sumpah serapah. Di Afrika, kutuk diucapkan dalam sebuah ritual bernama &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;voodoo&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;. Dengan mengutuk, sang datu menginvokasi bala, azab, dan ujungnya kematian si terkutuk.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Georgia,serif;" &gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Dalam sistem ini, kutuk harus diucapkan oleh orang yang hirarkinya lebih tinggi daripada yang dikutuk, baik secara spiritual maupun sosiologis. Jadi t&lt;/span&gt;id&lt;span lang="es-ES"&gt;ak mungkin anak mengutuk orangtuanya atau murid mengutuk gurunya. Ini juga berarti, si pengutuk harus lebih bersih&lt;/span&gt;, lebih suci,&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Georgia,serif;" &gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;daripada si terkutuk. Kalau tidak, kutuk bisa berbalik pada si pengutuk. Memelintir bahasa b&lt;/span&gt;i&lt;span lang="es-ES"&gt;s kota, sesama orang &lt;/span&gt;jahat&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;tidak boleh saling mengutuk.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;a name="lw_1230011562_3"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name="lw_1230011562_4"&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Georgia,serif;" &gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Sekarang, dapatkah suatu negara mengutuk negara lain? Saya berpendapat, tidak bisa. Alasannya, dalam sistem &lt;/span&gt;yang &lt;span lang="es-ES"&gt;rasional seperti sains dan teknologi, istilah kutuk tidak dikenal. Yang &lt;/span&gt;berlaku&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Georgia,serif;" &gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;adalah hukum kausal, misalnya&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Georgia,serif;" &gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;jika hutan digunduli maka azab banjir akan tiba. Nah, negara &lt;/span&gt;dan bernegara &lt;span lang="es-ES"&gt;adalah sebuah sistem &lt;/span&gt;dan tatanan hidup bersama yang &lt;span lang="es-ES"&gt;rasional. Sama seperti sains, negara modern berasaskan hukum&lt;/span&gt;-hukum yang&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;rasional. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Demikian pula, &lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;hubungan antarnegara diatur oleh hukum-hukum internasional yang juga rasional.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;a name="lw_1230011562_5"&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Arial;" &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Jadi kutukan Indonesia di atas sebenarnya tidak bermakna karena &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;out of context&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;.  &lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Tentu saja Indonesia tidak mungkin berdiam diri melihat bangsa Palestina yang lemah diagresi. Jadi harus ada pernyataan sikap yang tegas. Tampaknya, bahasa diplomasi yang lebih tepat ialah protes atau kecaman yang bernada lebih rasional. Vatikan, misalnya, mengecam Israel&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Georgia,serif;" &gt;bukan mengutuk&lt;span lang="es-ES"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Georgia,serif;" &gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Selain itu, karena kutuk mengandung makna serangan spiritual yang bernuansa magis, obyek yang dikutuk (Israel) bisa saja &lt;/span&gt;justru&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Arial;" &gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;melawan, &lt;/span&gt;se&lt;span lang="es-ES"&gt;makin t&lt;/span&gt;id&lt;span lang="es-ES"&gt;ak peduli, dan mengeraskan sikapnya; padahal tujuan diplomasi ialah supaya &lt;/span&gt;pihak sana&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;bersedia &lt;span lang="es-ES"&gt;mendengar dan mengubah sikap&lt;/span&gt;nya&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;dalam derajat tertentu.  Jadi seperti disarankan berbagai tokoh seperti KH Hasyim Muzadi, tindakan yang lebih tepat ialah ialah menekan PBB, OKI, dan Amerika &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Serikat &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;agar &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;mereka &lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;bertindak mencegah kebrutalan Israel.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;a name="lw_1230011562_6"&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Arial;" &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Georgia,serif;" &gt;Di pihak lain, &lt;span lang="es-ES"&gt;seandainya pun dalam sistem rasional istilah kutuk punya makna, Indonesia belum&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Georgia,serif;" &gt;berada pada posisi yang &lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Georgia,serif;" &gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;pantas mengutuk bangsa lain karena dosa-dosa&lt;/span&gt;nya&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;yang luar biasa di bidang korupsi, HAM, dan hukum. Kembali lagi, sesama bangsa berdosa &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;dilarang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Georgia,serif;" &gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;saling mengutuk.  Bisa-bisa, kutukan kita &lt;/span&gt;malah &lt;span lang="es-ES"&gt;berbalik menimpa kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Georgia,serif;" &gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Dalam agama-agama monoteistik, Sang Ilahi &lt;/span&gt;itu &lt;span lang="es-ES"&gt;dikenal dengan nama Allah &lt;/span&gt;dan Yahwe &lt;span lang="es-ES"&gt;yang karakter-Nya antara lain dirumuskan sebagai mahapengasih dan &lt;/span&gt;maha&lt;span lang="es-ES"&gt;penyayang. Jadi &lt;/span&gt;Dia &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;tidak mungkin mengutuk manusia &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;umat &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;kesayangan-Nya. Namun karena &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Di&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;a juga berkarakter mahaadil dan &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;maha&lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;benar, maka segala hal yang batil dan zalim dengan sendirinya mengakibatkan azab dan hukuman. Sederhananya, upah para pendosa ialah kehidupan yang terkutuk. Tak &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;perlu &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;ada yang &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;melancarkan k&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;utuk, jika si Polan memang berdosa, pastilah ia akan menerima azab. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Dan t&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;anpa pengampunan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;dan kemurahan-Nya &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;si Polan pasti menerima &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;buah dosanya: &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);" lang="es-ES"&gt;kutuk&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;an&lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;a name="lw_1230011562_7"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name="lw_1230011562_8"&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Jadi apa yang harus kita lakukan sebagai umat beragama? Saya setuju dengan &lt;/span&gt;ajakan &lt;span lang="es-ES"&gt;Wapres Hamzah Haz&lt;/span&gt;:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Mari kita berdoa&lt;/span&gt;! &lt;span lang="es-ES"&gt;Kita doakan supaya bangsa Palestina dilindungi, dikarunia&lt;/span&gt;i&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;kekuatan, dan diberi pertolongan khusus. Juga, kita doakan agar Tuhan mengubah hati &lt;/span&gt;batu&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Ariel Sharon menjadi hati manusi&lt;/span&gt;a&lt;span lang="es-ES"&gt;. Kita berdoa agar damai ilahi berkenan turun di tanah suci itu. Juga, jangan lupa menyumbang dana, darah, dan obat-obatan &lt;/span&gt;-&lt;/span&gt;– &lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;seperti anjuran AM Fatwa dan Muhaimin Iskandar &lt;/span&gt;-&lt;span lang="es-ES"&gt;- sebab hal itu sangat penting bagi saudara kita orang Palestina. T&lt;/span&gt;id&lt;span lang="es-ES"&gt;ak kalah pentingnya, jangan &lt;/span&gt;lupa&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;berdoa agar para pemimpin kita bertobat dari korupsi&lt;/span&gt;nya&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;yang &lt;i&gt;auzubillah &lt;/i&gt;agar Indonesia lebih kredibel di mata internasional sehingga bisa berbuat &lt;/span&gt;lebih &lt;span lang="es-ES"&gt;banyak dalam percaturan antarbangsa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.2in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Salam sejahtera,&lt;br /&gt;Mr. Ethos JANSEN H. SINAMO&lt;br /&gt;PT Spirit Mahardika&lt;br /&gt;Jl. Pulogebang Permai G-11/12, Jakarta 13950&lt;br /&gt;M. 0811 940 709; T. 021-480 1514; F. 021-4800 429&lt;br /&gt;W. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.institutmahardika.com/" target="_blank"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;www.institutmahardika.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;; B. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jansen-sinamo.blogspot.com/" target="_blank"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;http://jansen-sinamo.blogspot.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-7156291345913068842?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/7156291345913068842/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=7156291345913068842' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/7156291345913068842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/7156291345913068842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2008/12/sesama-bangsa-berdosa-dilarang-saling.html' title='Sesama Bangsa Berdosa Dilarang Saling Mengutuk'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SVB_f5r94cI/AAAAAAAAAnI/bfNT0_jwmiM/s72-c/Olive+Tree.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-1206987932311454376</id><published>2008-12-19T01:46:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T02:34:54.211-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Andai Guru Etos jadi Bupati Dairi'/><title type='text'>Andai Guru Etos jadi Bupati Dairi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SUt1H0-IuuI/AAAAAAAAAnA/yMh_GoObHZc/s1600-h/Opung+Limbong-2+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 208px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SUt1H0-IuuI/AAAAAAAAAnA/yMh_GoObHZc/s320/Opung+Limbong-2+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281443765360835298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;Entah sampai kapan akan berakhir, yang jelas hingga detik ini masih banyak orang yang menggadang-gadang Jansen Sinamo menjadi bupati di Dairi, tanah kelahirannya. Padahal, ia tegas-tegas menyatakan pendirian bahwa ia sudah puas dikenal dan dikenang sebagai &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;Guru Etos Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;Tak perlu diherankan, sebetulnya, jika tiada henti harapan dan permintaan pada dirinya untuk 'terjun' membangun kampung halamannya.  Tak disangsikan lagi, Jansen Sinamo adalah satu diantara sejumlah putra terbaik yang berasal dari sana. Bukan hanya karena kiprahnya sudah dikenal di seantero Nusantara. Namun yang terutama adalah karena perhatiannya sendiri yang tidak pernah luput dari tanah kelahirannya itu. Sejak mahasiswa sampai kemudian 'sukses' sebagai perantau di Jakarta, Jansen selalu menyediakan diri memberi dukungan --dengan tenaga, pikiran, keahlian dan dana-- untuk turut berpartisipasi pada setiap upaya memajukan Dairi. Diantaranya, misalnya, pada tahun 2002 lalu, Jansen Sinamo didaulat sebagai Ketua Panitia Jakarta untuk Pemekaran Kabupaten Dairi menjadi Pakpak Barat. Dapat lah dikatakan, Jansen dikenal sebagai tokoh Dairi bukan hanya karena kepopuleran mau pun kompetensinya. Tetapi terutama oleh kerelaan memberikan apa pun yang dibutuhkan darinya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;Tak mengherankan bila tiap kali ada momen-momen penting yang menyangkut masa depan Dairi, banyak permintaan diarahkan kepadanya untuk memberikan pertimbangan. Salah satunya adalah pada Pilkada Bupati Dairi belum lama ini. Kepada Jansen, wartawan bertanya  perihal strategi membangun Dairi dan pemimpin seperti apa yang dibutuhkan oleh daerah penghasil  Jenderal, Ilmuwan dan Komponis Batak, selain kopi Sidikalang itu. Dan, menariknya, Jansen bahkan mencatat dan merangkum sendiri percakapannya  dengan wartawan Batak Pos,  dalam sebuah tulisan yang komunikatif berikut ini. Kemarin tulisan tersebut  dikirimkannya kepada saya, dengan judul asli  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Andai Abang jadi Bupati Dairi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;  Jelas lah tulisan ini  makin memperkaya pengenalan kita akan Jansen Sinamo.Sekalian pula bersama tulisan tersebut, saya muatkan foto Jansen Sinamo ketika suatu saat 'pulang kampung' menghadiri sebuah pesta gereja yang telah dikirimkannya kepada saya beberapa waktu lampau. Perlu dicatat, sebelumnya, tulisan ini sudah pernah muncul di sebuah milis orang-orang Dairi. Itu sebabnya, ada beberapa catatan Jansen yang secara khusus memang ditujukan kepada peserta milis tersebut. Selamat membaca.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;Andaikan Abang jadi Bupati Dairi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;   &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Bang, andaikan Abang jadi Bupati Dairi, apa program Abang memajukan Dairi?" demikian wartawan Batak Pos itu memulai wawancaranya beberapa bulan lalu di kantorku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"SDM," jawabku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;to the point.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Apa???" sergahnya. Ia tampak kaget.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Es-de-em, sum-ber--da- ya--ma-nu- si-a," kataku dengan sabar, suara lebih keras dan lambat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Kenapa kok itu, Bang."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Begini. Dari zaman dulu hingga  kini produk Dairi paling utama adalah SDM; bukan kopi, bukan nilam, bukan jagung, bukan cabe, apalagi parawisata."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Si wartawan seperti limbung, terdiam. Lalu kuteruskan ceramahku...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Satu tokoh yang membuat Dairi itu harum adalah L. Manik. Dia mewariskan '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Satu Nusa Satu Bangsa&lt;/span&gt;' buat Indonesia. Dan lagu itu akan abadi. Selama Indonesia masih ada di bumi lagu itu akan terus dikumandangkan dengan takzim, penuh getar, dan rasa cinta buat negeri ini. Kau hargai dengan berapa ratus ton kopi Sidikalang lagu yang satu itu?" serbuku menggebu-gebu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Tak ternilailah, Bang." katanya seperti sudah menangkap seluruh maksudku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Dan itu baru satu lagu lho. Belum lagi '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Desaku yang Kucinta&lt;/span&gt;'." "Kau tahu Jenderal TB Simatupang  kan?" gantian aku yang bertanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Tahulah, Bang; emang dia orang Dairi?" katanya setengah kaget.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Ya, iyalah. Dia itu lahir di Sidikalang tanggal 28 Januari 1920." ujarku dengan mantap karena sudah merasa di atas angin. Tanggal ini kebetulan kuhafal betul karena waktu peresmian monumennya yang di Letter S, Sitinjo, itu dulu aku yang ditugasi panitia menulis riwayat [singkat] hidupnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Dialah jenderal yang orang Batak paling hebat. Pada umur 29 tahun dia sudah jadi Kepala Staf Angkatan Perang dengan pangkat jenderal mayor. Dan dia bukan jenderal jenis Nagabonar ya. Dialah otak TNI di masa awal kemerdekaan kita. Dia itu arsitek pembangunan TNI. Dari tangannyalah lahir doktrin Sapta Marga yang menjadi sendi TNI hingga kini." kataku  tambah bersemangat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Tapi maaf ya, Bang; perbandingan Abang tidak '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;apple to apple&lt;/span&gt;' --- maksud saya, secara ekonomis, kan kedua tokoh itu tidak ada artinya apa-apa buat Dairi. Membangun Dairi maksud saya membangun secara ekonomis, Bang."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bah, baba-ni-ama ni baeon, inna rohangku di bagasan. Ai nang pe iba ndang sehebat angka mantan pramuka nabernostalgia di milis on, alai anggo rasa kebangsaan, nasionalisme, and the making spirit of Indonesia marsigor-gor dope tong di roha niba on&lt;/span&gt;.)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Kau tahu larik 'Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya' dipetik dari lagu apa?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Indonesia Raya&lt;/span&gt;, Bang, apalagi?."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Nah, orang-orang seperti L. Manik dan TB. Simatupang adalah pembangun jiwa Indonesia. Mereka adalah para arsitek jiwa keindonesiaan kita. Tapi ketika jiwa Indonesia semakin rusak oleh korupsi, bobrok oleh hedonisme, dan rapuh oleh pragmatisme maka pembangunan badan [ekonomi, fisik] Indonesiamu ini tak pernah akan jadi. Ia selalu runtuh, kembali terus ke titik nol."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Tapi okelah, lepas dari itu, kau kenal Toman Tobing?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Tidak, Bang."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Togam Gultom?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Tidak, Bang."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Marangkup Manik?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Nggak juga, Bang. Siapa mereka, Bang?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Nggak apa-apa kau tidak kenal, tepatnya, belum kau kenal. Mereka adalah insinyur muda putra Dairi, ketiganya lulusan ITB. Mereka telah berhasil membuka lapangan kerja buat ratusan orang, bikin perusahaan sendiri, kerjasama dengan Belanda, dengan Jerman, dengan Amerika; dan secara ekonomis telah punya omzet puluhan bahkan ratusan milyar per tahun. Memang mereka belum sebesar Ciputra atau Panigoro, tapi merekalah ptrototipe anak-anak Dairi di masa depan." &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Wah, gitu ya Bang."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Yap. Dan aku masih bisa cerita sama kau, ada ratusan anak Dairi seperti mereka, yang lulus dari USU, UI, IPB, Gajah Mada, Parahyangan, Pajajaran, dsb.; yang jika dilihat dari kacamata ekonomismu tadi sesungguhnya masing-masing adalah pabrik uang yang cukup dahsyat."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Wah, benar juga abang ini. Kok kita selama ini nggak sadar ya, Bang?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Ah, kau saja yang nggak sadar, ha-ha-ha. Juga teman-temanmu itu: para bupati di seluruh Tanah Batak. Kalau mamak-mamak orang Batak sudah lama menyadarinya. Mereka yang bilang sambil berdendang '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Anakhonhi do hamoraon di ahu&lt;/span&gt;' dan bukan '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sabanghi, jumanghi, horbonghi, pinahanhi, serenghi'&lt;/span&gt;. Mereka tahu, kalau anaknya kelak sukses bersekolah, maka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sere, pinahan, saba, hepeng&lt;/span&gt;, akan datang dengan sendirinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Setuju, Bang."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Oke. Kau kenal Juniver Girsang dan Junimart Girsang?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Tahu Bang, tapi belum kenal. Mereka bersaudara ya, Bang?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Ya. Kau tahu berapa penghasilan mereka berdua sebagai pengacara papan atas?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p face="arial" style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Wah, nggak tahu, Bang."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Tebak aja, salah nggak apa-apa."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Puluhan milyar pastinya, Bang."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Kecil itu. Kalikan saja sepuluh kali."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Wah, sampai segitu ya, Bang."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"O iya. Nah, sekarang coba tebak. Berapa kiriman mereka buat orangtuanya, ompungnya, tulangnya, namborunya, gerejanya, punguan marganya di Dairi sana setiap tahunnya?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Pasti banyaklah, Bang"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Oke. Nah, seandainya Bapak RKJ Girsang [alm. ayah mereka; red.] dahulu memilih berinvestasi di bidang kopi, lalu dia bikin kebon kopi 2x5 hektar, investasi yang mana lebih menguntungkan: pada 2 orang anak yang bernama Juniver dan Junimart atau pada 2 bidang kebon kopi @ 5 hektar?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Investasi pada manusia pastinya, Bang."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Nah, sekarang bila kau sudah mengerti maksudku, kuharap jawabanku di atas jadi jelas sekarang. Andaikan aku jadi bupati Dairi, maka setiap tahun akan kusisihkan anggaran untuk memilih, mendidik, dan menyiapkan anak-anak Dairi terbaik di tiap level pendidikan sehingga beberapa dekade ke depan Dairi bakal mempunyai ribuan manusia-manusia profesional berkelas nasional/internasio nal sebagai lawyer, insinyur, akuntan, konsultan, banker, dokter, guru, industriwan, trader, dealmaker, entrepeneur, broker, investor, yang mampu memproduksi kekayaan seribu kali dari level orangtua mereka."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Wah, keren kalau gitu, Bang. Terus siapa yang mengurus pertanian dan peternakan?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Lho, kopi, jagung, padi, kemiri, cabe, kol dan tomat tetap penting. Demikian juga sapi, kerbau, babi, ayam, bebek, dan ikan. Tapi semuanya itu sekunder bahkan tertier belaka. Yang primer adalah SDM Dairi, putra-putri Dairi."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Hhmm."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Kau pasti tahu, nama-nama yang kusebut di atas tadi, semuanya bersekolah tanpa sentuhan tangan Bupati Dairi di zamannya. Dan toh bisa juga diproduksi putra-putri yang bagus-bagus. Bayangkan bila ada bupati yang memberi hati dan anggaran yang serius."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Wah, kurasa abang yang cocok jadi bupati. Kenapa tidak ikut mencalonkan diri jadi bupati Dairi, Bang?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Aku tak cocok jadi bupati. Aku ini guru. Puncak karir guru itu menjadi guru besar, bukan menjadi bupati."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Tapi kurasa, guru seperti abang harus mau terjun jadi bupati."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Itu jadi tema wawancara berikutlah ya. Tapi singkatnya beginilah: orang yang terpanggil jadi bupati/gubernur/ mp/jenderal/ hakim kastanya Kesatrya. Orang yang terpanggil jadi pedagang/bisnismen/ industriwan kastanya Wesya. Sedangkan orang yang terpanggil jadi pendeta/filsuf/ guru kastanya Brahmana. Nah, aku ini golongan Brahmana. Yang bikin kacau itu semua golongan ingin menjadi Kesatrya."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in; text-align: center; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Itulah ringkasan wawancara wartawan BP dengan saya. Minta maaf kpd sobat Waldensius, yang tak ikut namanya kusebut-sebut, meski kejagoannya di bidangnya mungkin lebih dahsyat dari kedua adiknya; juga sobat-sobat lain yang sesungguhnya patut pula disebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Salam sejahtera,&lt;br /&gt;Mr. Ethos JANSEN H. SINAMO&lt;br /&gt;PT Spirit Mahardika&lt;br /&gt;Jl. Pulogebang Permai G-11/12, Jakarta 13950&lt;br /&gt;M. 0811 940 709; T. 021-480 1514; F. 021-4800 429&lt;br /&gt;W. &lt;a href="http://www.institutmahardika.com/" target="_blank"&gt;www.institutmahardi ka.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;; B. &lt;a href="http://jansen-sinamo.blogspot.com/" target="_blank"&gt;http://jansen- sinamo.blogspot. com/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0.2in;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-1206987932311454376?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/1206987932311454376/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=1206987932311454376' title='20 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/1206987932311454376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/1206987932311454376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2008/12/andai-guru-etos-jadi-bupati-dairi.html' title='Andai Guru Etos jadi Bupati Dairi'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SUt1H0-IuuI/AAAAAAAAAnA/yMh_GoObHZc/s72-c/Opung+Limbong-2+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>20</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-1028777246240807219</id><published>2008-12-16T00:26:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T22:46:09.339-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Air Mata Etos'/><title type='text'>Air Mata Etos</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SUdkjDjLmdI/AAAAAAAAAmY/qI5zh1flKjg/s1600-h/_joseph_brothers_.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 157px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SUdkjDjLmdI/AAAAAAAAAmY/qI5zh1flKjg/s200/_joseph_brothers_.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280299641526262226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Rupanya ada kisah-kisah yang tak pernah berhenti membuat orang terharu. Walau telah diputar ulang berpuluh, bahkan beratus kali; walau telah kita dengar sejak masih kecil hingga kita beranak-pinak, pesona kisah-kisah itu tak habis-habis menggugah perasaan terdalam tiap insan. Dan diam-diam kita menyeka mata yang berkaca-kaca tatkala mendengarnya lagi dan lagi dan lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kisah Yusuf anak Yakub mungkin salah satunya. Ini adalah cerita yang tak asing lagi bagi sebagian besar orang yang pernah menghabiskan masa kecil di Sekolah Minggu. Cerita tentang Yusuf, anak ke 11 dari 12 bersaudara, yang selalu disangka sebagai anak yang ‘aneh,’ anak yang suka menyendiri, anak yang sering bicara lebih tua dari usianya. Lebih dari itu ia dinilai angkuh dan &lt;i&gt;pajago-jagohon&lt;/i&gt; oleh kakak-kakak lelakinya karena ia kerap seolah meninggikan diri daripada saudara-saudaranya itu. Pendek kata Yusuf menyebalkan sampai ke tulang sumsum. Begitu besarnya kebencian dan sakit hati yang tercipta menyebabkan saudara-saudaranya tega menghajarnya dengan mengurungnya di dalam sumur yang gelap. Lalu kemudian menjualnya kepada saudagar dari Mesir dan Yusuf pun terbuang, jadi budak di Tanah Seberang itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namun cerita itu berlanjut dengan Yusuf sebagai bintang. Ini adalah cerita tentang demikian berartinya ketekunan, kesabaran dan keteguhan memegang amanah. Yusuf menapaki jalan hidupnya anak tangga demi anak tangga. Dari tingkatan yang sangat bawah. Memulainya sebagai seorang budak kasar yang tidak dianggap, ia menjalankan pekerjaan penuh tanggung jawab. Ia selalu siaga, tidak anggap remeh terhadap godaan sekecil atau sebesar apa pun. Tak mengherankan bila ia berhasil mendapat kepercayaan dan jadi tangan kanan tuannya. Memang tak selalu mulus. Ia sempat jatuh-bangun karena fitnah dan rasa iri. Ia berani menolak cinta istri majikannya walau ganjarannya adalah dia masuk penjara karena dituduh ingin memperkosa. Di penjara ia banyak menolong orang, tetapi dirinya agaknya tak cukup penting untuk selalu diingat oleh orang yang berutang budi padanya. Hingga di kemudian hari, kebaikan yang ditaburnya tak berkesudahan itu, menemukan tanah subur tempatnya tumbuh. Perjuangan pantang menyerahnya bersua dengan momentum, ketika ia berhasil menafsirkan mimpi Raja Firaun yang menghindarkan bangsa Mesir dari malapetaka. Peristiwa itu membawa dirinya ke puncak kariernya. Yusuf menjadi orang kepercayaan Raja. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lalu sang waktu mempertemukan Yusuf dengan saudara-saudaranya. Mereka berhadap-hadapan, tetapi dalam keadaan berbalik. Saudara-saudaranya itu samasekali tak mengenali Yusuf lagi. Yusuf duduk di tahtanya sebagai penguasa, sedangkan di hadapannya, 10 kakak lelakinya bersimpuh menghiba memohon belas kasihan. Yusuf hidup berkelimpahan di ‘tanah rantau’ Mesir, sedangkan kakak-kakaknya yang dulu membenci dan membuangnya, ibarat pesakitan; mereka datang dari Tanah Kanaan, ‘kampung halaman’ yang dilanda kelaparan dan butuh bantuan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seandainya Yusuf menyimpan dendam, sebenarnya dengan sedikit bahasa isyarat saja, ia bisa memerintahkan para punggawanya membalaskan derita yang pernah diterimanya kepada kakak-kakaknya yang kini tak berdaya itu. Bukankah dirinya dulu dijadikan bahan tertawaan dan olok-olok? Bukankah orang-orang yang dihadapannya itu lah yang dulu tega mengikatnya, menjualnya sebagai budak dan berbohong kepada ayah-ibu mereka dengan mengatakan Yusuf telah mati dimakan binatang buas di tempat penggembalaan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tidak, bukan itu yang Yusuf lakukan. Agaknya benarlah apa yang sudah sering diaminkan banyak orang, bahwa memutus ikatan ‘darah’ sama sulitnya dengan menebas air dari pancuran. Selalu ada jalan untuk kembali bersambung. Pertalian darah selalu lebih kuat daripada jalinan temali apa pun. Ia tak pernah bisa melanggengkan rasa benci. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Maka alih-alih menyimpan dendam dan sakit hati, Yusuf justru dikurung dan disandera rasa rindu tiada terkira ketika bertemu muka dengan saudara-saudaranya. Seorang penguasa seperti Yusuf rupanya tak berbeda dengan siapa pun kita, yang hatinya terbuat dari sekeping daging lembut yang bisa luluh. Sebesar-besarnya kekuasaan dan setinggi-tingginya tahta kerajaan, apa lah arti semua itu bila ganjarannya adalah harus terpisah dari orang-orang terkasih, sahabat-sahabat sepermainan semenjak kecil hingga dewasa? &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Alkitab mencatat ‘reuni keluarga’  ini dengan detail yang mengharukan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;blockquote  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: italic;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ketika itu Yusuf tidak dapat menahan hatinya lagi di depan semua orang yang berdiri di dekatnya lalu berserulah ia: “Suruhlah keluar semua orang dari sini.” Maka tidak ada seorang pun yang tinggal di situ bersama-sama Yusuf ketika ia memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: italic;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah itu menangislah ia keras-keras, sehingga kedengaran kepada orang Mesir dan kepada seisi istana Firaun. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: italic;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dan Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya:”Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa?” Tetapi saudara-saudaranya tidak dapat menjawabnya, sebab mereka takut dan gemetar menghadapi dia. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: italic;" align="justify"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: italic;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu:”Marilah dekat-dekat.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: italic;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi:”Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. Tetapi sekarang janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu…….&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: italic;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lalu dipeluknyalah leher Benyamin, adiknya itu, dan menangislah ia, dan menangis pula lah Benyamin pada bahu Yusuf. Yusuf mencium semua saudaranya itu dengan mesra dan ia menangis sambil memeluk mereka. Sesudah itu barulah saudara-saudaranya bercakap-cakap dengan dia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-style: italic;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(Kejadian 45:1-5:14-15)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SUdkjDjLmdI/AAAAAAAAAmY/qI5zh1flKjg/s1600-h/_joseph_brothers_.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 157px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SUdkjDjLmdI/AAAAAAAAAmY/qI5zh1flKjg/s200/_joseph_brothers_.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280299641526262226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;()()()&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;6 Desember 2008&lt;/i&gt;, selama lima jam lebih, Jansen Sinamo berbicara di hadapan warga jemaat Gereja Kristus Yesus (GKY) Citra Garden, Jakarta Barat. Ia diundang untuk berceramah dengan topik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Membangun Etos Kerja Kristiani. &lt;/span&gt;Ruang serba guna di lantai I gereja itu, tampak megah dan sejuk. Hampir semua tempat duduk terisi. Saya berada diantara lebih kurang 300 hadirin yang ramah satu sama lain, santun dan tampaknya dari rumah memang sudah menyiapkan diri untuk ‘belajar’ pada pagi itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jansen menggunakan kisah Yusuf sebagai ilustrasi untuk etos kerja nomor dua dari delapan etos yang selama ini ia kembangkan. Yakni: &lt;i&gt;Kerja sebagai amanah, karena itu aku bekerja dengan penuh tanggung jawab. &lt;/i&gt; Yusuf, kata Jansen, adalah tokoh dalam Alkitab yang dapat dijadikan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; benchmark&lt;/span&gt; tentang seseorang yang menjadikan pekerjaan sebagai amanah. Yusuf bukan hanya menganggap bekerja sebagai amanah dari tuannya, tetapi lebih dari itu, amanah dari sang Khalik. Ia menempatkan amanah sebagai titipan berharga yang dipercayakan kepadanya. Konsekuensinya, sebagai penerima amanah, ia terikat secara moral untuk melaksanakannya secara baik dan benar. Itu sebabnya ia tak mau main-main dengan tanggung jawab itu, walau risikonya adalah terpental dari titian karier.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seperti biasa dalam ceramahnya, selain bercerita dengan suaranya yang microphonic, Jansen juga menggunakan foto, slide, lagu dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;video clip&lt;/span&gt; di sela-sela orasinya. Sepanjang lima jam itu para audiens tetap &lt;i&gt;stay&lt;/i&gt;, bahkan untuk makan siang pun hanya tersedia waktu 30 menit. Jansen sendiri tampaknya asyik dengan pekerjaannya sehingga walau ia belum sepenuhnya bisa sempurna berjalan di atas panggung, dengan tongkat yang kadang-kadang ia kenakan, ia usahakan juga seolah ‘melompat’ sesekali, untuk memeragakan apa yang ia katakan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dan, tiba lah pada satu momen yang mungkin tak pernah diduga siapa pun yang ada di ruangan itu. Tatkala Jansen dalam orasinya sampai pada cerita tentang pertemuan Yusuf dengan saudara-saudaranya. Tiba-tiba saja ia seperti tercekat kerongkongannya. Jansen bicara terbata-bata. Dari tempat duduk saya tak jauh dari panggung tempatnya berbicara, saya dapat melihat matanya berkaca-kaca. Rupanya Jansen menangis. Tidak sampai sesunggukan, tetapi jelas lah terlihat betapa sang Guru Etos tak bisa menghindar dari larut pada cerita yang dia tuturkan. Dan, hadirin di ruang yang adem itu, ikut-ikutan hening dan terdiam. Saya harus mengakui air mata saya juga menitik pada saat itu. Saya menduga banyak juga diantara hadirin yang ikut menitikkan air mata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Cerita ini sudah sejak kecil dikisahkan oleh guru sekolah minggu, sudah kita hafal luar kepala, tetapi ia tak pernah berhenti membuat kita berpikir, merenungkannya dan kadang-kadang kita menangis dibuatnya. Kita harus berterimakasih pada guru-guru sekolah minggu kita, dimana pun mereka berada, telah menceritakannya dan menanamkannya dengan mendalam di hati kita masing-masing,” tutur Jansen, setelah ia bisa kembali menguasai diri dan hadirin bertepuk tangan. Jansen agaknya hanya mengizinkan beberapa detik saja momen haru mengisi ruangan itu. Dan ia  pun melanjutkan ceramahnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Belakangan, di akhir acara, pihak panitia mengumumkan bahwa diantara hadirin yang memenuhi ruangan itu, terdapat pula serombongan guru dari berbagai sekolah. Saya melihat mata Jansen kembali berkaca-kaca. Mungkinkah ia terharu, karena sebagai Guru Etos, ia ternyata sedang berbicara diantara koleganya ‘sesama’ guru?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="font-family: georgia;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SUdkjDjLmdI/AAAAAAAAAmY/qI5zh1flKjg/s1600-h/_joseph_brothers_.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 157px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SUdkjDjLmdI/AAAAAAAAAmY/qI5zh1flKjg/s200/_joseph_brothers_.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280299641526262226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;()()()&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;8 Desember 2008&lt;/i&gt;, untuk sesuatu hal yang sudah kami rencanakan sejak jauh hari, saya bertemu lagi dengan Jansen Sinamo, menikmati &lt;i&gt;brunch&lt;/i&gt; di Peacock Restaurant, Hotel Sultan, Jakarta.  Beberapa potong &lt;i&gt;toast &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;fried egg&lt;/i&gt; bersama secangkir &lt;i&gt;black coffee&lt;/i&gt; ada di hadapannya ketika saya mulai membuka pembicaraan. Ini adalah hari libur, karena itu kami agak santai. Lagipula, kami masih menunggu beberapa orang teman lagi untuk bergabung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di benak saya, kejadian kemarin masih menghantui. Dan dari rumah memang saya telah meniatkan menanyakan itu kepadanya. Apakah ia sering menangis manakala berbicara di atas panggung? Kenapa kisah Yusuf begitu mengguncang perasaannya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ia tertawa mendengar pertanyaan saya. Dengan tangan dan tanpa menggunakan pisau, ia patah-patahkan toast di piring kecilnya untuk kemudian ia masukkan ke mulutnya. “Tiap orang Batak saya kira akan terharu mendengar mau pun menceritakan kisah seperti yang dialami Yusuf dan saudara-saudaranya,” kata dia. Gelasnya ia angkat dan ia meneguk kopi. “Mungkin karena cerita itu menyangkut sebuah keluarga. Sebuah keluarga besar pula,” tambah dia lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seselintas, benak saya mencoba-coba membayangkan masa kecil Jansen, yang sudah berkali-kali ia ceritakan. Ia anak sulung dari delapan bersaudara. Sebuah keluarga besar, tentu. Dan seperti pengakuannya, sejak kecil ia sudah digadang-gadang jadi 'pembawa bendera'. Harus jadi contoh. Bila adik-adiknya melakukan kesalahan, kemarahan orang tuanya tidak sebesar bila dirinya sendiri yang melakukan kesalahan. Nasihat tentang bagaimana agar bertanggung jawab memegang amanah sebagai anak sulung itu, telah menjadi sarapan paginya sejak dirinya masih kecil. Juga jadi bahan obrolan di tungku perapian sambil menanak nasi. Di pematang sawah tatkala beristirahat menyiangi tanaman. Di hajatan keluarga sambil bersantap makan. Mungkinkah oleh kerumitan dan hiruk-pikuknya sebuah keluarga besar, sehingga Jansen selalu tersentuh oleh kisah-kisah keluarga seperti cerita Yusuf di Alkitab?.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menurut Jansen, di Alkitab, kisah Yakub dan anak-anaknya memakan porsi yang cukup besar, dibanding keluarga-keluarga lain. Dan uniknya, keluarga Yakub bukan lah keluarga sempurna atau ideal. Bahkan secara bercanda, Jansen berkata keluarga itu termasuk keluarga yang brengsek. Mulai dari Yakub sendiri, yang di masa mudanya ‘mengambil hak anak sulung’ dari kakaknya Esau dengan cara yang &lt;i&gt;tricky&lt;/i&gt;, lalu dirinya yang ditipu oleh Pamannya Laban, kemudian anak sulungnya Ruben yang ‘naik ke tempat tidur’ ayahnya, Jehuda yang tersangkut skandal dengan menantunya, Yusuf dan saudara-saudaranya yang tidak pernah akur dan seterusnya dan seterusnya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Keluarga itu, menurut Jansen, tidak pernah sepi dari masalah. Namun, kata Jansen lagi, justru karena ketidaksempurnaan itu lah kisah tentang Yakub dan keluarganya menjadi klasik dan selalu dibicarakan orang. Dan kita pun larut di dalamnya, karena kita di dalam hidup kita, sedikit-banyak juga merasakan kepedihan-kepedihan yang dialami oleh keluarga itu. “Kalau keluarga Yakub sempurna, tidak ada masalah, tidak ada gejolak dan pertengkaran, Alkitab mungkin hanya akan mencatat kisah mereka dengan satu kalimat: Yakub dan keluarganya hidup tenteram dan bahagia selamanya dari masa kecilnya hingga akhir hayatnya!. Titik.  apa menariknya lagi kalau hanya sampai di situ saja,” kata Jansen.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="margin-bottom: 0in; text-align: center;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; ()()()&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kedua orang tua Jansen berpulang ketika mereka berkunjung ke Jakarta. Ayahnya lebih dulu. Kemudian ibunya. Itu dulu sekali. Mereka memang masih sempat menyaksikan Jansen menikah dan memberi mereka cucu. Tapi bagi Jansen sendiri, kepergian ayah-ibu itu masih terlalu cepat. Jansen, di hati kecilnya, masih ingin ‘membahagiakan’ mereka lebih lama lagi. Tetapi seperti kita yakini, tak seorang pun yang bisa menunda ajal. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sampai sekarang Jansen masih merasa punya utang sekaligus amanah dari ayah-ibunya. Yakni menyediakan makam yang layak bagi mereka di kampung halaman. Hingga saat ini, jasad ayah-ibunya masih bersemayam di salah satu pemakaman Jakarta Timur, dan Jansen berharap suatu hari tak lama lagi, tulang-belulang mereka sudah dapat dibawa ke kampung halaman. “Itu juga merupakan amanah yang harus saya penuhi,” tutur Jansen, suatu kali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dari ibunya, Jansen mengagumi kebijakan dan kemampuan bercerita sambil memberi nasihat pada waktu yang tepat dan pesan yang disampaikannya mengena kepada sasaran. “Padahal sekolahnya hanya sampai kelas satu SD,” kata Jansen. Jansen juga mengakui nilai-nilai tentang hidup banyak ia dapatkan dari Ibunda yang menyampaikannya secara sambil lalu di berbagai kesempatan. Dari kisah hidup ibunya yang menderita semasa kecil sebagai korban revolusi, Jansen justru mendapatkan nilai-nilai hidup sebagai bekal untuk berjuang. “Sebagai sulung dari delapan bersaudara, sejak dini pula saya sudah dikaryakan di ladang, kebun, dan sawah. Di sela-sela jagung dan kacang, ubi dan padi, cabe dan jahe, ibu saya suka bercerita tentang derita masa lalunya dan sekaligus memproyeksikan harapannya bisa bersekolah setinggi mungkin supaya bisa meretas belenggu kemiskinan dan meraih sukses dalam kehidupan. Tak jarang beliau meneteskan air mata ketika berkisah, baik dalam rangka memotivasi atau menasihati saya,” tulis Jansen dalam prolog buku &lt;i&gt;8 Etos Kerja profesional.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dari ayahnya, Jansen mengagumi ketokohannya di bidang adat dan komunitas Batak di desa kelahirannya. Rumpun marga Sinamo tergolong kecil, tetapi ketokohan adat ayahandanya kerap melampaui rumpun marga itu. Ayahnya dikenal sebagai &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Raja Parhata&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Parsinabul&lt;/span&gt;; jurubicara dalam pesta-pesta adat, yang anehnya, hingga dewasa ini jalur menuju posisi itu hanya dapat dicapai melalui &lt;i&gt;learning by doing&lt;/i&gt;, jam terbang yang panjang dan &lt;i&gt;proven&lt;/i&gt; serta yang tak kalah penting, konsensus komunitas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Untuk banyak hal, saya telah melampaui ayah saya. Tetapi untuk yang satu itu, untuk menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Raja Parhata&lt;/span&gt;, sampai sekarang saya belum bisa. Mungkin karena belum banyak kesempatan untuk berlatih. Dan untuk yang satu itu, saya salut kepadanya. Dia sudah melanglang kampung demi kampung untuk tugas itu. Dia selalu bangga membawa seekor ayam jantan yang besar ke rumah, tatkala ia usai melaksanakan tugasnya. Itu lah upahnya dari pekerjaan sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Raja Parhata&lt;/span&gt;, selain kehormatan keluarga,” kata Jansen menceritakan ayahnya dengan mata yang basah. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ada satu cerita yang mungkin tak banyak orang tahu. Sebagai  orang Batak dan Indonesia pada umumnya, Jansen Sinamo tergolong &lt;span style="font-style: italic;"&gt;telat&lt;/span&gt; nikah. Sampai menjelang 30 tahun  ia belum juga ketemu jodoh. Dan tentu saja kedua orang tuanya sempat cemas menyadari keadaan itu. Bagaimana pun sebagai anak sulung, keturunan Jansen Sinamo dianggap penentu bagi keberlangsungan generasi Sinamo dari ayah-ibunya. Dan apa jadinya keberlangsungan generasi itu bila Jansen tak menikah juga?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Maka pada suatu hari, Jansen yang sudah bekerja di Jakarta kala itu, mendadak dipanggil pulang kampung. Jansen sudah tahu ini pasti menyangkut soal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;telat&lt;/span&gt; nikahnya dia. Ia pun pulang. Ternyata sebuah upacara kecil di tengah keluarga inti sudah dipersiapkan untuknya. Yakni acara santap makan bersama setelah didahului mempersembahkan hidangan seekor ikan Batak utuh kepadanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Upacara itu memang ada tujuannya. Di kalangan orang Batak ada keyakinan bahwa seseorang terlambat menikah bisa jadi disebabkan tatkala ketika dia di dalam kandungan, ada permintaan sang Ibunda yang tidak terpenuhi. Itu lah yang dianggap sebagai penghalang dirinya menemukan jodoh, dan karena itu, untuk menghilangkan hambatan itu, permintaan yang tidak terpenuhi tempo hari harus ‘dibayarkan’ kini. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ternyata dulu ketika  mengandung Jansen,  sang Ibunda &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngidam&lt;/span&gt; untuk menikmati hidangan ikan Batak. Ketika hal itu disampaikannya kepada suaminya,  permintaan itu dilayani. Ayah Jansen segera pergi ke pasar dan membeli ikan Batak permintaan istrinya. Sayangnya, setelah pulang dengan membawa ikan Batak bersamanya, ayah Jansen merasa tugasnya sudah selesai. Ia menyerahkan ikan tersebut kepada istrinya untuk dimasak, padahal, sesungguhnya istrinya ingin menikmati hidangan ikan Batak yang dimasak sendiri oleh suaminya itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Maka dalam upacara yang diperuntukkan bagi Jansen tersebut di kemudian hari, ikan Batak yang dihidangkan kepadanya adalah sungguh-sungguh ikan Batak yang dimasak sendiri oleh ayahnya. Hari itu ayahnya terpaksa bersedia menanggalkan gengsi kebanyakan lelaki Batak yang umumnya ogah bekerja di dapur. “Saya kira, itulah ikan Batak pertama dan terakhir yang dimasak sendiri oleh ayah saya, walau pun waktu itu, ia juga dibantu oleh kerabat lainnya,” kata Jansen sambil tertawa menceritakannya. Boleh percaya atau tidak, tak lama setelah upacara itu Jansen menemukan jodohnya, yang kini telah memberinya sepasang putra-putri yang sudah remaja.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Diantara berbagai amanah orang tua kepada dirinya, peran sebagai 'anak sulung' agaknya banyak sekali mempengaruhi hidup yang diperjuangkan Jansen. Peran sebagai anak sulung tersebut mengharuskan dirinya banyak berimprovisasi memerankan banyak hal; dia harus menjadi pemimpin di tengah adik-adik dan keluarga besar, penasihat manakala ada yang cekcok, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;solidarity maker &lt;/span&gt;manakala ada 'musuh' dari luar yang mengancam, sekaligus jadi pelopor dan sponsor &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fund rising&lt;/span&gt; manakala ada yang membutuhkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Semenjak kedua orang tuanya masih hidup dan Jansen mulai mandiri sebagai kepala keluarganya, sebagian dari tugas mereka sudah didelegasikan kepada sang putra sulung. Hampir semua adik-adiknya bersekolah dan bahkan menikah dengan sokongan Jansen. Demikian juga dengan sanak-saudara yang lain. Tak dia ingat lagi berapa banyak kerabat yang ‘meminjam’ uang darinya untuk biaya sekolah ini itu atau untuk uang persekot memasuki instansi X atau Y. Dan sudah bukan berita baru jika sebagian dari pinjaman itu macet di perjalanan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namun, bukan hal itu yang paling membuat Jansen sedih. Yang paling membuat dia berduka, seperti yang pernah diceritakannya, adalah apabila ia mendengar cerita tentang anggota keluarga yang kerja atau kuliah tidak becus. “Mau menangis rasanya, bila mendengar ada saudara yang sekolahnya tidak beres, bolos, atau menyalahgunakan kepercayaan. Padahal kita sudah membantunya sebisa mungkin. Jangan dikira bahwa kita selalu memberikan bantuan karena kita sudah berlebih. Kita membantu dengan harapan, bantuan itu dipergunakan sebaik mungkin. Kita tidak menuntut imbalan dari bantuan itu. Yang kita tuntut hanya lah agar mereka yang kita bantu dapat berhasil mencapai tujuannya. Dengan demikian suatu saat, ia juga bisa membantu sanak saudara yang lain lagi. Nah, kalau kepercayaan dan harapan seperti itu sudah disalahgunakan, saya sering marah dan sedih dalam hati,” kata Jansen.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;()()()&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Makin siang restoran Peacock di Hotel Sultan makin ramai. Padahal, ini hari libur. Satu per satu teman yang kami tunggu kini sudah muncul dan lantas bergabung. Kami menyudahi perbincangan, untuk masuk ke topik lain. Tapi di buku kecil yang menjadi catatan saya, masih tersimpan banyak rincian kisah hidup sang Guru Etos, yang akan saya tuliskan lagi di masa mendatang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;-bersambung-&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia,serif;font-size:100%;"  &gt;Ciputat,  13 Desember 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-1028777246240807219?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/1028777246240807219/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=1028777246240807219' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/1028777246240807219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/1028777246240807219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2008/12/air-mata-etos.html' title='Air Mata Etos'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SUdkjDjLmdI/AAAAAAAAAmY/qI5zh1flKjg/s72-c/_joseph_brothers_.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-3757618196449255235</id><published>2008-11-26T00:18:00.000-08:00</published><updated>2008-11-26T00:32:23.157-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Guru Etos Bicara tentang Mahagurunya'/><title type='text'>Bila Guru  Bicara tentang Mahagurunya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SS0Hy9yBi_I/AAAAAAAAAmA/NMu43qHNbUw/s1600-h/Jhs-jadul+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 144px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SS0Hy9yBi_I/AAAAAAAAAmA/NMu43qHNbUw/s200/Jhs-jadul+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272879310879951858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="fi-FI"&gt;”&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Emergence yg digabung dgn kisah Midian Sirait itu cantik. Tidak ada duanya. Tks.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Begitu bunyi pesan pendek Jansen Sinamo via ponselnya. Ia agaknya telah membaca '&lt;i&gt;Tongkat Inspirasi&lt;/i&gt;' di blog ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pesan semacam itu tidak terlalu mengejutkan. Tiap kali saya menulis refleksi tentang pertemuan dengan dia, ungkapan apresiatifnya pasti akan datang. Entah lewat surat-e, mau pun lewat SMS. Sebagai Guru dan motivator memang sudah layaknya dia begitu. Selalu menyemangati &lt;i&gt;fellow&lt;/i&gt;-nya, meskipun saya selalu mewanti-wanti.  Bahwa penulis amatiran seperti saya bisa 'besar kepala' jika tak pernah dikritik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Beberapa jam kemudian, via surat-e, ia mengirimkan salah satu tulisannya,  berupa  refleksi tentang Guru. Ini merupakan arsip kesekian dari tulisan-tulisannya yang ia bagikan kepada saya, untuk dipancarkan melalui Candid Talk with Jansen Sinamo. Tulisan ini, seingat saya, pernah dimuat di majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tatap&lt;/span&gt;, majalah budaya dan intelektual Batak (dengan tagline: Bacaan Kaum Terdidik Batak). Tetapi barangkali karena HARI GURU baru saja berlalu, ia ingin agar lebih banyak orang lagi membacanya. Maka terima lah tulisan yang inspiratif ini, berikut foto 'jadul' Jansen Sinamo.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Guru Fisika yang Inspirasional&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Oleh JANSEN H. SINAMO&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;JAM tujuh pagi, suatu hari pada tahun 1981, di sebuah ruang kuliah kuno bersuasana gelap dan kelam, yang dibangun pada zaman Belanda, sebuah kuliah fisika yang sangat modern segera akan dimulai. Fisika kuantum nama kuliah itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SS0HJQ7YdnI/AAAAAAAAAl4/wiZFTg6hZ9k/s1600-h/Jhs-jadul-2+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 196px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SS0HJQ7YdnI/AAAAAAAAAl4/wiZFTg6hZ9k/s200/Jhs-jadul-2+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272878594464970354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hariadi Paminto Soepangkat—doktor fisika zat padat lulusan Universitas Purdue, Indiana, AS—sang dosen yang berkulit putih bersih bertubuh tinggi besar yang dibalut busana rapi lengkap pakai dasi bak pemuncak eksekutif bisnis itu, telah berdiri penuh wibawa di hadapan sekitar 150 mahasiswa dari tiga jurusan: fisika, astronomi, serta geofisika dan meteorologi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Belum dua puluh menit kuliah berjalan, usai Pak Hariadi menggambar orbit-orbit lintasan elektron pada atom hidrogen di papan tulis, tiba-tiba nama saya dia panggil. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;”&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saya, Pak,” jawab saya agak terkejut sambil mengangkat tangan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;”&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kota asal Saudara di mana?” tanyanya sambil menuruni panggung kuliah yang rapat dengan papan tulis dan berjalan mendekati tempat saya duduk di barisan depan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;”&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sidikalang, Pak,” jawab saya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;”&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Oh ya? Kata Pak Andi Hakim Nasution, rektor IPB, daerah Saudara penghasil kopi ya? Kopi Sidikalang enak kata Pak Nas. Betul?” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;”&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Betul, Pak,” jawab saya sumringah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;”&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sidikalang itu berapa kilometer jaraknya dari Medan?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;”&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seratus lima puluh kilo Pak.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;”&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kalau naik bis ke Medan berapa ongkosnya?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;”&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lima ribu, Pak.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="pt-BR"&gt;”&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kalau uang Saudara cuma tiga ribu, sampai di mana itu?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="pt-BR"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Berastagi, Pak.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="pt-BR"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sambil memandang kepada semua mahasiswa sesudah kembali ke panggung kuliah, Pak Hariadi berkata, “Kira-kira seperti inilah yang dimaksud dengan energi ambang. Jika uang Saudara Jansen cuma tiga ribu, itu tidak cukup mengantarnya sampai ke Medan. Jadi, lima ribu adalah uang ambang yang diperlukan agar dia bisa sampai ke Medan dari Sidikalang.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="pt-BR"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Nah, demikian pula elektron: dia butuh energi ambang, itu energi yang minimum, untuk bisa pindah ke orbit yang lebih tinggi. Kita sudah tahu bahwa energi itu tidak kontinum, melainkan diskrit, artinya terkuantifikasi. Paket-paket energi yang terkuantifikasi ini dalam bentuk radiasi atau gelombang disebut kuanta energi, yang besarnya menurut Max Planck adalah h&lt;i&gt;v&lt;/i&gt;, di mana &lt;i&gt;v&lt;/i&gt;  frekuensi radiasi itu dan h adalah konstanta Planck yang besarnya 6,626×10-pangkat-minus-34 joule-detik. Elektron hanya bisa punya energi dalam kelipatan bulat kuanta ini. Tidak hanya pada elektron tetapi juga foton dan semua zarah renik di tingkat subatom. Inilah asal-usul nama kuantum pada fisika kuantum yang kita pelajari ini. Fisika kuantum mempelajari perilaku zarah-zarah subatomik, dinamika dan interaksinya, serta relasinya dengan medan yang memengaruhinya.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="pt-BR"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Entah apa lagi yang dikuliahkan Pak Hariadi pagi itu saya sudah lupa. Tapi, saya terpesona sudah. Sidikalang dan saya jadi pusat perhatian seluruh kelas dan terutama Pak Hariadi. Cuma beberapa menit saja sorotan lampu perhatian itu, tapi sudah cukup membuat saya merasa diri spesial.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dan sejak momen itu rasa suka saya berlipat ganda kepada Pak Hariadi. Sebagai akibatnya, berlipat ganda pula minat saya pada fisika kuantum. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Singkat cerita, pada ujian akhir semester itu saya mendapat nilai A.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dan ini tidak lazim. Jarang sekali saya mendapat nilai A. Di angkatan 1978, saya cuma mahasiswa rata-rata: mayoritas nilai saya adalah C, agak lumayan dapat B, tapi yang mendapat nilai A sungguh sangat sedikit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tapi, mendapat nilai A pada fisika kuantum selangit rasanya. Buat saya itu setara dengan nilai A pada sepuluh mata kuliah yang lain. Fisika kuantum adalah salah satu mata kuliah paling bergengsi di Jurusan Fisika, kreditnya maksimum: empat. Bukan cuma itu, di zaman  itu, cuma ada dua mata kuliah fisika yang dianggap dahsyat: fisika kuantum dan relativitas umum. Yang terakhir ini belum disajikan di tingkat S1. Fisika kuantum pun sebenarnya baru cuma pengantar pada kuliah sepenuh: mekanika kuantum, yang akan didalami nanti di tingkat S2.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Saya juga takjub pada diri sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Mengapa mendadak saya jadi sangat pintar? Tapi, saya akhirnya menyadari: itu semua karena cara dan gaya Pak Hariadi mengajar kami memang luar biasa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Betapa tidak. Dia selalu sudah ada di kelas sepuluh menit sebelum jam kuliah dimulai. Di hampir semua mata kuliah lain, mahasiswa yang menunggu dosen. Pak Hariadi sebaliknya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pak Hariadi selalu tampil necis: busananya, kebersihannya, dan istimewa tulisannya. Dia membersihkan sendiri papan tulis dengan kain lap basah yang dibawanya dari kantornya. Ada tiga papan tulis di kelas kami. Dibersihkannya dulu papan tulis ketiga saat dia mulai memakai papan tulis pertama, sehingga papan tulis ketiga itu sudah kering saat dia akan memakainya. Demikian seterusnya sampai kuliahnya yang berdurasi 100 menit itu selesai. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lima tahun saya kuliah, tidak pernah saya bertemu dengan dosen lain yang mampu menyamai kerapihan dan keindahan tulisan tangan Pak Hariadi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pak Hariadi juga pekerja cepat. Hari ini ujian, besoknya jawaban soal-soalnya sudah tertempel di papan pengumuman. Di Jurusan Fisika hanya Pak Hariadi yang mampu dan disiplin berbuat demikian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Dia pun hafal nama semua mahasiswa yang diajarnya. Pada setiap kuliah ia mampu memanggil nama mahasiswa secara acak, dan seperti saya di atas setiap mahasiswa yang terpilih namanya disebut diajaknya berinteraksi. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Dan dari interaksi pendek itu, tiba-tiba bisa keluar ilustrasi untuk menjelaskan konsep fisika kuantum. Bukan saja ilustrasi itu sangat menolong, karena membumi bahkan personal, tetapi di tingkat psikologis sang mahasiswa merasa dilibatkan, bahkan dijadikan bintang pada momen pendek itu. Tak pelak kuliah Pak Hariadi selalu digandrungi. Fisika kuantum jadi mudah dimengerti, gampang diikuti, dan menarik ditelusuri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pak Hariadi sangat jauh dari jenis dosen yang memetik rasa puas karena pelajarannya sukar diikuti. Ia bukan tipe dosen yang berbahagia melihat mahasiswa pusing tujuh keliling, lalu takut pada dosennya dan jeri pada pelajarannya. Sedikit pun tak ada perangai galak padanya apalagi &lt;i&gt;killer&lt;/i&gt;. Ia memenuhi  tanda-tanda orang cerdas seturut pendapat Einstein: bahwa orang cerdas ialah orang yang mampu membuat perkara sulit jadi mudah dipahami, sedangkan orang bodoh sebaliknya, membuat perkara mudah jadi sukar dimengerti. Fokus kedosenan Pak Hariadi ialah bagaimana agar mahasiswanya bisa mudah memahami pelajarannya supaya dengan begitu tumbuh gairah, minat, dan kecintaan pada pelajaran itu sendiri. Jadi, sebenarnya tidak mengherankan saya bisa medapat A.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Sampai ke Sidikalang, saat libur panjang semester, sensasi kebanggaan mendapat nilai A itu masih terus berdenyut. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Tak tahan, saya pun menulis sepucuk surat kepada Pak Hariadi. Saya ungkapkan rasa syukur dan terima kasih saya dan khususnya kedahsyatan cara mengajarnya saya apresiasi dengan rinci.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Eh, surat saya dibalasnya dengan cepat. Katanya dari sekitar 30 mahasiswa yang mendapat nilai A, cuma saya yang menulis surat. Gantian dia yang berterima kasih. Di ujung suratnya, sesudah menitipkan salam kepada orangtua saya, dia mengundang saya ke kantornya usai libur. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Waktu itu Pak Hariadi adalah dekan Fakultas MIPA. ”Saya ingin mengenal Saudara lebih dekat.” katanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tak sabar saya menunggu waktu untuk kembali ke Bandung. Berhubung kopi Sidikalang sudah disebut-sebut di awal kuliah, itu pula oleh-oleh yang saya bawa buat beliau. Ketika orangtua saya tahu kisah dosen yang istimewa ini, Ibu saya mengusulkan memberikan ulos sebagai cinderamata. Ulos dan kopi, itulah yang kemudian saya bawa ke Bandung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Ke kantor dekan F-MIPA, saya pun menghadap. Di ujung percakapan, Pak Hariadi, tanpa saya duga, meminta agar saya bersedia menjadi asistennya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Terhenyak saya. Tubuh saya mendadak ringan. Seperti kapas di awang-awang layaknya. Tak berpikir panjang tawaran itu segera saya sambut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ketika Pak Hariadi sadar bahwa saya membawa ulos sebagai cinderamata, dia sempat tertegun lalu berkata, ”Wah, istri saya harus ikut bersama saya menerima ini. Terima kasih. Ini penghargaan yang sangat tinggi.” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Malam itu juga, di rumah Pak Hariadi, saya pun jadi tamu keluarga, diundang makan malam bersama, dan kemudian bercakap-cakap dengan akrab. Di situlah ulos dan kopi Sidikalang saya serahkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sampai akhirnya saya tamat pada akhir 1983–saat itu Pak Hariadi sudah menjabat sebagai rektor ITB–saya terus membantunya sebagai asisten kuliah fisika kuantum. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Diajar oleh Pak Hariadi dan menjadi asistennya sesudahnya merupakan salah satu pengalaman akademik paling berkesan dan terpenting buat saya selama kuliah di ITB Bandung. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Kini saya berpendapat, andai kata semua guru matematika, fisika, kimia, dan biologi di tingkat sekolah lanjutan di negeri ini sanggup mengajar secerdas dan sebaik Pak Hariadi, niscaya mata pelajaran-mata pelajaran keras itu tidak akan pernah jadi momok buat anak-anak muda kita. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Bahkan, matematika dan sains akan jadi mata pelajaran favorit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;selesai&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Ciputat, 26 November 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-3757618196449255235?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/3757618196449255235/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=3757618196449255235' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/3757618196449255235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/3757618196449255235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2008/11/guru-etos-bicara-tentang-gurunya.html' title='Bila Guru  Bicara tentang Mahagurunya'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SS0Hy9yBi_I/AAAAAAAAAmA/NMu43qHNbUw/s72-c/Jhs-jadul+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-1072914129080975224</id><published>2008-11-23T19:48:00.000-08:00</published><updated>2008-11-23T23:21:24.833-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tongkat Inspirasi'/><title type='text'>Tongkat Inspirasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SSorK0f6-NI/AAAAAAAAAlg/xJ98I-XqTx4/s1600-h/jhs-tongkat.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SSorK0f6-NI/AAAAAAAAAlg/xJ98I-XqTx4/s200/jhs-tongkat.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272073778681805010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Jum’at 14 November&lt;/i&gt;. Kami membuka pagi ini dengan secangkir &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cappuccino&lt;/span&gt; untuknya, segelas &lt;i&gt;black coffee&lt;/i&gt; untuk saya.  Kesekian kalinya kami berdua ngopi bareng. Lepau &lt;i&gt;Oh La La&lt;/i&gt; terasa makin akrab dan bersahabat. Masih sepi. Karena itu kami lebih leluasa memilih tempat duduk yang kami suka. Jansen Sinamo tampak lebih santai. Hari ini jadwalnya longgar, setelah sepanjang tiga hari sebelumnya ia habiskan di luar kota (untuk apa lagi kalau bukan bicara tentang etos). Siang ini, kecuali untuk mengunjungi dokter terapisnya, tinggal satu acara yang menunggunya.  Pukul 13:00 nanti menghadiri jamuan makan perayaan 80 tahun Prof.Dr. Midian Sirait.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Beliau salah satu mentor dan tokoh inspirasi saya,” kata Jansen.  “Sampai usia beliau 80 tahun saat ini, beliau tak berhenti berkarya, walau pun sebagian besar karya itu dihasilkan dari atas kursi roda. Itu termasuk hal yang  menginspirasi saya agar tetap bersemangat untuk pulih,” tutur Guru Etos sambil tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Prof Sirait telah lama dikenal nama dan karyanya di panggung pembangunan Indonesia. Ia pernah menjadi Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan (Dirjen POM) (1978-1988) yang makin mengokohkan dirinya sebagai tokoh farmasi di Tanah Air. Gelar sarjana muda apoteker ia peroleh dari UI pada 1956 sedangkan gelar  sarjana penuh dari Universitas Hamburg, Jerman (1958) dan gelar doktor dari  Freie Universitat, Berlin.  Ketokohannya di bidang farmasi juga ditopang karier akademisnya sebagai gurubesar ilmu kimia di ITB. Untuk ini, ia antara lain mendapat anugerah Sewaka Winayaroha, yaitu penghargaan pengabdian pendidikan tinggi kepada  guru besar ITB yang telah berjasa dalam memajukan dan meningkatkan peranan perguruan tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Sebagai salah satu figur yang ikut mendirikan dasar-dasar birokrasi kefarmasian, Sirait juga diakui karyanya oleh berbagai badan internasional. Diantaranya adalah  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em class="western"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Hermann-Thomms medaille&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt; dari Asosiasi Ilmuwan Farmasi Jerman Barat atas jasanya di bidang farmasi di Indonesia dan penghargaan dari Presiden Republik Federasi Jerman untuk persahabatan dua bangsa &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em class="western"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Verdienst kreuz le klasse&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;. Dari organisasi kesehatan dunia WHO, Prof. Sirait dianugerahi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em class="western"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Health for All&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Agaknya bidang farmasi terlalu sempit bagi kiprahnya. Maka  di luar itu, Prof Sirait  dikenal sebagai tokoh politik yang banyak memberikan bimbingan, dorongan dan melahirkan  kader-kader muda. Ia termasuk konseptor berdirinya Golkar dan aktif di Dewan Pembina partai itu pada periode 1978-1983. Di masa Orde Baru ia juga selama beberapa periode menjadi anggota DPR dari partai berlambang beringin itu. Di era reformasi ia salah satu pendiri Partai Demokrasi Kasih Bangsa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SSorYCenllI/AAAAAAAAAlo/_gAbPq8SR9M/s1600-h/midian-sirait%28bangakbar.com%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 158px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SSorYCenllI/AAAAAAAAAlo/_gAbPq8SR9M/s200/midian-sirait%28bangakbar.com%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272074005772736082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Seperti yang dilaporkan oleh media massa, pada perayaan ulang tahunnya ke 80 Prof Sirait  meluncurkan buku yang diberi judul &lt;i&gt;Revitalisasi Pancasila; Catatan-cacatan tentang Bangsa yang Terus Menerus Menanti Perwujudan Keadilan Sosial.&lt;/i&gt;    Menurut media massa yang memberitakan acara itu, buku tersebut melibatkan nama-nama seperti Rahman Tolleng, Marzuki Darusman, Anhar Gongong dan Abdul Hadi WM. Hadir dalam peluncuran buku tersebut antara lain Akbar Tanjung,  Ketua DPR RI Agung Laksono, mantan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudohusodo, mantan Kapolri Awaloeddin Djamin, mantan Menteri Tenaga Kerja Cosmas Batubara dan adik  mantan Presiden Abdurahman Wahid, Salahuddin Wahid. “Pemikiran beliau mempengaruhi banyak aktivis pada jamannya termasuk saya,” ujar Akbar yang mengakui bertemu  secara langsung dan berkenalan dengan Prof. Sirait sejak 1973.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Di kalangan Batak sendiri, perhatian Prof Sirait terutama diwujudkan lewat kepeduliannya pada masalah-masalah pembangunan daerah, pendidikan dan kebudayaan. Ia telah lama menjadi orang yang dituakan,  tempat meminta nasihat mau pun sokongan sumberdaya. Bukan rahasia lagi, bahwa sebagai jejaring kekerabatan, Sirait sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fam&lt;/span&gt;  menjadi salah satu yang terdepan di Indonesia, terutama di Jakarta. Andil Prof Sirait termasuk besar dalam hal ini. Bersama dengan tokoh Batak lainnya, ia juga ikut mengusulkan dan memrakarsai pendirian propinsi Tapanuli.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jansen berkenalan dengan Prof Sirait dalam kepengurusan Perhimpunan Pencinta Danau Toba. Beberapa tahun lalu, atas inisiatif sejumlah tokoh Batak dibentuk lah perhimpunan itu. Menteri Pertanian kala itu, Bungaran Saragih, duduk sebagai ketua sedangkan Prof Sirait  sebagai ketua pelaksana harian.  Alm Raja Inal Siregar sebagai gubernur Sumatera Utara, rupanya punya saran yang bagus. Ia ingin agar  kepengurusan  perhimpunan tersebut mencakup keseluruhan unsur etnik Batak di Sumatera Utara. Jadi lah Jansen Sinamo diminta bergabung, mewakili Batak Pakpak. Awalnya ‘cuma’ sebagai bendahara IV.  Namun  dalam perjalanan kepengurusan periode berikutnya, Jansen duduk menjadi sekretaris. Ini yang membuat hubungannya dengan Prof Sirait semakin intens.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Prof Sirait pernah mengalami kelumpuhan, seperti yang dialami Jansen kini. Ceritanya, suatu hari, dulu, tatkala usianya menginjak angka 60-an, Prof Sirait harus menjalani operasi di Jerman.  Terjadi sebuah ‘kecelakaan.’ Salah satu urat syarafnya terpotong secara keliru. “Bayangkan, dokter Jerman juga ternyata bisa melakukan kesalahan,” kata Jansen. Kekeliruan itu menyebabkan Prof Sirait tak lagi bisa secara sempurna berjalan. Kemana-mana ia harus menggunakan tongkat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tapi itu tak mematahkan semangatnya. Tongkat itu terus-menerus menjadi saksi produktivitas Prof Sirait, menemaninya kemana saja pergi. Tongkat dengan pegangannya berkepala burung dengan paruh terbuka itu, cukup lama menjadi sahabat setianya,  hingga kemudian usia mengharuskan Prof Sirait membutuhkan perangkat lain, yakni kursi roda. Tongkat itu harus diistirahatkan, tetapi hanya untuk sementara waktu. Sebab jasa sang tongkat kini kembali dibutuhkan. Kali ini yang membutuhkannya adalah Jansen Sinamo, yang  di usianya ke 50, sebelah tubuhnya belum sempurna bergerak akibat terserang stroke ringan. “Beliau menghadiahkan tongkat itu  ketika menjenguk saya,” kata Jansen. Memang bagian bawah tongkat terpaksa dipotong beberapa sentimeter karena terlalu panjang. Prof Sirait mempunyai ukuran tubuh  di atas ukuran  orang Indonesia, demikian pula tongkatnya. Perlu penyesuaian ketika Jansen harus menggunakannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;   &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;()()()&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jansen Sinamo, lelaki kelahiran Sidikalang itu, yang di masa kecilnya masih bisa membayangkan bagaimana menikmati telur dadar yang dilebar-lebarkan hingga seukuran piring untuk disayat-sayat dan dibagi-bagi kepada dia dan tujuh adiknya yang lain, telah mengayuh bahtera hidupnya melampaui banyak hal  yang tak pernah direncanakannya. Sebagai Guru Etos, kebanyakan waktunya memang dihabiskan di depan audiens, berbicara, memotivasi, melatih dan memberi pencerahan. Tetapi bersamaan dengan itu ia juga menjelajah berbagai panggung lainnya. Membawanya berkenalan dengan tokoh-tokoh yang kemudian dianggapnya membimbingnya, memberi jalan baginya dan karena itu lah Jansen selalu percaya bahwa sukses bukan proses yang soliter. Sukses tak kan pernah berjalan sendirian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ini memang selalu mendatangkan pertanyaan usang tetapi menarik. Ketika bekerja untuk mendudukkan letak tokoh yang ditelitinya seobjektif mungkin, para sejarawan dan biographer kerap berandai-andai dengan pertanyaan yang tak mungkin ditemukan jawabannya secara persis. Yakni, apakah sejarah telah dengan sengaja memanggil dan memilih tokoh dimaksud untuk memainkan peranannya, sehingga seandainya jarum jam diputar ulang dan berbagai kejadian sejarah disusun seperti menyusun &lt;i&gt;puzzle-puzzle&lt;/i&gt; sesuai pada tempatnya, tokoh tersebut akan tetap tampil dengan peran yang dimainkannya itu sama baik (atau buruknya) dengan apa yang sudah terjadi? Atau sejarah sesungguhnya hanya sebuah mesin yang bergerak dengan sendirinya, yang pasti akan mendapati tokoh yang dimunculkannya, kalau bukan si A, pasti si B, dan karena itu peristiwa bersejarah harus tetap berlangsung dengan atau tanpa tokoh tertentu itu? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sekali waktu Taufik Abdullah menulis dalam pengantar buku &lt;i&gt;Manusia dalam Kemelut Sejarah&lt;/i&gt;: “Apakah nabi Muhammad SAW akan tetap hijrah, jika saja pamannya Abu Thalib tak meninggal dan pamannya yang lain, Abu Jalal, tidak memusuhinya? Bagaimana jadinya dengan Orde Baru jika saja Bung Karno segera mengutuk PKI?.......Setelah Julius Caesar terbunuh, Agustus muncul dan ia kemudian meletakkan tradisi kekaisaran Roma. Setelah Nabi hijrah, sistem kenegaraan Islam mulai diletakkan. Setelah kejatuhan Bung Karno, pemerintah Orde Baru mulai…”  Daftar ‘seandainya’ ini masih dapat diperpanjang. Termasuk dengan bertanya: seandainya Columbus 500 tahun lalu berhasil menemukan jalur baru menuju India, apa nasib negara adi daya Amerika Serikat yang memunculkan presiden kulit hitam pertama di 2008 ini? Dan jika Jansen Sinamo tak meninggalkan Dale Carnegie dalam perjalanan hidupnya, apakah Indonesia akan mengenal seseorang dengan julukan Guru Etos, atau ‘sejarah’ akan memberikan peran itu kepada tokoh lain?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Teori tentang sukses juga sering berangkat dari titik tolak yang sama dengan pertanyaan berandai-andai itu. Menurut Jansen Sinamo, pada dasarnya teori sukses terbagi pada dua pandangan umum. Pertama, sukses digambarkan sebagai proses yang linear. Hubungan sebab-akibat. Sukses sepasti pelajaran mencongak tatkala di SD dahulu. Bila sudah rajin sejak kanak-kanak, disiplin, punya misi dan visi yang jelas, maka sukses akan tercapai, semudah memetik buah mangga yang ranum di pohon.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Tetapi ada pandangan kedua. Sukses tidak sesederhana itu. Dalam perjalanannya ada berbagai proses interaksi berbagai faktor di luar diri sang subjek plus interaksi berbagai faktor itu dengan diri si subjek sendiri. Proses itu, yang dalam berbagai khasanah ilmu kerap digambarkan dengan kata, &lt;i&gt;emerge, emergence&lt;/i&gt;, pemunculan atau kebangkitan ikut menentukan secara substansial kesempatan seseorang meraih apa yang diinginkannya, memainkan perannya dalam sejarah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sebuah penjelasan menggambarkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;emergence&lt;/span&gt; itu sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;When we think about emergence we are, in our mind's eye, moving between different vantage points. We see the trees and the forest at the same time. We see the way the trees and the forest are related to each other. To see in both these views we have to be able to see details, but also ignore details. The trick is to know which of the many details we see in the trees are important to know when we see the forest.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ini agak berbeda dengan cara pandang konvensional, seperti cara memandang sukses sebagai perjalanan linear. Sebab dalam cara pandang konvensional itu,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;....the observer considers either the trees or the forest. Those who consider the trees consider the details to be essential and do not see the patterns that arise when considering trees in the context of the forest. Those who consider the forest do not see the details. When one can shift back and forth between seeing the trees and the forest one also sees which aspects of the trees are relevant to the description of the forest. Understanding this relationship in&lt;/i&gt; &lt;i&gt;general is the study of emergence.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bila itu dikaitkan dengan perjalanan dirinya, Jansen mengatakan ia memberi perhatian besar pada pandangan kedua itu. Tatkala ia merenung-renungkan, ‘memutar ulang’ gambar kehidupan  masa kecil dan perjalanan hidupnya hingga sejauh ini, ia mengakui banyak hal yang dicapainya kini adalah juga berkat munculnya  proses &lt;i&gt;emergence&lt;/i&gt;, interaksi beraneka hal dan kejadian yang sulit diterangkan, tetapi itu lah yang memunculkan kesempatan baginya untuk menorehkan peran yang ia lakoni.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ke dalam berbagai fenomena &lt;i&gt;emergence&lt;/i&gt; ini dalam hidupnya, menurut Jansen, adalah pertemuan dan selanjutnya perkenalannya secara intens dengan tokoh-tokoh yang kelak dianggapnya  mentor atau tokoh inspirasinya. Prof Sirait adalah salah satunya. Dan, Jansen tidak pernah ingin melupakan para tokoh yang hadir dalam hidupny. Banyak diantara perkenalan itu tak pernah dengan sengaja dirancang apalagi ditargetkan. Sebagai contoh, ia diminta bergabung pada Perhimpunan Pencinta Danau Toba pada awalnya hanya untuk menggenapi personil yang sudah ada.  Tetapi pada perjalanan selanjutnya ia mendapat porsi lebih dari yang ia bayangkan. Dan  semua itu berjalan seolah diatur oleh &lt;i&gt;‘invisible hands’&lt;/i&gt; yang tak dapat dijelaskan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bila bicara tentang aneka peristiwa lain yang menentukan dalam hidupnya, proses &lt;i&gt;emergence&lt;/i&gt; itu kerap lebih absurd dan lucu lagi. Beberapa kejadian bahkan terjadi karena ‘kecelakaan’ yang sesungguhnya ingin dihindari, tetapi pada akhirnya  semua itu justru memberi peluang baginya menapaki lompatan-lompatan hidup yang lebih tinggi dan lebih besar. Baik dalam artian kehidupan yang lebih sejahtera mau pun karya yang lebih dikenal secara lebih luas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Itu sebabnya Jansen percaya pada apa yang disebut serendipitas. Dan ia percaya hal itu datangnya dari Yang Maha Kuasa. Semacam proses &lt;i&gt;emerge &lt;/i&gt;yang hanya Dia yang tahu. Rahmat yang diberikanNya kepada umatnya, mungkin sebagai kejutan, tetapi mungkin juga sebagai belas kasihan. Sama seperti Jansen percaya pada hubungan kasualitas dalam berbagai aspek dalam hidup, pada saat yang sama ia juga percaya pada apa yang dikenal sebagai serendipitas tadi,  yaitu suatu kejadian menemukan atau memperoleh sesuatu yang bernilai tanpa mencarinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Satu serendipitas, saya alami pada April 2001 di suatu hotel di Jakarta," kata Jansen, dalam bukunya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Delapan Etos Profesional&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; “&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Saya akan memimpin sebuah program pelatihan di sana dan karena tidak ingin terlambat, saya pun berangkat pagi sekali. Alhasil saya tiba terlalu pagi. Baru sebentar duduk membuka Koran, tiba-tiba satu wajah yang familiar muncul di depan mata. Sudah tujuh atau delapan tahun saya tidak melihatnya. Dia ada janji dengan orang lain dan datang terlalu pagi seperti saya. Kami pun segera memesan kopi. Dari kartu namanya segera saya sadar bahwa dia kini menjadi CEO sebuah perusahaan computer. Dan kebetulan saya punya masalah di bidang itu. Saya pun mulai bercerita. Karena keahian saya di bidang pelatihan, segera pula dia melihat peluang kerjasama. Dia membutuhkan keahlian dan jejaring saya. Singkatnya kami berjanji untuk bertemu lagi untuk membahas kerjasama lebih lanjut. Sebuah serendipitas, rahmat khusus yang melawat kami,” tulis Jansen.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Munculnya Barack Obama sebagai presiden kulit hitam pertama di Amerika Serikat, menurut Jansen, adalah contoh dari proses &lt;span style="font-style: italic;"&gt;emerge&lt;/span&gt; tersebut. Kesuksesan pria yang pernah menjalani masa kecilnya di Jakarta itu, menurut Jansen, bukan semata karena hasil kerja keras dirinya mempersiapkan diri sejak kecil untuk mencapai yang diangankannya, tetapi juga adalah hasil dari proses emerge berbagai faktor di luar dirinya yang memberi kesempatan bagi pemunculannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dengan kata lain bukan hanya Barack Obama yang bekerja dalam kaitan ini tetapi perubahan masyarakat Amerika juga ikut memberi andil bagi terciptanya sejarah baru, di Amerika bahkan di dunia. Seandainya pun ada tokoh kulit hitam yang lebih hebat dari Barack Obama  sepuluh tahun lalu, ia mungkin tidak akan mendapatkan kesempatan seperti yang dimiliki Obama sekarang. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bagi Jansen keyakinan bahwa sukses adalah hasil dari proses &lt;i&gt;emerge&lt;/i&gt; tidak berarti mengeliminasi pandangan pertama yang mengatakan bahwa sukses adalah hasil dari inisiatif, kerja keras, disiplin, rencana dan visi. Pandangan kedua, menurut Jansen, justru untuk memberi kesempatan bagi kita untuk lebih kuat dan optimistis  menjelaskan kenyataan. Dengan begitu, ketidakberhasilan mencapai apa yang dicita-citakan, berbeloknya kenyataan dari apa yang kita rencanakan, tidak lantas menghadirkan rasa frustrasi apalagi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngambek&lt;/span&gt; pada hidup. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;()()()&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jansen menghirup kopi dari gelasnya. Dari balik kaca, tampak oleh kami orang berlalu lalang di luar. Pagi masih muda dan kami masih punya banyak waktu. Sekali lagi Jansen mengangkat gelas dan menikmati capucciono-nya. “Kopi sudah jadi bagian hidup saya sejak kecil. Kami orang Sidikalang tak bisa hidup tanpa kopi,” katanya sambil tersenyum. Dan perbincangan kami pun berlanjut. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;(bersambung).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Ciputat, 23 November 2008&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;keterangan dan sumber foto:&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;(1) Jansen Sinamo berpose di lepau Oh La La dengan tongkat.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;(2) Prof Dr Midian Sirait menyerahkan bukunya kepada beberapa tokoh. Sumber: www.bangakbar.com&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-1072914129080975224?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/1072914129080975224/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=1072914129080975224' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/1072914129080975224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/1072914129080975224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2008/11/tongkat-inspirasi.html' title='Tongkat Inspirasi'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SSorK0f6-NI/AAAAAAAAAlg/xJ98I-XqTx4/s72-c/jhs-tongkat.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-1387622925972927212</id><published>2008-11-10T21:08:00.000-08:00</published><updated>2008-11-11T05:25:03.054-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='God Loves Stories'/><title type='text'>God Loves Stories</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SRmHouD_z8I/AAAAAAAAAZo/bWX_nLofVfs/s1600-h/old_seven_wonders_of_the_world_pyramid_of_giza.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 148px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SRmHouD_z8I/AAAAAAAAAZo/bWX_nLofVfs/s200/old_seven_wonders_of_the_world_pyramid_of_giza.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267390372815818690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lepau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh La La&lt;/span&gt; makin ramai. Sebentar lagi kami akan menyudahi &lt;i&gt;coffee morning&lt;/i&gt; itu. Arloji menunjuk angka 10:12.  Pukul 15 :00 nanti Jansen Sinamo akan bicara di depan para eksekutif sebuah bank BUMN di Bogor. Ia memutuskan akan pulang dulu ke rumah sebelum berangkat ke sana.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in; color: rgb(255, 255, 255);font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dua pekan setelah ngopi bareng yang dulu, hari ini kami bertemu lagi. Di lepau yang sama, di jam yang sama. Juga dengan menu yang sama: kopi dan omelet setebal sandal jepit Jepang. Harinya: Jum'at 5 November. Lebih dua jam kami telah berbincang, dengan saya kebagian sebagai pelontar pertanyaan.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seselintas saya terbayang pada Oriana Fallaci. &lt;i&gt;Apakah saya harus melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti dia?&lt;/i&gt; Novelis, wartawan dan perempuan Italia itu dikenang  sebagai pewawancara legendaris terutama oleh kekuatan, keberanian dan keblak-blakan pertanyaannya kepada para tokoh dunia lawan bicaranya. Ia dijuluki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;avenging angel&lt;/span&gt;, malaikat pembalas dendam, walau pun banyak juga diantara wawancaranya itu berisi pencerahan  simpatik bagi orang-orang yang membacanya. Seperti pengakuannya sendiri, ia akan selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan sulit –dan mungkin mempermalukan-- pada bagian paling awal wawancaranya. Tidak perlu ada basa-basi. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I’ll begin with the most brutal question….&lt;/span&gt;,” katanya suatu kali mengawali wawancaranya dengan Indira Gandhi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Wawancara Oriana Fallaci biasanya panjang dan bertele-tele. Ia tak pernah sudi  naskahnya dipotong atau disunting, demi alasan apa pun. &lt;i&gt;Take it or leave it&lt;/i&gt;, begitu  ia berdebat dengan pemimpin koran yang mencoba mengkompromikan laporannya. Ia marah besar dan tak pernah lupa ketika wawancaranya dengan Lech Walesa disunting sedemikian rupa oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The London Sunday Times&lt;/span&gt;. Koran itu ia tuduh telah menghianati dirinya. Wawancara itu memang telah dibeli putus dari Fallaci. Tetapi dengan perjanjian dimuat penuh. “&lt;i&gt;They gave me their word of honor, they swore that they would publish the complete text, no cuts, no manipultions, then I found that they had abolished some questions, mixed some answer, cut and manipulated the whole text…&lt;/i&gt;..” tuturnya dalam sebuah sesi tanya jawab dengan para wartawan peserta program Nieman di Universitas Harvard.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Fallaci punya banyak alasan mengapa wawancara-wawancaranya seperti sebuah mahakarya yang kudus, tak boleh disentuh oleh orang lain kecuali penciptanya. Ia ingin jujur. Apa adanya. Dan lebih dari itu, menurut dia, wawancara kerap juga jauh lebih efektif dibanding laporan naratif. Bagi Fallaci, wawancara adalah teater. Dan ia memilihnya  sebagai cara mengekspressikan diri sebagai wartawan dan penulis. “&lt;i&gt;I thought, as I still think, that interviews are direct and effective and dramatic. They are beautiful because they are theatre. When you want to give the portrait of a person nothing is as good as an interview…..&lt;/i&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jadi, haruskah gaya Oriana Fallaci dihadirkan di lepau ini?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hanya selintas saja pertanyaan itu. Dengan cepat ia menemui ajal.  Tidak. Saya tidak harus seperti Oriana Fallaci ketika berbincang dengan Jansen Sinamo. Sepanjang perbincangan kami, saya menyadari bahwa yang terbangun –terutama dibangun sendiri olehnya—adalah  atmosfir  persahabatan yang hangat, akrab tanpa jarak, yang dalam Bahasa Batak mungkin tergambar dari istilah….&lt;i&gt;ai so ise, hita do&lt;/i&gt;, (bukan siapa-siapa, kita-kita juga, kok). Dia adalah &lt;i&gt;story teller&lt;/i&gt;. Dan, seperti pada hampir sebagian besar cerita yang kita dengar, kita selalu hanyut di dalamnya, terlibat bahkan melibatkan diri.  Jansen tahu hal itu. Maka  sebagian besar pertanyaan akan dijawabnya dengan cerita, perumpamaan, ilustrasi dan juga humor....&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;God loves stories&lt;/i&gt;, kata Jansen, ketika menjelaskan kenapa cerita adalah cara yang terbaik untuk menjelaskan sesuatu. Tuhan mencintai cerita. Bacalah kitab suci apa saja, kata dia. Penuh dengan cerita. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Godang do tudos-todus di portibi on&lt;/span&gt;, adalah nasihat klasik dalam tiap perbincangan para tetua Batak. Dan dari cerita manusia belajar. Manusia melihat dirinya sendiri.  Tapi lebih dari itu, melalui cerita manusia menyadari dan menghadirkan Tuhan dalam kehidupannya. Dia sang Maha  itu selalu ada dan terlibat dan manusia menyatakannya melalui cerita. Tak lupa Jansen menyarankan agar saya membaca &lt;i&gt;Soul Print&lt;/i&gt; karya Marc Gaffni, filosof Amerika yang bermukim di Jerusalem, yang menyuarakan kebajikan lewat cerita-cerita spiritual untuk membantu pembacanya menemukan gairah hidup. (Di rumah, karena penasaran, saya mencoba mencarinya lewat situs Amazon.com,  Jansen benar. Buku itu persis seperti yang dijelaskannya.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cover&lt;/span&gt; belakang buku tersebut berkata: &lt;i&gt;SOUL PRINT speak to all readers, regardless of religious beliefs and practises. Using the power of myth –biblical and folk&lt;/i&gt;&lt;i&gt;―and drawing his high and lows, Gaffni offer advice on how to overcome the obstacles of an increasingly disconnected world to form bonds based truth and love:connections that begin with our true selves&lt;/i&gt;.)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;()()()&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jadi, kapan Anda pertama kali menyadari harus memulai menulis sesuatu tentang Etos, yang kini menjelma jadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;masterpiece &lt;/span&gt;Anda?.” Di sela perbincangan saya melontarkan pertanyaan itu. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebentar ia menoleh ke luar lewat dinding kaca. Ia tersenyum dengan bola mata yang bulat besar yang jadi ciri khasnya. Dan Jansen  kemudian menjawabnya, dengan caranya yang sudah khas pula:  dengan cerita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tahun 1995 adalah puncak mobilitas Jansen Sinamo bepergian ke berbagai negara, terutama Amerika Serikat. Kedudukannya sebagai instruktur Dale Carnegie mengharuskannya demikian. Dan pada suatu hari ia harus merelakan diri 'terjebak' di sebuah bandara di negeri itu. Penerbangannya tertunda empat jam lebih. Badai salju dimana-mana. Ia memutuskan harus mencari kesibukan melewatkan waktu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lalu ia menemukan sebuah bacaan. &lt;i&gt;Life&lt;/i&gt;. Majalah itu menyajikan topik &lt;i&gt;cover story&lt;/i&gt; yang menarik: Apa Warisan Manusia yang paling Abadi?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sambil mengunyah daging bison yang dikeringkan yang di temukannya di salah satu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;foodcourt&lt;/span&gt; bandara itu (enak kali bah...., kata Jansen, mengenang. Ia tak bisa lupa tentang rasa daging bison itu) ia pun hanyut dalam bacaannya. Lebih dari itu. Ia temukan pencerahan dari yang dibacanya. &lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Apa sih  warisan manusia yang paling abadi?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ada tujuh keajaiban dunia kuno yang sering disebut-sebut. Colossus Rodos, yakni patung Helios yang sangat besar, dibuat sekitar tahun 292-280 SM di Yunani. Taman Gantung Babilonia, dibuat oleh Nebukadnezar II sekitar abad ke-8 SM di Irak. Mauseoum Mausolus, yakni makam Mausolus di Turki. Mercusuar Iskandariyah di pulau Pharos. Piramida Giza yang jadi makam Firaun di Mesir. Patung Zeus di kota Olympia. Dan Kuil Artemis di Efesus yang sekarang lebih dikenal sebagai Turki&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sayangnya, menurut &lt;i&gt;Life&lt;/i&gt; yang dibacanya itu, sebagian besar dari tujuh keajaiban itu tak mampu bertahan. Dari kesemuanya, hanya piramida Giza lah yang masih dapat disaksikan hingga di zaman modern sekarang. Sisanya lenyap bahkan ada yang diragukan benar-benar pernah ada. Walau ajaib, hebat dan menghebohkan, ternyata semua itu tidak abadi sebagai warisan manusia.  Taman gantung babilonia kini tinggal kenangan, bahkan ada yang menyangsikan apakah ia pernah dibangun.  Patung Helios bahkan hanya bertahan selama 56 tahun sebelum dihancurkan oleh gempa bumi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bukan, bukan keajaiban-keajaiban itu yang merupakan warisan paling abadi manusia. Menurut &lt;i&gt;Life&lt;/i&gt;, yang paling abadi adalah....buku. Ya, ide-ide yang dituangkan ke dalam buku adalah warisan yang tak pernah bisa lenyap sepanjang masa. Dan Jansen Sinamo seperti terkesiap, menyadari dan mengaminkan hal itu. Dirinya tersadar untuk menyiapkan warisan yang abadi. Yang akan menjadi &lt;i&gt;soul print&lt;/i&gt; dirinya. Dan kejadian tahun 1995 itu, menurut dia, adalah momen paling permulaan dan paling menentukan bagi terciptanya buku Etos,  yang uniknya baru terbit pertamakali  beberapa tahun kemudian. Jansen tak pernah melupakan momen itu, sama seperti ia tak bisa lupa pada daging bison yang dikeringkan…..&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;()()()&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ribuan orang sudah pernah mendengar Jansen Sinamo berbicara dan bercerita. Tiap panggung, bagi dia, selalu mempunyai tantangan dan daya tarik sendiri. Bukan hanya korporasi yang mengundangnya bicara. Ia bahkan pernah diminta menjadi pembicara oleh suatu perkumpulan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;punguan&lt;/span&gt;) marga Batak Toba. Rupanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;punguan&lt;/span&gt; itu merasa penting mendapat suntikan Etos agar semangat maju di kalangan marga itu terpacu. Uniknya, marga yang dimaksud sebetulnya termasuk yang besar dan terpandang di lingkungan batak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lalu Jansen memulai penampilannya dengan cerita tentang popularitas marga-marga Batak di dunia. Marga Batak mana sih yang paling populer? Maka ia mengambil tolok ukur sederhana: mesin pencari Google. Dan, ternyata menurut Google, perkumpulan marga yang kini jadi audiens-nya itu hanya berada di urutan ke-12 diantara marga-marga Batak, dengan jumlah item penelusuran di mesin pencari internet  sekitar 400 ribuan. Yang teratas adalah marga lain yang mungkin tak disangka-sangka mereka, dengan jumlah penelusuran 1,5 juta. “Mereka panas. Lalu ketika diminta menjawab apa yang harus dilakukan atas temuan itu, mereka langsung bersemangat bicara. Ada yang bilang, dalam lima tahun harus bisa di lima terbesar. &lt;i&gt;Good&lt;/i&gt;. Dan, untuk itu diperlukan Etos,” kata Jansen menceritakan pengalamannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebelum tampil pada hari H,  para dalang terkenal mengaku harus melakukan semacam tapa dan puasa. Dulu di kampung kami, saya masih ingat, sebelum memulai pekerjaannya membangun rumah, para tukang beserta ‘stafnya’ harus dijamu dan disuguhi makanan yang serba teratur oleh empunya rumah. Semacam syarat dan harapan agar pekerjaan itu lancar tak kurang suatu apa. Konon, seperti yang saya dengar dari seorang sahabat, para pemain Srimulat yang kocak, nyeleneh dan tampil lepas di atas panggung itu, justru tegang dan gelisah di balik panggung sambil merokok dan minum bir, menanti-nanti detik-detik penampilan mereka. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apa yang Anda lakukan pada saat-saat menjelang bicara di suatu acara? Apakah ada ketegangan semacam itu yang Anda rasakan?” Saya bertanya kepada Jansen.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ia menyandarkan punggung ke sofa tempatnya duduk. Tangan kanannya terentang di sandaran. Kata dia, jelas ia melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;home-work&lt;/span&gt;-nya sebelum tampil. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thank to&lt;/span&gt; teknologi informasi. Semua materi pelatihan dan ceramahnya sudah ada di laptopnya. Dan, bila keadaan mengharuskan, dalam hitungan beberapa menit pun, ia bisa siap untuk bicara.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Sekarang ini, saya membayangkan saya sudah seperti dokter spesialis. Kapan pun orang datang atau kapan pun dipanggil, harus siap untuk bekerja,” kata Jansen.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apa yang Anda lakukan dalam perjalanan menuju tempat Anda tampil?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hehehe. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nothing special&lt;/span&gt;,” kata dia. “Baca-baca. Menelepon teman-teman. SMS. Kadang-kadang tertidur juga, Apalagi  bila perjalanan cukup memakan waktu, seperti misalnya, nanti ketika akan menuju Bogor. Materi presentasi sudah saya siapkan sejak tadi malam. Tinggal baca-baca sebentar.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pernah suatu kali ia diminta mengadakan pelatihan beberapa hari di sebuah instansi Pemerintah. Pesertanya adalah seluruh pimpinan instansi tersebut, termasuk Pak Menteri. Ketika hari pertama pelatihan  usai, tak semua peserta langsung membubarkan diri dan meninggalkan tempat pelatihan. Ada tiga orang yang masih asyik terus mengajaknya berdiskusi. Saat malam makin larut, satu per satu  mereka mohon pamit, hingga  tinggal satu orang yang tampaknya masih tetap menikmati perbincangan. Dan tatkala kemudian mereka sepakat mengakhiri percakapan karena waktu istirahat sudah tiba, lawan bicara Jansen berdiri. Ia mohon pamit, seraya berkata, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Well&lt;/span&gt;, Pak Jansen. Anda layak jadi guru kami. Terimakasih telah menyediakan waktu,” kata dia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tiga orang yang mengajaknya berbicara itu semuanya bergelar Ph.D. Agaknya perbincangan sampai larut malam itu adalah satu tahapan untuk ‘menguji’ Jansen.   &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;()()()&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hujan gerimis menyertai perjalanan saya meninggalkan lepau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh La La&lt;/span&gt;. Saya melihat Jansen berjalan dengan tongkatnya memasuki mobil yang akan membawanya pergi. Kami sudah berjanji akan bertemu kembali tak lama lagi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; Ciputat, 9 November 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-1387622925972927212?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/1387622925972927212/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=1387622925972927212' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/1387622925972927212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/1387622925972927212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2008/11/majalah-life-dan-sekerat-daging-bison.html' title='God Loves Stories'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SRmHouD_z8I/AAAAAAAAAZo/bWX_nLofVfs/s72-c/old_seven_wonders_of_the_world_pyramid_of_giza.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-7485601905051117589</id><published>2008-10-27T04:44:00.000-07:00</published><updated>2008-11-10T21:01:09.960-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Biasa di Lepau Oh La La'/><title type='text'>Cerita Biasa di Lepau Oh La La</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kalau mau, Dia bisa tidur-tiduran saja. Semuanya sudah Dia kerjakan. Tinggal ongkang-ongkang kaki menunggu hasil. Tetapi tidak. Dia tak pernah diam. 24 jam setiap hari, sepanjang zaman sepanjang segala abad, Dia bekerja. Dia adalah Tuhan yang bekerja.  Kita tak henti-henti memberi Dia pe-er. Tak kenal waktu tak kenal tempat. Dia tak bekerja hanya karena Dia ingin bekerja. Kita pun berharap Dia mengerjakan apa yang kita minta. “Jadi kita mengenal Tuhan bukan hanya sebagai Pencipta. Manusia mengenal Dia sebagai Tuhan yang bekerja, &lt;i&gt;The Working God,&lt;/i&gt;” kata lelaki itu.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SQmcr1IYFvI/AAAAAAAAAXE/0rPItCnAEKc/s1600-h/jansensinamo-01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 134px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SQmcr1IYFvI/AAAAAAAAAXE/0rPItCnAEKc/s200/jansensinamo-01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5262909916369655538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada suatu hari Jum’at tiga minggu lalu, pagi masih demikian muda tapi kami sudah larut dalam diskusi menggebu-gebu tentang Tuhan dan etos kerja.  Kafe &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh La La&lt;/span&gt; di lobi sebuah gedung pencakar langit di kawasan Imam Bonjol itu sebetulnya belum sepenuhnya &lt;i&gt;ready.&lt;/i&gt; Beberapa jenis &lt;i&gt;cake&lt;/i&gt; yang jadi menu istimewanya, belum matang. Dari dalam kafe, pemandangan melalui kaca menunjukkan satu demi satu karyawan di perkantoran itu baru berdatangan. Mereka cukup dengan berjalan santai, sebab masih ada waktu lowong 30 menit lagi sebelum jam kantor mulai. Tetapi lelaki berusia 50 tahun di hadapan saya, dugaan saya, sudah melewati ‘setengah’ dari apa yang ingin ia sampaikan pada acara ‘ngopi bareng’ kami, pagi itu. Ibarat menyetir mobil, saya benar-benar luput memperhatikan kapan dia tadi memasukkan gigi satu. Tiba-tiba saja saya merasakan ia telah mengendalikan pembicaraan dengan gigi tiga yang mulus di jalan tol yang lengang. Sebentar lagi mungkin kami sudah melaju lebih kencang lagi…..&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jansen Sinamo yang jadi tuan rumah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngopi bareng&lt;/span&gt; itu, tampak segar. Beberapa bulan lalu ia sempat terserang stroke ringan, menyebabkan sebelah kiri tubuhnya sempat lumpuh. Ia merahasiakan sakitnya dengan baik, hingga hanya keluarga dan beberapa staf-nya yang tahu. Pendengar siaran rutinnya setiap Jum’at di Radio Smart FM bahkan banyak yang tak diinformasikan kenapa ia absen dan digantikan oleh sahabatnya Andrias Harefa, sementara waktu.  Jansen juga piawai menutupi rahasia itu dari sahabat-sahabat dekatnya, termasuk Jakob Oetama yang baru tahu dan meneleponnya setelah ia pulih. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kini ia segar seperti sediakala, kecuali  adanya tambahan sebuah tongkat sebagai asesori-nya manakala ia berjalan. Cara bicaranya, pilihan kata-katanya, loncatan-loncatan pemikirannya, tak berubah sedikit pun. Ia malah tampak lebih lincah dan efektif dalam mengelola topik pembicaraan. Mungkin karena rokok &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mild&lt;/span&gt; yang dulu sering mengambil jeda kala ia menjelaskan sesuatu, tak lagi ia sentuh kini. Ia pun sudah ‘manggung’ kembali, berbicara di berbagai forum pelatihan motivasi di berbagai kota.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dan, entah bagaimana mulanya pagi itu, kami tiba pada topik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the&lt;/span&gt; &lt;i&gt;Working God&lt;/i&gt;. Jansen Sinamo yang dikenal sebagai Guru Etos,  menjelaskan apa yang diyakininya sebagai masalah yang melanda banyak individu mau pun korporasi di Tanah Air: masih lemahnya kesanggupan bekerja secara profesional. Hampir semua orang mau dan suka bekerja, tetapi apakah itu dapat mewujud dalam kesanggupan bekerja secara profesional? Belum tentu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menurut Jansen, semua orang ingin sukses. Manusia mendayagunakan segenap keahlian dan energi untuk mencapai sukses. Secara batiniah, energi itu oleh Jansen disebut Roh Keberhasilan, &lt;i&gt;the Spirit of Success&lt;/i&gt;, berupa Roh Kebaikan, Roh Keterpercayaan, Roh Pengabdian, Roh Pertumbuhan, Roh Cinta, Roh Estetika, Roh Keunggulan dan Roh Penatalayanan. Semua ini sudah dan tetap ada dalam tiap manusia, sejak Pencipta menganugerahkannya.  Tapi apakah ia akan mewujud dalam dunia nyata, dalam bentuk karya-karya unggul?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tidak. Roh Keberhasilan, bagi Jansen, bukan lah mantra yang bisa menyihir kekalahan jadi kemenangan, menyulap kemiskinan menjadi kemakmuran, atau mengubah setiap kegagalan menjadi kesuksesan. Roh itu membutuhkan aksi, keringat, bahkan airmata untuk menghasilkan buah-buah yang manis. Lalu manusia bekerja. Membanting tulang. Tapi itu pun tak cukup bila bekerja hanya dipandang sekadar respon aspirasi manusia. Dibutuhkan sikap dan perilaku kerja yang positif. Dan itu lah yang oleh Jansen dikristalkan menjadi &lt;i&gt;Delapan Etos Kerja Profesional&lt;/i&gt;. (Lebih jauh tentang karya-karya Jansen Sinamo, bisa diklik &lt;a href="http://institutmahardika.com/"&gt;di sini&lt;/a&gt;). Bagi Jansen, aliansi antara roh keberhasilan dan etos kerja lah yang membawa manusia mencapai impiannya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lebih dari 10 tahun Jansen Sinamo menyemai &lt;i&gt;Delapan Etos Kerja Profesional&lt;/i&gt; itu melalui berbagai pelatihan yang telah menjangkau ribuan orang di  perusahaan besar dan kecil di seantero Indonesia. Buku dengan judul serupa telah dicetak ulang sampai lima kali, terjual lebih dari 300 ribu kopi, sebuah buku &lt;i&gt;super best seller&lt;/i&gt; dibandingkan buku lokal ber-genre serupa. “Dengan ilustasi yang kaya, penulisannya dilakukan secara amat hidup, penuh pathos dan segera mengingatkan kita akan energi yang muncul dari buku-buku Dale Carnegie,” kata Ignas Kleden tentang buku karya sahabatnya itu. “Bekerja cerdas bergairah. Bekerja sebagai ibadah. Bekerja memberi makna hidup. Bacalah buku ini. Padat, lancar, berinspirasi,” kata Jakob Oetama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Jansen Sinamo sendiri dengan bangga menerima dan melakoni julukan sebagai ‘Guru Etos’ kendati ia masih menyimpan cita-cita agar Etos itu menyentuh lebih banyak orang lagi. Ia ingin Etos tak hanya berkumandang di kalangan pekerja kerah putih di perusahaan multinasional dan korporasi besar. Ia ingin Etos juga menyentuh guru-guru di pelosok terjauh negeri ini. Di instutusi-institusi agama yang menggambarkan tugasnya sebagai ‘pelayanan.’ Di kalangan birokrasi. Para perawat. Pilot. Supir dan bahkan anak-anak sekolah agar sejak dini mereka diberi pemahaman yang sejati tentang penting dan berartinya bekerja.&lt;/span&gt;  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di batu nisan saya kelak, tak terlalu panjang-panjang penjelasan yang saya harapkan. Cukup: Di sini beristirahat, Jansen Sinamo, Guru Etos Indonesia,” kata dia tanpa ada nada canda. Pengalamannya semasa sakit dan dalam kata-katanya sendiri –sempat berhadap-hadapan dengan pintu kematian—menyebabkan Jansen banyak juga bicara tentang  berbagai kemungkinan ‘hidup’ sesudah hidup.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;()()()&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SQmdNbm2wcI/AAAAAAAAAXM/SBP1I777w1g/s1600-h/PanenKopi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SQmdNbm2wcI/AAAAAAAAAXM/SBP1I777w1g/s200/PanenKopi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5262910493633724866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ibunya dulu adalah putri Kepala Negeri Kerajaan di kawasan Pakpak Barat, Sumatera Utara.Tapi sebagai perempuan, sang Ibu tak bisa baca tulis sampai akhir hayatnya. Ayahnya memulai karier sebagai pesuruh di kantor Kecamatan dan karena itu seusai jam kerja, bertani adalah pekerjaan kedua bagi seluruh keluarga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kisah hidup Jansen Sinamo, sulung dari delapan bersaudara, sesungguhnya adalah ‘cerita biasa’ tentang bagaimana orang Batak merangkak dari bawah menuju tangga cita-cita. Tetapi cerita biasa semacam ini tak pernah basi terutama karena &lt;i&gt;details &lt;/i&gt;tiap cerita lah yang jadi kunci. Inul Daratista harus berkeliling kampung sebelum ia jadi Diva. Ayah Olga Syahputra harus menjual kulkas untuk biaya audisi perdana sebelum pria keperempuan-perempuanan itu kini mencapai sukses sebagai bintang televisi. Dan, Jansen Sinamo?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dilahirkan di Sidikalang, 2 Juli 1958, sejak kecil ia selalu juara di sekolah. Karena bacaan kurang, Alkitab jadi sasarannya sepulang sekolah dan sehabis membantu ayah-ibu-nya bekerja di ladang. Sejak kelas IV, ia sudah jadi ‘kamus berjalan’ bagi guru Agama, manakala sang guru lupa tentang tokoh atau jalan cerita Alkitab yang sedang diajarkannya. Ia jadi ‘asisten’ hampir semua guru-gurunya di SD: mengambil kapur, menghapus papan tulis, mengunci kelas dan banyak lagi. Suatu kali diselenggarakan pementasan kisah Sisingamangaraja yang ditonton orang se-Sidikalang. Dan Jansen Sinamo lah jadi pemeran utamanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tapi itu hanya setengah dari kisah panjang hidupnya. Di pertengahan 1970-an, seorang kerabat  mengundang ayahnya untuk sebuah acara syukuran. Makan-makan, tentu. Yang dirayakan adalah telah tamat dan pulangnya putra sang kerabat dari studi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ayah Jansen turut berbagi kebahagiaan, tetapi juga merasa tertantang. Bisakah dirinya juga seperti kerabat itu, menyekolahkan dan memberangkatkan anaknya ke ITB, sekolah yang menghasilkan insinyur beken (dan membelokkan Soekarno jadi presiden,..hehehe).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di sela-sela makan-makan itu, Ayah Jansen berbincang dengan sang insinyur baru. Tanya ini dan itu. Apa kira-kira syaratnya untuk bisa kuliah di ITB. Bagaimana sekolah di sana. Kalau sudah lulus jadi apa, dan seterusnya. Pendek cerita, sang insinyur baru itu menjawab pertanyaan selengkap mungkin sementara ayah Jansen tak kalah taktik, ia juga mempromosikan kapasitas anaknya yang sudah tak asing lagi di seantero kampung.  Rupanya insinyur baru itu lama-lama penasaran dan ingin bertemu Jansen. “Coba, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tulang&lt;/span&gt; suruh lah ke sini dia. Aku mau bicara dengan dia.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jansen datang dan berbincang dengan sang insinyur. Perbincangan itu begitu asyik dan nyambung. Hingga akhirnya ayah Jansen mendapat kabar gembira. Kata sang insinyur muda kepada ayah Jansen, dari melihat jidat besar Jansen saja, ia sudah yakin bakal  diterima di ITB. Jadi tak usah ragu lagi. Kirimkan saja dia ke Bandung. Soal bagaimana ia tinggal di kota kembang itu, jangan khawatir. Si insinyur muda itu bersama adik-adiknya yang lain telah mengontrak sebuah rumah. Jansen bisa numpang bersama mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jansen Sinamo meninggalkan kampung halamannya ketika ia baru dua tahun di SMA. Kelas tiga SMA dia jalani di sebuah sekolah swasta di Bandung. Hasratnya untuk diterima di ITB demikian tinggi. Yang ia pertaruhkan sedemikian besar. Bukan saja reputasinya sebagai anak pintar yang selalu juara sejak kecil. Ia juga merupakan pria bermarga Sinamo pertama yang menyeberang ke pulau Jawa. Nasihat demi nasihat yang dijejalkan kepadanya pada berbagai acara makan-makan dalam rangka keberangkatannya, turut menjadi mesiu bagi perjuangannya. Nasihat-nasihat itu agaknya tak pernah lupa bahkan makin bertambah-tambah, tercermin dari bagaimana ia kini tiap kali berbicara. Satu dua kata-kata mutiara dari Pakpak dan Batak Toba selalu berhasil dia selipkan, disela-sela perbincangan tentang  &lt;i&gt;The Seven Habits of Highly Effectively People-nya &lt;/i&gt;Covey, &lt;i&gt;How to Win and Influence People&lt;/i&gt;-nya Carnegie, &lt;i&gt;  Contact with God-nya &lt;/i&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;De Mello&lt;/span&gt;&lt;i&gt;, &lt;/i&gt;bahkan ketika mendiskusikan &lt;i&gt;The Lucifer Principle-nya &lt;/i&gt;Howard Bloom.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sudah dapat ditebak jika cita-citanya masuk ITB itu terkabul. Ia mengambil jurusan Fisika, ilmu 'sulit' tapi dahsyat terutama bagi anak-anak dan remaja yang mengidolakan Einstein. Seakan mengulang cerita biasa yang kerap terjadi pada orang-orang luar biasa, belokan-belokan perjalanan hidup juga terjadi pada Jasen Sinamo. Soekarno jadi presiden kendati formalnya di ITB ia diajar membangun jembatan dan bendungan. Ciputra jadi pengusaha padahal di ITB ia menekuni arsitektur. Dan, Jansen Sinamo, hanya sebentar saja menggeluti dunia teknik, sebagai &lt;i&gt;seismic engineer&lt;/i&gt; di sebuah perusahaan swasta, sesudah menamatkan studi Fisika-nya. Panggilan jiwanya bukan ke sana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tahun 1984 ia mengikuti Dale Carnegie Training atas beasiswa Soen Siregar, pemegang lisensi institusi itu untuk Indonesia. Seakan sebuah kotak pandora yang terbuka, akumulasi kapasitas dirinya  tergali dan terbangkitkan dengan intens ketika ia menemukan dahsyatnya daya tarik  dan pengaruh pada seseorang yang berperan sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;trainer&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;public speaker&lt;/span&gt;. Seperti kebiasaannya, ia mengikuti training itu dengan disiplin. Datang paling pagi. Dan ia ditawari menjadi asisten. Kelak, di sini lah namanya mencorong. Kariernya sebagai instruktur meroket sampai terakhir menduduki posisi direktur di Dale Carnegie Training Indonesia. Jika dewasa ini 'motivasi sukses' sudah menjadi suatu industri yang besar, Jansen Sinamo tergolong sebagai generasi pertama yang ikut membuka jalan, setelah sang Pemula, Soen Siregar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Orang tua kerap salah bila bicara dengan logika, tetapi benar bila mengikuti intuisinya. Ketika Jansen masih kecil, Ayah-ibu-nya sudah pernah menduga-duga, kelak anaknya itu akan jadi pendeta atau pekerjaan lain yang berhubungan dengan ajar-mengajar dan nasihat-menasihati. Intuisi itu mungkin tak sepenuhnya didasarkan pada &lt;i&gt;feeling&lt;/i&gt;, tetapi juga pada pengamatan secara sadar. Bahwa sejak kecil Jansen sudah getol membaca, rajin mendengar para &lt;i&gt;Raja Parhata&lt;/i&gt; bersilat lidah, tekun menyimak nasihat yang disampaikan ayah-ibunya kepadanya sebagai anak sulung dan rajin menceritakan ulang dongeng-dongeng bijak dari perbedaharaan tradisi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Akumulasi kearifan yang ditimbanya dari masa kecil itu, seakan menemukan pelampiasaannya ketika di masa-masa kuliah ia menjadi asisten dosen mata kuliah etika (dan diteruskan di kemudian hari menjadi dosen menggantikan dosen yang diasisteninya selama beberapa tahun). Tak hanya buku Fisika yang ia lahap. Buku sosiologi, filsafat, manajemen, kepemimpinan ikut mengisi ruang-ruang di dalam batok kepalanya dengan ciri khas –maaf-- jidat yang besar itu. Ketika ia mendapat honor dari mengawas ujian Sipenmaru di tahun ketiga kuliahnya, yang pertama kali dia beli adalah satu paket buku tafsiran Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berbahasa Inggris. Harganya kala itu mencapai Rp600 ribu-an; bahkan orang yang sudah punya gaji tetap pun mungkin kala itu akan berpikir seribu kali untuk mengeluarkan uang sebesar itu untuk buku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sejak 10 tahun lalu, Jansen memasuki tahap baru. Ia mulai proyek besarnya untuk membangun sebuah teori sukses yang menyeluruh, yang menjelma dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Delapan Etos Kerja Profesional&lt;/span&gt; itu. Ia 'pergi' ke mana saja untuk mencari bahan dan 'adonan' bagi proyek besarnya itu. Ia pelajari dogeng-dongeng dari masa kecilnya. Ia pelajari juga dongeng-dongeng dari khasanah berbagai budaya. Komik tak ketinggalan. Ya, komik adalah penting sebagai tempat belajar teori sukses. Kitab suci? Pasti. Dan buku-buku. Baik buku-buku motivasional mau pun buku biografi orang-orang sukses.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lebih dari 2000 buku ia baca dan jadikan dasar bagi proyek besarnya itu, disamping diskusi dengan rekan dan 'murid-muridnya.' Dan pada akhirnya, intuisi ayah-ibu-nya yang memproyeksikan kelak Jansen bakal jadi pendeta, ternyata tak terlalu meleset. Di usianya 50 tahun saat ini, &lt;i&gt;googling&lt;/i&gt; saja di internet. Etos seakan-akan identik dengan dia, si Guru Etos. Ribuan orang telah menghadiri pelatihan yang ia selenggarakan. Bank, perusahaan telekomunikasi, penghasil barang-barang elektronik, produsen ban, pabrik obat, dan banyak perusahaan besar lainnya, telah mengundangnya mengajarkan Etos, sama halnya dengan gereja, yayasan dan sekolah yang mulai merasakan perlunya sentuhan 'Etos'nya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Berbagai julukan sebagai tanda respek disematkan padanya. Ia disebut Mr. Etos. Presiden&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; Direktur Indomobil Group, Gunadi Sindhuwinata menyebut Jansen sebagai Pakar Etos. Anugerah Pekerti menyebutnya, 'seorang muda bersemangat yang berani mengembarakan angan-angan dan pikirannya menjagat untuk memahami apa yang membuat orang berkarya, maju dan berhasil.'  CEO Smart FM, Andi Odang menghormatinya sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the one and only &lt;/span&gt;Guru Etos di Indonesia. Memang tak berlebihan. Sebab menurut Rhenald Khasali, “Ketika para ahli berbicara tentang motivasi, habit, atau hal-hal spiritual, Jansen Sinamo mengajak kita pada akar yang menggerakkan semua perilaku manusia dalam berkarya yang disebut Etos...”.&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;()()()&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SQmdr5AXMnI/AAAAAAAAAXU/2UcqBJPKlWs/s1600-h/RimbunKopi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SQmdr5AXMnI/AAAAAAAAAXU/2UcqBJPKlWs/s200/RimbunKopi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5262911016921412210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dari mata air di kali &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aek Simatahuting&lt;/span&gt; di Sarimatondang, curahan air bening mengalir melalui beberapa pancuran besi yang besar-besar. Di masa kecil dulu, ke sana lah kami setiap pagi dan sore mandi serta mencuci pakaian. Setelah melepas busana, seluruh tubuh kami biarkan 'dihantam' oleh curahan air pancuran itu, yang pada tahap awal akan membuat  badan bergetar kedinginan, namun sesudahnya terasa segar dan bersih. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Tetapi ada jenis pancuran lain. Ia berada di sebuah sudut, yang deru dan aliran&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;airnya tidak begitu besar, namun entah sejak kapan, ia telah begitu setia mengalirkan kejernihan melalui sebuah pancuran yang kecil. Setelah mandi, ke sini lah kami pergi dan menadahkan ember atau jeriken yang akan kami bawa pulang untuk jadi persediaan air minum di rumah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tiap kali berbincang dengan orang-orang seperti Jansen Sinamo, tokoh-tokoh yang setia menggeluti bidang-bidang yang kerap kita sebut sebagai  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;softskill&lt;/span&gt; itu, tak bisa tidak, saya selalu membayangkan pancuran tempat kami menampung air untuk dibawa pulang. Tidak terhitung lagi berapa banyak rumah dan penduduk yang dahaganya dipuaskan oleh pancuran itu. Dan ia tetap setia, di sudutnya yang tak terlalu terlihat. Tetapi orang-orang yang tahu akan pentingnya air jernih, pasti tahu jalan ke arah sumber itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Welcome back&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;, &lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Pak Jansen.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;We are waiting for the next big thing&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;--selesai--&lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ciputat, 27 Oktober 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Note&lt;/span&gt;: Beberapa waktu lalu, Abed Juli Simbolon, kawan sekampung dari Sarimatondang memberi saran agar saya menuliskan tips sukses merantau. Sejujurnya permintaan itu terlalu berat. Tapi mudah-mudahan cerita tentang Jansen Sinamo ini dapat menjadi inspirasi. Saya sendiri sangat yakin, merantau itu seperti belajar naik sepeda. Harus dicoba dulu baru bisa! :-)&lt;/span&gt; &lt;p&gt;    &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sumber foto Jansen Sinamo: http://institutmahardika.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sumber foto kopi sidikalang: &lt;a href="http://kopi-sidikalang.blogspot.com/"&gt;http://kopi-sidikalang.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;p&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-7485601905051117589?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/7485601905051117589/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=7485601905051117589' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/7485601905051117589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/7485601905051117589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2008/10/cerita-biasa-di-lepau-oh-la-la.html' title='Cerita Biasa di Lepau Oh La La'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SQmcr1IYFvI/AAAAAAAAAXE/0rPItCnAEKc/s72-c/jansensinamo-01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-5796717312243001344</id><published>2007-01-14T03:31:00.000-08:00</published><updated>2008-11-14T03:32:49.401-08:00</updated><title type='text'>KEJUTAN DARI TUHAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SR1hys6UhvI/AAAAAAAAAhs/dnln_lYor8g/s1600-h/kolom.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SR1hys6UhvI/AAAAAAAAAhs/dnln_lYor8g/s200/kolom.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268474662770476786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Oleh JANSEN H. SINAMO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Zakheus terkejut. Namanya disebut. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-GB"&gt;Ia dipanggil oleh selebriti yang sedang naik daun: Yesus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Zakheus sebenarnya berusaha sembunyi dari pandangan Yesus dengan menyelipkan dirinya di rerimbunan daun sebatang pohon ara besar yang meneduhi jalan berbatu kota Yerikho. Ia bertengger di sana. Ia penasaran betul ingin melihat Yesus. Konon Yesus itu nabi yang hebat. Malah ada yang bilang, ia Mesias, tokoh besar yang sudah dinanti-nanti ratusan tahun merestorasi kerajaan Daud seraya mengusir penjajah Romawi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Tanpa diduganya sebuah wajah mendongak dengan telak, sepasang mata bening memandang lurus ke matanya. Ia tak bisa menghindar. Dan sebuah sapaan pemilik wajah lembut bermata teduh itu tertuju kepadanya, "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." Wajah Yesus sendiri, suara Yesus sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Sukacitanya melampaui rasa herannya maupun keterkejutannya. Soal dari mana gerangan Yesus tahu namanya, tidak lagi dipedulikannya. Tanpa berpikir panjang, ia melompat turun menyambut sapaan Yesus yang begitu bersahabat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Ini sungguh kejutaan besar. Tadinya ia cuma ingin sekadar melihat Yesus, orang seperti apakah selebriti spiritual yang lagi ngetop akhir-akhir ini di seantero Galilea dan Yudea. Konon, ia juga populer di Samaria. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Berita kedahsyatan Yesus sudah didengarnya dari banyak orang: memberi makan lima ribu orang, menenteramkan tasik berbadai, menengking dan mengusir setan, menyembuhkan banyak orang sakit, bahkan membangkitkan orang mati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="PT-BR"&gt;Yesus itu pengkotbah hebat juga sudah diketahuinya. Kata orang yang sudah mendengar, kotbahnya penuh wibawa, seperti mencengkeram hati dan menyihir pikiran. Memukau pokoknya. Mencengangkan. Ajaran-ajarannya baru tetapi tidak asing sama sekali. Bahasanya segar, kreatif, dan cerdas. Kotbah Yesus menguatkan iman, menghiburkan hati, dan membuka ruang harapan serta mengobarkan semangat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="PT-BR"&gt;Namun demikian, kata orang, Yesus itu sangat bersahaja, tanpa pretensi, &lt;i style=""&gt;genuine &lt;/i&gt;dan rendah hati. Ia mau makan dan bersahabat dengan orang biasa, bahkan dengan orang-orang rendah yang dicap masyarakat sebagai pendosa: pelacur, pemungut cukai, dan antek-antek Romawi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="PT-BR"&gt;Saat mendengar kabar Yesus akan melewati kotanya, hal itu memantikkan secercah harapan di hati Zakheus. Mungkinkah saat di Yerikho ini Yesus mau juga kuundang makan dan ngobrol di rumahku: si brengsek, si pendosa, dan si penghianat bangsa ini? Sudah lelah ia memanggul cap keji itu. Sudah jemu ia memikul rasa sakit karena disingkiri bangsa sendiri, keluarga sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="PT-BR"&gt;Belum tuntas dia memikirkan hal itu, Zakheus kaget oleh sapaan Yesus. Kejutan Tuhan itu serta merta meledakkan sukacita tak terpemanai di jiwanya dan merambatkan kegembiraan ke seluruh tubuhnya. Ingin rasanya ia memeluk Yesus. Zakheus lalu merentangkan tangannya, dan sambil menekuk lutut dalam-dalam ia merebut kedua tangan Yesus ke dadanya, dan menggenggamnya dengan takzim penuh afeksi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="PT-BR"&gt;Tetapi segera didengarnya suara-suara penuh dengki dari kerumunan orang yang sedari tadi mengikuti langkah-langkah Yesus, &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;"Ia menumpang di rumah orang berdosa."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Semua tercekat. Dan suasana hening itu terasa betul sebagai diam yang membahana: mempertanyakan keramahan Yesus dan menggugat kelayakan Zakheus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Tetapi hati yang telah dijamah Tuhan itu segera memecahkan keheningan yang mencekam itu dengan suara eksplisit yang jauh lebih membahana. "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Tak menyangka, massa semakin diam. Ketegangan serasa menghimpit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Dan kali ini Yesus yang mencairkan suasana: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Buat kita semua: Yesus masih tetap seperti yang dulu. Mari kita datang seperti Zakheus: penuh harap, ingin bergaul lebih jauh, dan bersikap otentik. Semoga anda pun mendapat kejutan dari Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-5796717312243001344?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/5796717312243001344/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=5796717312243001344' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/5796717312243001344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/5796717312243001344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2007/01/kejutan-dari-tuhan.html' title='KEJUTAN DARI TUHAN'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SR1hys6UhvI/AAAAAAAAAhs/dnln_lYor8g/s72-c/kolom.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-6169358598871310383</id><published>2007-01-14T03:28:00.000-08:00</published><updated>2008-11-14T03:31:13.433-08:00</updated><title type='text'>GOD LOVES STORY</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SR1hZ-LNNYI/AAAAAAAAAhk/hlrHwdqeIl0/s1600-h/kolom.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SR1hZ-LNNYI/AAAAAAAAAhk/hlrHwdqeIl0/s200/kolom.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268474237907973506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Oleh &lt;st1:data language="0" startpos="6" context="Oleh Jansen ?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" st="on"&gt;Jansen&lt;/st1:data&gt; H. Sinamo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Lalu Yusuf memasang keretanya dan pergi ke Gosyen, mendapatkan Israel, ayahnya. Ketika ia bertemu dengan dia, dipeluknyalah leher ayahnya dan lama menangis pada bahunya. Berkatalah Israel kepada Yusuf: "Sekarang bolehlah aku mati, setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pada saat guru sekolah minggu saya dahulu mendemonstrasikan klimaks cerita di atas yang dipetik dari Kej 46, tanpa kecuali kami semua menangis, terharu dalam luapan sukacita. Saat itu saya kelas tiga SD. Guru kami itu memang jago cerita. Ia tidak sekedar menuturkan kisah-kisah Alkitab, tetapi mendramakannya dengan sangat hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Sejak bisa membaca, saya sangat menggemari Alkitab, bukan karena sangat rohani, tetapi karena saya gemar sekali akan cerita-ceritanya. Maklum, di zaman baru mulainya penumpasan PKI itu dulu, bacaan sangat kurang dimana-mana. Di rumah kami, Alkitab tidak punya saingan sama sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Begitulah, setamat SMP, semua cerita Alkitab mulai dari kisah Adam-Hawa di Perjanjian Lama sampai kisah murid-murid Yesus yang mendadak jadi pemberani pada saat turunnya Roh Kudus di Perjanjian Baru, boleh dibilang sudah saya kuasai. Kisah-kisah itu sampai sekarang, 40 tahun kemudian, tetap sangat hidup di benak saya bagaikan VCD yang bisa saya putar kapan saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Barulah ketika dewasa kelak, saya baru sadar bahwa Alkitab hampir semuanya terdiri dari cerita, tepatnya rangkaian cerita yang sambung-menyambung. Juga, berbeda dari cerita-cerita sekuler, cerita-cerita kitab suci selalu menghadirkan Tuhan sebagai protagonis utama. Bahkan, Tuhan sering tampil sebagai sutradara. Secara implisit saya tahu jelas Tuhan senang dengan cerita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Namun demikian, ketika Marc Gafni dalam &lt;i style=""&gt;Soul Prints &lt;/i&gt;mendakwahkan dengan gamblang: God loves story, tak urung saya kaget juga. Kata Gafni, sama seperti jari punya sidik, jiwa juga punya sidik yang singular. Hanya saya yang punya sidik jari seperti yang saya punya di antara enam milyar penduduk Bumi. Hanya anda yang punya sidik jari seperti yang anda punya di antara enam milyar manusia di planet ini. Analog dengan sidik jari: sidik jiwa kita juga sangat unik, pertikular, dan singular. Tidak ada duanya di alam semesta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Apa yang dimaksud Gafni dengan sidik jiwa? Tidak lain adalah kisah hidup. Tuhan tidak membuat tubuh dan rupa kita sama dan sebangun. Kisah hidup kita pun tidak ada yang persis sama. Ini mudah difahami. Andai kelak kita semua menulis biografi kita maka dapat dipastikan tidak akan ada dua buku biografi yang sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Memahami bahwa kita adalah sebuah cerita berarti hidup kita yang sekarang adalah story in the making, kisah yang sedang dibuat. Anda dan saya belum selesai ceritanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Cerita yang bagus ada plotnya, ada konfliknya, ada tikungan-tikungannya, dan ada karakter-karakternya baik yang protagonis maupun antagonis. Juga tentu, ada iramanya, kadang lambat kadang penuh gesa dan akselerasi. Dan sudah pasti: mesti ada pesan yang bagus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Hidup Yakub begitu rumit, berkelok-kelok, dan bertikungan sangat tajam, tapi justru karena itulah kisah hidupnya jadi sangat menarik. Dramatis. Demikian juga kisah Yusuf, Musa, atau Daud.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Maukah kisah hidup anda menarik, dramatis, dan penuh warna? Dan ketika hidup anda kelak dibukukan banyak orang yang antri membeli biografi anda itu serta menimba hikmah dan inspirasi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Jika ya, hiduplah dengan otentik. Itu berarti bergulat dan bergumul dengan Tuhan sama seperti Abrahan, Yakub, Yusuf, Musa, Daud serta puluhan pahlawan-pahlawan kehidupan seperti yang dituturkan dalam kitab suci. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-6169358598871310383?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/6169358598871310383/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=6169358598871310383' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/6169358598871310383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/6169358598871310383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2007/01/god-loves-story.html' title='GOD LOVES STORY'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SR1hZ-LNNYI/AAAAAAAAAhk/hlrHwdqeIl0/s72-c/kolom.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-7676216980392916407</id><published>2007-01-14T03:26:00.000-08:00</published><updated>2008-11-14T03:28:27.268-08:00</updated><title type='text'>WAWANCARA DENGAN TUHAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SR1gqgHaSnI/AAAAAAAAAhc/ey-fKreukjs/s1600-h/kolom.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SR1gqgHaSnI/AAAAAAAAAhc/ey-fKreukjs/s200/kolom.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268473422385138290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IT"&gt;Oleh &lt;st1:data language="0" startpos="6" context="Oleh Jansen ?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" st="on"&gt;Jansen&lt;/st1:data&gt; H. Sinamo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"   lang="IN"&gt;Tiba-tiba, Tuhan begitu saja muncul di serambi sorga dimana seorang wartawan majalah top Kristen sudah menunggu-Nya untuk sebuah wawancara khusus. Tuhan langsung menyapa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 14.15pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 107.9pt; text-align: justify; text-indent: -93.75pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;                                TUHAN:&lt;span style=""&gt;                            &lt;/span&gt;Selamat pagi wartawan muda, benarkah kau ingin mewawancarai Aku?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.15pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.15pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;WARTAWAN:&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Ya, sekiranya Tuhan punya waktu sedikit. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.15pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 107.9pt; text-align: justify; text-indent: -93.75pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;TUHAN:&lt;span style=""&gt;                            &lt;/span&gt;O, waktu-Ku adalah kekekalan. &lt;span style=""&gt;Tak masalah itu! &lt;/span&gt;Apa pertanyaanmu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.15pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 107.9pt; text-align: justify; text-indent: -93.75pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;WARTAWAN:&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Terima kasih. Apa yang paling mengherankan bagi Tuhan tentang kami manusia?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.15pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 107.9pt; text-align: justify; text-indent: -93.75pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;TUHAN:&lt;span style=""&gt;                            &lt;/span&gt;Menurut-Ku, kalian itu makhluk yang aneh. Pertama, suka mencemaskan masa depan sampai lupa hari ini. Kedua, kalian hidup seolah-olah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak bakal mati dan mati seolah-olah tidak pernah hidup. Ketiga, kalian cepat bosan sebagai anak-anak dan terburu-buru ingin dewasa. Namun sesudah dewasa rindu lagi jadi anak-anak: suka bertengkar, ngambek, ngeyel, dan ribut karena soal-soal sepele. Keempat, kalian rela kehilangan kesehatan demi mengejar uang, tetapi membuangnya kembali untuk mengembalikan kesehatan itu. Hal-hal begitulah yang membuat hidup kalian susah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.15pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 107.9pt; text-align: justify; text-indent: -93.75pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;WARTAWAN:&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Lantas apa nasihat Tuhan agar kami hidup bahagia?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.15pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 107.9pt; text-align: justify; text-indent: -93.75pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;TUHAN:&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Lho? Semua nasihat ‘kan sudah pernah Kuberikan. Ini satu lagi keanehan kalian: suka melupakan nasihat-Ku. Tetapi karena majalahmu dibaca semua orang sedangkan hadirat-Ku makin sepi saja, baiklah Kuulangi beberapa yang terpenting. &lt;span style=""&gt;(1) K&lt;/span&gt;alian harus sadar bahwa mengejar rezeki adalah sebuah kesalahan. Yang seharusnya kalian lakukan ialah menata diri agar kalian layak dikucuri rezeki. Jadi jangan mengejar rezeki, tetapi biarlah rezeki yang mengejar kalian. &lt;span style=""&gt;(2) S&lt;/span&gt;iapa yang kalian miliki lebih berharga daripada apa yang kalian punyai. Jadi perbanyaklah teman, kurangi musuh. Ingat, seribu kawan masih kurang, satu lawan terlalu banyak. &lt;span style=""&gt;(3) M&lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;"&gt;embandingkan rezeki sendiri dengan rezeki orang&lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -1.75pt;"&gt; &lt;/span&gt;lain adalah sebuah kebodohan. Kalian seharusnya mensyukuri apa yang sudah kalian terima. Khususnya, kenalilah talenta dan potensi yang kalian miliki lalu kembangkanlah itu sebaik-baiknya, maka kalian akan menjadi manusia unggul. Pada kondisi ini juga lah rezeki akan selalu mengikuti kalian. &lt;span style=""&gt;(4) O&lt;/span&gt;rang terkaya di antara kalian bukanlah dia yang mengumpulkan paling banyak, tetapi dia yang paling&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memerlukan sedikit sehingga masih sanggup memberi bagi sesamanya. (5) Orang terbesar di antara kalian ialah dia yang menolong orang lain menjadi besar, bukan yang membesarkan dirinya dengan mengejar berbagai gelar dan jabatan. Yang terakhir ini mendatangkan sinisme sedangkan yang pertama mendatangkan afeksi. Jadi, kalian harus mendalami lagi makna pelayanan. &lt;span style=""&gt;(6) D&lt;/span&gt;ua orang bisa melihat dan mengalami hal yang sama tetapi menghayatinya secara berbeda, jadi belajarlah memahami pikiran dan perasaan orang lain. Secara khusus, jangan pernah memutlakkan pendapat kalian sendiri. Bertanya, mendengar, dan berdialog lebih baik daripada beropini, berteori, dan saling membantah. &lt;span style=""&gt;(7) B&lt;/span&gt;ila kalian berbuat salah, tidak cukup hanya mendapat ampunan dari-Ku, tetapi kalian juga harus belajar mengampuni diri sendiri. Itu saja. Bila kalian mengamalkan tujuh nasihat ini niscaya kalian baik-baik saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.15pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 107.9pt; text-align: justify; text-indent: -93.75pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;WARTAWAN:&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Dahulu lewat Nabi Musa Tuhan memberikan Sepuluh Nasihat, tidakkah Tuhan menambah dua lagi agar sempurna?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 107.9pt; text-align: justify; text-indent: -93.75pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;TUHAN:&lt;span style=""&gt;                            &lt;/span&gt;Memang sepuluh itu angka sempurna, tetapi tujuh juga sempurna. Jadi, itu sudah lengkap. Tapi karena kau wartawan pemberani Ku-beri bonus satu: Ingatlah, dalam semua kesusahan kalian, Aku selalu siap membantu. Jadi, jangan kalian sia-siakan keahlian-Ku. Dan Aku pun masih seperti yang dulu: Maha Pengasih lagi Maha Penyayang! Segitu aja. Semoga kalian sukses dan selalu bahagia!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 107.9pt; text-align: justify; text-indent: -93.75pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 107.9pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Diadaptasi dari epilog buku Mengubah Pasir Menjadi Mutiara oleh Jansen H. Sinamo (Edisi 3, Penerbit Mahardika, Jakarta, 2007).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:9;"  lang="IT" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-7676216980392916407?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/7676216980392916407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=7676216980392916407' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/7676216980392916407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/7676216980392916407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2007/01/wawancara-dengan-tuhan.html' title='WAWANCARA DENGAN TUHAN'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SR1gqgHaSnI/AAAAAAAAAhc/ey-fKreukjs/s72-c/kolom.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-834459331986957910</id><published>2007-01-14T03:23:00.000-08:00</published><updated>2008-11-14T03:25:53.688-08:00</updated><title type='text'>SEPI DI LUAR MERIAH DI DALAM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SR1gGZF2pCI/AAAAAAAAAhU/09jUMYIAf2Q/s1600-h/kolom.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SR1gGZF2pCI/AAAAAAAAAhU/09jUMYIAf2Q/s200/kolom.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268472802024268834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Jansen H. Sinamo&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pernahkah Anda merasa sepi &lt;st1:data context="Pernahkah Anda merasa sepi di ??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="28" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; tengah banyak &lt;st1:data context="Pernahkah Anda merasa sepi di tengah banyak orang? ????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="45" language="0" st="on"&gt;orang&lt;/st1:data&gt;? Saya pernah. &lt;st1:data context="Pernahkah Anda merasa sepi di tengah banyak orang? Saya pernah. Di ????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="65" language="0" st="on"&gt;Di&lt;/st1:data&gt; &lt;st1:data context="Pernahkah Anda merasa sepi di tengah banyak orang? Saya pernah. Di bus ????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="68" language="0" st="on"&gt;bus&lt;/st1:data&gt; &lt;st1:data context="Pernahkah Anda merasa sepi di tengah banyak orang? Saya pernah. Di bus kota. ??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????? " startpos="72" language="0" st="on"&gt;kota.&lt;/st1:data&gt; Dengan wajah-wajah statis &lt;st1:data context="Pernahkah Anda merasa sepi di tengah banyak orang? Saya pernah. Di bus kota. Dengan wajah-wajah yang statis dan mata-mata yang beku semua berhening dalam pikiran sendiri-sendiri. Tak ada kontak dan cakap dengan orang-orang yang tubuhnya berimpitan sangat rapat. Ini namanya sepi di luar sepi di dalam." startpos="109" language="0" st="on"&gt;dan&lt;/st1:data&gt; mata-mata beku semua berhening dalam pikiran sendiri. Tak &lt;st1:data context="Pernahkah Anda merasa sepi di tengah banyak orang? Saya pernah. Di bus kota. Wajah-wajah yang statis dan mata beku, semua sibuk dengan pikiran masing-masing, tak ada ?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????? " startpos="163" language="0" st="on"&gt;ada&lt;/st1:data&gt; interaksi sesama orang-orang &lt;st1:data context="Pernahkah Anda merasa sepi di tengah banyak orang? Saya pernah. Di bus kota. Wajah-wajah yang statis dan mata beku, semua sibuk dengan pikiran masing-masing, tak ada interaksi dengan orang yang ?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????? " startpos="190" language="0" st="on"&gt;yang&lt;/st1:data&gt; tubuhnya berimpitan sangat rapat. Ini namanya sepi &lt;st1:data context="Pernahkah Anda merasa sepi di tengah banyak orang? Saya pernah. Di bus kota. Dengan wajah-wajah yang statis dan mata beku semua hening dengan pikiran sendiri-sendiri. Tak ada kontak dengan orang-orang yang tubuhnya berimpitan sangat rapat. Ini namanya sepi di ???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="258" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; luar sepi &lt;st1:data context="Pernahkah Anda merasa sepi di tengah banyak orang? Saya pernah. Di bus kota. Dengan wajah-wajah yang statis dan mata beku semua hening dengan pikiran sendiri-sendiri. Tak ada kontak dengan orang-orang yang tubuhnya berimpitan sangat rapat. Ini namanya sepi di luar sepi di ??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="271" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; dalam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saat &lt;st1:data context="Saat lain, ?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????." startpos="6" language="0" st="on"&gt;lain&lt;/st1:data&gt;, pada &lt;st1:data context="Saat lain, pada acara ??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????." startpos="17" language="0" st="on"&gt;acara&lt;/st1:data&gt; arisan keluarga, suasana sangat meriah. Semua saling sapa, saling tukar kabar, dan &lt;st1:data context="Saat lain, pada acara arisan keluarga, suasana sangat meriah. Semua saling menyapa, bertukar kabar, tawa ???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????gembira" startpos="101" language="0" st="on"&gt;tawa&lt;/st1:data&gt; gembira berkejaran bagaikan ombak susul menyusul. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Ini namanya meriah &lt;st1:data context="Saat lain, pada acara arisan keluarga misalnya, suasana sangat meriah. Semua saling menyapa, bertukar kabar, tawa gembira kejar-kejaran bagaikan ombak susul menyusul. Ini namanya meriah di ???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="187" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; luar meriah &lt;st1:data context="Saat lain, pada acara arisan keluarga misalnya, suasana sangat meriah. Semua saling menyapa, bertukar kabar, tawa gembira kejar-kejaran bagaikan ombak susul menyusul. Ini namanya meriah di luar meriah di ????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="202" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; dalam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Suasana ketiga: meriah &lt;st1:data context="Suasana ketiga: meriah di ??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????. " startpos="24" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; luar sepi &lt;st1:data context="Suasana ketiga: meriah di luar sepi di ?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????. " startpos="37" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; dalam. Contohnya pernah saya alami dalam sebuah pesawat Batam-Jakarta &lt;st1:data context="Suasana ketiga: meriah di luar sepi di dalam. Ini pernah saya alami dalam sebuah pesawat Batam-Jakarta yang hampir semua penumpangnya anak paskibraka. Saya keselip di antara mereka yang terus meriah sepanjang udara: canda, saling foto, tukar-menukar lawak dan ledek. Saya ingin nimbrung tapi kagak nyambung. Saya raih sebuah majalah lalu ketiduran hingga sampai." startpos="104" language="0" st="on"&gt;yang&lt;/st1:data&gt; hampir semua penumpangnya anak paskibraka. Saya terselip &lt;st1:data context="Suasana ketiga: meriah di luar sepi di dalam. Ini pernah saya alami dalam sebuah pesawat yang hampir semua penumpangnya anak paskibraka. Saya keselip di ????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="151" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; antara mereka &lt;st1:data context="Suasana ketiga: meriah di luar sepi di dalam. Ini pernah saya alami dalam sebuah pesawat yang hampir semua penumpangnya anak paskibraka. Saya keselip di antara mereka yang ?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="168" language="0" st="on"&gt;yang&lt;/st1:data&gt; terus meriah sepanjang udara: penuh canda, saling foto, berbagi lawak &lt;st1:data context="Suasana ketiga: meriah di luar sepi di dalam. Ini pernah saya alami dalam sebuah pesawat yang hampir semua penumpangnya anak paskibraka. Saya keselip di antara mereka yang terus meriah sepanjang jalan: canda, saling foto, tukar-menukar lawak dan ledekan" startpos="243" language="0" st="on"&gt;dan&lt;/st1:data&gt; saling ledek. Saya ingin nimbrung tapi nggak nyambung. Akhirnya saya raih sebuah majalah lalu tertidur hingga tiba &lt;st1:data context="Suasana ketiga: meriah di luar sepi di dalam. Ini pernah saya alami dalam sebuah pesawat Batam-Jakarta yang hampir semua penumpangnya anak paskibraka. Saya keselip di antara mereka yang terus meriah sepanjang udara: canda, saling foto, tukar lawak dan ledek. Saya ingin nimbrung tapi kagak nyambung. Akhirnya saya raih sebuah majalah lalu tidur hingga tiba di ????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????." startpos="358" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; &lt;st1:data context="Suasana ketiga: meriah di luar sepi di dalam. Ini pernah saya alami dalam sebuah pesawat Batam-Jakarta yang hampir semua penumpangnya anak paskibraka. Saya keselip di antara mereka yang terus meriah sepanjang udara: canda, saling foto, tukar lawak dan ledek. Saya ingin nimbrung tapi kagak nyambung. Akhirnya saya raih sebuah majalah lalu tidur hingga tiba di Jakarta." startpos="361" language="0" st="on"&gt;Jakarta.&lt;/st1:data&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Yang &lt;st1:data context="Namun yang paling ?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????jarang terjadi ialah sepi di luar meriah di dalam" startpos="12" language="0" st="on"&gt;paling&lt;/st1:data&gt; jarang terjadi ialah sepi &lt;st1:data context="Namun yang jarang terjadi ialah sepi di ???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="38" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; luar namun meriah &lt;st1:data context="Namun yang jarang terjadi ialah sepi di luar meriah di ????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="53" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; dalam. Saat menulis artikel ini, tiada bunyi apapun &lt;st1:data context="Namun yang paling jarang terjadi ialah kondisi sepi di luar namun meriah di dalam. Misalnya, saat menulis artikel ini, tiada bunyi-bunyian apapun di ???????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="147" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; luar saya. &lt;st1:data context="Namun yang paling jarang terjadi ialah kondisi sepi di luar namun meriah di dalam. Misalnya, saat menulis artikel ini, tiada bunyi-bunyian apapun di luar. Radio ??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="156" language="0" st="on"&gt;Radio&lt;/st1:data&gt; tidak, &lt;st1:data context="Namun yang paling jarang terjadi ialah kondisi sepi di luar namun meriah di dalam. Misalnya, saat menulis artikel ini, tiada bunyi-bunyian apapun di luar. Radio tidak, TV ????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="169" language="0" st="on"&gt;TV&lt;/st1:data&gt; tidak, &lt;st1:data context="Namun yang paling jarang terjadi ialah kondisi sepi di luar namun meriah di dalam. Misalnya, saat menulis artikel ini, tiada bunyi-bunyian apapun di luar. Radio tidak, TV tidak, orang ???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="179" language="0" st="on"&gt;orang&lt;/st1:data&gt; &lt;st1:data context="Namun yang paling jarang terjadi ialah kondisi sepi di luar namun meriah di dalam. Misalnya, saat menulis artikel ini, tiada bunyi-bunyian apapun di luar. Radio tidak, TV tidak, orang pun ???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="185" language="0" st="on"&gt;pun&lt;/st1:data&gt; tidak. Pokoknya sepi, sendiri, hening. Tapi &lt;st1:data context="Namun yang paling jarang terjadi ialah kondisi sepi di luar namun meriah di dalam. Misalnya, saat menulis artikel ini, tiada bunyi-bunyian apapun di luar. Radio tidak, TV tidak, orang pun tidak. Pokoknya sepi, sendiri, hening. Tapi di ??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????? " startpos="233" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; dalam, pikiran &lt;st1:data context="Namun yang paling jarang terjadi ialah kondisi sepi di luar namun meriah di dalam. Misalnya, saat menulis artikel ini, tiada bunyi-bunyian apapun di luar. Radio tidak, TV tidak, orang pun tidak. Pokoknya sepi, sendiri, hening. Tapi di dalam, pikiran saya ramai dan hati saya meriah dengan ide, gagasan, dan kata-kata. Dan artikel ini pun jadi lah." startpos="262" language="0" st="on"&gt;dan&lt;/st1:data&gt; hati saya meriah dengan &lt;st1:data context="Namun yang paling jarang terjadi ialah kondisi sepi di luar namun meriah di dalam. Misalnya, saat menulis artikel ini, tiada bunyi-bunyian apapun di luar. Radio tidak, TV tidak, orang pun tidak. Pokoknya sepi, sendiri, hening. Tapi di dalam, pikiran saya ramai, hati saya meriah. Dengan ide, ???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????? " startpos="288" language="0" st="on"&gt;ide&lt;/st1:data&gt;, gagasan, &lt;st1:data context="Namun yang paling jarang terjadi ialah kondisi sepi di luar namun meriah di dalam. Misalnya, saat menulis artikel ini, tiada bunyi-bunyian apapun di luar. Radio tidak, TV tidak, orang pun tidak. Pokoknya sepi, sendiri, hening. Tapi di dalam, pikiran saya ramai, hati saya meriah. Dengan ide, gagasan, dan ??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????? " startpos="302" language="0" st="on"&gt;dan&lt;/st1:data&gt; kata-kata. &lt;st1:data context="Namun yang paling jarang terjadi ialah kondisi sepi di luar namun meriah di dalam. Misalnya, saat menulis artikel ini, tiada bunyi-bunyian apapun di luar. Radio tidak, TV tidak, orang pun tidak. Pokoknya sepi, sendiri, hening. Tapi di dalam, pikiran saya ramai, hati saya meriah. Dengan ide, gagasan, dan kata-kata. Dan ??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????? " startpos="317" language="0" st="on"&gt;Dan&lt;/st1:data&gt; hatta, artikel ini &lt;st1:data context="Namun yang paling jarang terjadi ialah kondisi sepi di luar namun meriah di dalam. Misalnya, saat menulis artikel ini, tiada bunyi-bunyian apapun di luar. Radio tidak, TV tidak, orang pun tidak. Pokoknya sepi, sendiri, hening. Tapi di dalam, pikiran saya ramai, hati saya meriah dengan ide, gagasan, dan kata-kata. Dan artikel ini pun ????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="332" language="0" st="on"&gt;pun&lt;/st1:data&gt; jadi &lt;st1:data context="Namun yang paling jarang terjadi ialah kondisi sepi di luar namun meriah di dalam. Misalnya, saat menulis artikel ini, tiada bunyi apapun di luar. Radio tidak, TV tidak, orang pun tidak. Pokoknya sepi, sendiri, hening. Tapi di dalam, pikiran saya ramai dan hati saya meriah dengan ide, gagasan, dan kata-kata. Dan hatta, artikel ini pun jadi lah." startpos="343" language="0" st="on"&gt;lah.&lt;/st1:data&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;st1:data context="Yang ???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="1" language="0" st="on"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Yang&lt;/span&gt;&lt;/st1:data&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; mau saya bilang: Bila Anda ingin jadi manusia produktif, Anda tidak boleh merasa sepi &lt;st1:data context="Yang mau saya katakan: apabila Anda ingin produktif sebagai manusia pekerja, Anda tidak boleh merasa sepi di ???????????????????" startpos="107" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; dalam. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Sepi &lt;st1:data context="Yang mau saya bilang: apabila Anda ingin menjadi manusia produktif, Anda tidak boleh merasa sepi di dalam. Sepi itu ??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="113" language="0" st="on"&gt;itu&lt;/st1:data&gt; mencekam, bahkan menyiksa. Sepi &lt;st1:data context="Yang mau saya bilang: apabila Anda ingin menjadi manusia produktif, Anda tidak boleh merasa sepi di dalam. Sepi itu mencekam, bahkan menyiksa. Sepi itu ???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="149" language="0" st="on"&gt;itu&lt;/st1:data&gt; berbahaya, karena selain non-produktif, &lt;st1:data context="Yang mau saya bilang: Bila Anda ingin menjadi manusia produktif, Anda tidak boleh merasa sepi di dalam. Sepi itu mencekam, bahkan menyiksa. Sepi itu berbahaya, karena selain non-produktif, ia ?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????bisa mengundang negativitas. " startpos="190" language="0" st="on"&gt;ia&lt;/st1:data&gt; bisa mengundang negativitas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Penting diketahui: sepi &lt;st1:data context="Yang mau saya bilang: apabila Anda ingin menjadi manusia produktif, Anda tidak boleh merasa sepi di dalam. Sepi itu mencekam, bahkan menyiksa. Sepi itu berbahaya, non-produktif. Dan sepi itu ???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="188" language="0" st="on"&gt;itu&lt;/st1:data&gt; sesungguhnya adalah kondisi &lt;st1:data context="Yang mau saya bilang: apabila Anda ingin menjadi manusia produktif, Anda tidak boleh merasa sepi di dalam. Sepi itu mencekam, bahkan menyiksa. Sepi itu berbahaya, non-produktif. Dan sepi itu adalah kondisi di ?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="207" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; dalam, bukan &lt;st1:data context="Yang mau saya bilang: apabila Anda ingin menjadi manusia produktif, Anda tidak boleh merasa sepi di dalam. Sepi itu mencekam, bahkan menyiksa. Sepi itu berbahaya, non-produktif. Dan sepi itu adalah kondisi di dalam, bukan di ?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="223" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; luar. Bisa saja &lt;st1:data context="Yang mau saya bilang: apabila Anda ingin menjadi manusia produktif, Anda tidak boleh merasa sepi di dalam. Sepi itu mencekam, bahkan menyiksa. Sepi itu berbahaya, non-produktif. Dan sepi itu adalah kondisi di dalam, bukan di luar. Bisa saja di ???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="242" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; luar sangat meriah namun &lt;st1:data context="Yang mau saya bilang: apabila Anda ingin menjadi manusia produktif, Anda tidak boleh merasa sepi di dalam. Sepi itu mencekam, bahkan menyiksa. Sepi itu berbahaya, non-produktif. Dan sepi itu adalah kondisi di dalam, bukan di luar. Bisa saja di luar gegap gempita, namun di ??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="271" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; dalam sangat sepi. Terlebih bila &lt;st1:data context="Yang mau saya bilang: apabila Anda ingin menjadi manusia produktif, Anda tidak boleh merasa sepi di dalam. Sepi itu mencekam, bahkan menyiksa. Sepi itu berbahaya, non-produktif. Dan sepi itu adalah kondisi di dalam, bukan di luar. Bisa saja di luar gegap gempita, namun di dalam sepi. Terlebih bila di ???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="300" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; luar &lt;st1:data context="Yang mau saya bilang: apabila Anda ingin menjadi manusia produktif, Anda tidak boleh merasa sepi di dalam. Sepi itu mencekam, bahkan menyiksa. Sepi itu berbahaya, non-produktif. Dan sepi itu adalah kondisi di dalam, bukan di luar. Bisa saja di luar gegap gempita, namun di dalam sepi. Terlebih bila di luar juga ?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="308" language="0" st="on"&gt;juga&lt;/st1:data&gt; sepi, &lt;st1:data context="Yang mau saya bilang: apabila Anda ingin menjadi manusia produktif, Anda tidak boleh merasa sepi di dalam. Sepi itu mencekam, bahkan menyiksa. Sepi itu berbahaya, non-produktif. Dan sepi itu adalah kondisi di dalam, bukan di luar. Bisa saja di luar gegap gempita, namun di dalam sepi. Terlebih bila di luar juga sepi, di ????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="319" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; dalam bisa amat sangat sepi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Sekarang, soal &lt;st1:data context="Sekarang, soal yang ??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????: bagaimana agar di dalam selalu meriah meski di luar sungguh amat sepi?" startpos="16" language="0" st="on"&gt;yang&lt;/st1:data&gt; ingin kita jawab ialah: Bagaimana &lt;st1:data context="Persoalan kita jadi mudah dirumuskan: bagaimana agar ???????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="49" language="0" st="on"&gt;agar&lt;/st1:data&gt; &lt;st1:data context="Persoalan kita jadi mudah dirumuskan: bagaimana agar di ????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="54" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; dalam selalu meriah meskipun &lt;st1:data context="Sekarang, persoalan kita jadi mudah dirumuskan: bagaimana agar di dalam selalu meriah meski di ??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="93" language="0" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; luar sangat sepi? Saya mau usulkan empat saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pertama, mari merenungkan firman Tuhan. Anjuran ini berasal dari Mz 1: 2-3 “...&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” Buat saya ini berarti membiarkan firman Tuhan memimpin imajinasi, mengisi cita-cita, mencuatkan inspirasi, dan memenuhkan hati kita. Jika tekun melakukannya maka firman itu menjadi hayat, sikap, rasa, dan emosi yang meluap menjadi sukacita. Ramai bukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kedua, mari menaikkan kidung. Hati manusia sering gonta-ganti dilanda berbagai mood, termasuk yang sepi, lesu, down, atau negatif. Jika dibiarkan maka mood-mood buruk ini akan merajai hati Anda dan Anda pun kehilangan kebahagiaan yang wajar. Usirlah mood-mood buruk itu bagai sinar matahari mengusir kegelapan. Caranya: menyanyilah. Tak perlu pakai musik. Pilih satu dua kidung yang asyik buat Anda. Hafal dan nyanyikan tiga empat kali, niscaya emosi Anda segera terbawa, hati Anda akan menjadi the singing heart dan jiwa Anda menjadi the happy soul.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Ketiga, mari berpikir antusias tentang sebuah visi, tujuan, atau target yang hebat. Betapa miskin pun kita, betapa kecil, atau betapa bodoh pun kita, jauh di lubuk hati, kita semua punya mimpi, punya cita-cita, atau punya harapan yang agung. Kejarlah itu. Percayalah, itu bisa tercapai. Yakinlah, Anda pantas utuk itu hanya karena satu sebab: Anda diciptakan serupa dan seturut dengan gambar Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Keempat, menukiklah ke interior pekerjaan Anda. Jangan menganggur sebab itu tidak baik. Tapi sibukkan diri Anda dengan suatu pekerjaan yang berguna. Tak ada pekerjaan yang hina jika ia Anda tujukan demi kebaikan. Lalu tenggelamlah dalam pekerjaan itu bagaikan orang yang masuk ke ruang terdalam dari suatu ruang pamer lukisan. Anda akan menyaksikan keindahan, kemeriahan, dan keasyikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6094835270482417539-834459331986957910?l=jansen-sinamo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/feeds/834459331986957910/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6094835270482417539&amp;postID=834459331986957910' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/834459331986957910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6094835270482417539/posts/default/834459331986957910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jansen-sinamo.blogspot.com/2008/11/sepi-di-luar-meriah-di-dalam.html' title='SEPI DI LUAR MERIAH DI DALAM'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17409901844739673818</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SR1gGZF2pCI/AAAAAAAAAhU/09jUMYIAf2Q/s72-c/kolom.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6094835270482417539.post-4547254958006204482</id><published>2007-01-14T03:21:00.000-08:00</published><updated>2008-11-14T03:23:23.775-08:00</updated><title type='text'>MATA BARU SEMANGAT BARU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SR1fijDHdgI/AAAAAAAAAhM/kdZIiCEkoqo/s1600-h/kolom.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sDOvG1QwyNo/SR1fijDHdgI/AAAAAAAAAhM/kdZIiCEkoqo/s200/kolom.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268472186221852162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Oleh &lt;st1:data context="Oleh Jansen ?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" startpos="6" language="0" st="on"&gt;Jansen&lt;/st1:data&gt; H. Sinamo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Tengah Juni lalu saya &lt;st1:data language="0" startpos="18" context="Minggu lalu saya ke ????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" st="on"&gt;ke&lt;/st1:data&gt; Balige, &lt;st1:data language="0" startpos="44" context="Pertengahan Juni 2007 lalu saya ke Balige, kota ?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" st="on"&gt;kota&lt;/st1:data&gt; kecil &lt;st1:data language="0" startpos="55" context="Pertengahan Juni 2007 lalu saya ke Balige, kota kecil di ????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" st="on"&gt;di&lt;/st1:data&gt; ujung tenggara Danau Toba. &lt;st1:data language="0" startpos="75" context="Tengah Juni lalu saya ke Balige, kota kecil di ujung tenggara Danau Toba. Kami memperingati 100 tahun gugurnya Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, yang tewas pada 17 Juni 1907. Sebagai mantan Sekjen Yayasan PP Danau Toba dulu saya kerap bolak-balik ke danau ini. Namun kunjungan kali ini sangat berbeda. Dulu saya melihat danau ini dengan mata lingkungan. Kini saya melihatya dengan mata sejarah." st="on"&gt;Kami&lt;/st1:data&gt; memperingati 100 tahun gugurnya Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, &lt;st1:data language="0" startpos="159" context="Pertengahan Juni lalu saya ke Balige, kota kecil di ujung selatan Danau Toba. Saya ikut memperingati 100 tahun gugurnya pahlawan nasional Sisingmangaraja XII yang ??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" st="on"&gt;yang&lt;/st1:data&gt; &lt;st1:data language="0" startpos="164" context="Pertengahan Juni lalu saya ke Balige, kota kecil di ujung selatan Danau Toba. Saya ikut memperingati 100 tahun gugurnya pahlawan nasional Sisingmangaraja XII yang tewas ????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" st="on"&gt;tewas&lt;/st1:data&gt; pada 17 Juni 1907. Sebagai mantan Sekjen Yayasan &lt;st1:data language="0" startpos="216" context="Tengah Juni lalu saya ke Balige, kota kecil di ujung tenggara Danau Toba. Saya mau memperingati 100 tahun gugurnya Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, yang tewas pada 17 Juni 1907. Sebagai mantan Sekjen Yayasan PP Danau Toba dulu saya kerap bolak-balik ke danau ini. Namun kunjungan kali ini sangat berbeda. Dulu saya datang dengan mata lingkungan. Kini saya datang dengan mata sejarah." st="on"&gt;PP&lt;/st1:data&gt; Danau Toba saya dulu kerap bolak-balik &lt;st1:data language="0" startpos="298" context="Pertengahan Juni lalu saya ke Balige, kota kecil di ujung selatan Danau Toba, dalam rangka memperingati 100 tahun gugurnya Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, yang tewas di ujung bedil Belanda pada 17 Juni 1907. Sebagai mantan Sekjen Yayasan Perhimpunan Danau Toba dulu saya kerap bolak-balik ke danau ini." st="on"&gt;ke&lt;/st1:data&gt; danau ini. Namun kunjungan &lt;st1:data language="0" startpos="328" context="Pertengahan Juni lalu saya ke Balige, kota kecil di ujung selatan Danau Toba, dalam rangka memperingati 100 tahun gugurnya Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, yang tewas di ujung bedil Belanda pada 17 Juni 1907. Sebagai mantan Sekjen Yayasan Perhimpunan Danau Toba dulu saya kerap bolak-balik ke danau ini. Namun kunjungan kali ini beda ???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????" st="on"&gt;kali&lt;/st1:data&gt; ini berbeda. Dulu saya melihat danau ini dengan &lt;st1:data language="0" startpos="380" context="Pertengahan Juni lalu saya ke Balige, kota kecil di ujung selatan Danau Toba, dalam rangka memperingati 100 tahun gugurnya Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, yang tewas di ujung bedil Belanda pada 17 Juni 1907. Sebagai mantan Sekjen Yayasan Perhimpunan Danau Toba dulu saya kerap bolak-balik ke danau ini. Namun kunjungan kali ini beda banget. Kalau dulu saya datang dengan mata ????????????????????????????????????????????????????????" st="on"&gt;mata&lt;/st1:data&gt; lingkungan. &lt;st1:data language="0" startpos="371" context="Tengah Juni lalu saya ke Balige, kota kecil di ujung tenggara Danau Toba. Kami memperingati 100 tahun gugurnya Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, yang tewas pada 17 Juni 1907. Sebagai mantan Sekjen dan Ketua Yayasan PP Danau Toba dulu saya kerap bolak-balik ke danau ini. Namun kunjungan kali ini sangat berbeda. Dulu saya melihat danau ini dengan mata lingkungan. Kali ini saya melihatya dengan mata sejarah." st="on"&gt;Kali&lt;/st1:data&gt; ini saya melihatnya dengan &lt;st1:data language="0" startpos="388" context="Tengah Juni lalu saya ke Balige, kota kecil di ujung tenggara Danau Toba. Saya mau memperingati 100 tahun gugurnya Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, yang tewas pada 17 Juni 1907. Sebagai mantan Sekjen Yayasan PP Danau Toba dulu saya kerap bolak-balik ke danau ini. Namun kunjungan kali ini sangat berbeda. Dulu saya melihat danau dengan mata lingkungan. Kini saya melihatya dengan mata sejarah." st="on"&gt;mata&lt;/st1:data&gt; sejarah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Dengan &lt;st1:data language="0" startpos="8" context="Dengan mata " st="on"&gt;mata&lt;/st1:data&gt; lingkunganhidup saya tak putus takjub dengan fenomena Danau Toba. &lt;st1:data language="0" startpos="71" context="Dengan mata lingkungan saya selalu takjub dengan fenomena Danau Toba. Kata " st="on"&gt;Kata&lt;/st1:data&gt; geologi, danau ini terbentuk sekitar 75.000 tahun lalu tatkala gunung Toba meletus sambil menghamburkan 800 &lt;st1:data language="0" startpos="184" context="Dengan mata lingkungan saya selalu takjub dengan fenomena Danau Toba. Kata geologi, danau ini terbentuk sekitar 75.000 tahun lalu tatkala gunung Toba meletus dengan menghamburkan 800 km kubik material ke angkasa. Bandingkan dengan gunung St. Hellens, Pinatubo, dan Tambora yang masing-masing cuma melontarkan 0.2, 4 , dan 20 km kubik saja. Ledakan gunung Toba adalah letusan terdahsyat (mega eruption) yang pernah terjadi di Bumi. Kaldera yang ditinggalkannya menjadi danau raksasa. Sekitar 10.000 tahun kemudian, magma dari perut Bumi yang terus mendorong, tak sanggup lagi bikin ledakan, dan mendongkrak batuan menggembung di atas permukaan danau: itulah pulau Samosir. Puluhan ribu tahun selanjutnya bekas-bekas ledakan itu hilang lenyap oleh tutupan hutan dan berganti menjadi situs lingkungan yang biru, hijau, subur, dan cantik. Konon, di sekitar abad ke-15, serombongan manusia merambah naik ke wilayah ini, bermukim di sana, dan menjadi sebuah masyarakat yang disebut orang Batak. Saya selalu mensyukuri temuan alam para nenek moyang ini yang melahirkan jutaan putra-putri Batak, termasuk Sisingamangaraja. Dan juga saya." st="on"&gt;km&lt;/st1:data&gt; kubik &lt;st1:data language="0" startpos="183" context="Dengan mata lingkungan saya selalu takjub dengan fenomena Danau Toba. Kata geologi, danau ini terbentuk tatkala 75.000 tahun lalu gunung Toba meletus dengan melemparkan 800 km kubik materi
